Jawaban Pertanyaan Q-2 (Dra. Hj. Ida. Fauziyah) / Fraksi PKB DPR (2004-2009): “Pemberdayaan Perempuan : Antara Kebijakan Pemerintah dan MDGs”

http://www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Tulisan ini pernah dimuat dalam

http://www.visi-tokoh-peduliperempuan.blogspot.com

(Jumat, 16 Januari 2009)

 

 

Jawaban Pertanyaan 1 :

Menurut saya, kita semua harus mengakui bahwa termarjinalkannya perempaun yang diakibatkan oleh struktur dan kultur yang berlangsung lama itu telah membentuk karakter dan mental perempuan dalam posisi yang tidak setara dengan kaum laki-laki. Karena itu ketika kran kebebasan di era reformasi terbuka, ada semacam “ketidaksiapan” dalam mengisi panggung keterbukaan itu.

Ibaratnya orang lomba lari, posisi start perempuan itu berada pada posisi orang yang belum melakukan pemanasan setelah sekian puluh tahun jarang melakukan latihan olahraga. Jadi begitu peluit tanda mulai berlari dibunyikan, kaum perempuan harus melakukan penyesuaian terlebih dulu dengan pelari laki-laki yang sudah terbiasa dengan olahraga ini.

Terkait dengan kuota 30 persen calon anggota legislative bagi saya itu merupakan hutang peradaban yang harus dibayar. Jadi ini bukan persoalan siap atau tidak siap. Negara, masyarakat memiliki kewajiban mendorong terwujudnya keseimbangan keterwakilan perempuan, terutama pada proses-proses pengambilan keputusan.

Affirmative action sudah dimulai diakomodir ketika perubahan undang-undang politik dari UU No. 31 tahun 2003 menjadi UU No. 2 tahun 2008, dan Perubahan UU No. 12 tahun 2003 menjadi UU N. 10 tahun 2008 dan tersirat harapan bahwa hasil pemilu 2009 akan banyak menghadirkan perempuan di legislative. Tapi kemudian muncul kekhawatiran yang kuat akankah semua harapan itu bisa terwujud ketika Mahkamah Konstitusi membatalkan pasal 214 UU No. tahun 2008 yang berarti bahwa penentuan caleg berdasarkan suara terbanyak.

Rumusan pasal 55 UU No. 10 tahun 2008 yang menempatkan perempuan pada nomor “cantik” karena satu diantara tiga caleg itu harus perempuan, itu menjadi tidak berarti dan berarti pula tidak ada lagi affirmative action buat perempuan. Perempuan harus bersaing keras dengan caleg laki-laki yang pada umumnya lebih siap dibandingkan perempuan.

Jawaban Pertanyaan II :

Menurut saya setidaknya ada dua jalur yang harus sinergis diantara level suprastruktur politik dan level social kemasyarakatan. Pada level supratruktur politik ada banyak pilihan, diantaranya :

  1. Mendesak partai politik dan lembaga-lembaga/ormas lainnya untuk mendukung dan mengakomodir perempuan.
  2. Mensupport perempuan yang telah duduk dalam posisi-posisi startegis pembuat keputusan partai.
  3. Membuat jaringan kerja sama antara kelompok-kelompok perempuan baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

  4. Mendesak pemerintah dan lembaga-lembaga formal negara lainnya untuk mendukung angka strategis untuk perempuan

 

Sementara pada level sosial kemasayarakatan point pentingnya diantaranya;

  1. Memberikan nilai/pandangan kepada lingkungan masyarakat dan keluarga sejak dini, tentang pentingnya peran perempuan dalam politik

  2. Mensosialisasikan pentingnya partisipasi politik perempuan dalam pembuatan keputusan politik kepada masyarakat dan keluarga.

  3. desakralisasi budaya panggung politik yang patriarkhis dan mendorong perempuan untuk berani mengisi jabatan-jabatan strategis dalam politik

  4. peningkatan kualitas SDM kaum perempuan melalui pelatihan-pelatihan dan kegiatan pemberdayaan lainnya.

 

 

Jawaban Pertanyaan III :

 

Saya pikir dalam pola hubungan pusat dan daerah terkait program PNPM Mandiri & GPP kuncinya adalah komunikasi dan sosialisasi. Komunikasi dan sosialisasi diperlukan agar daerah merasa ikut memiliki. Meski program ini diinisiasi oleh pemerintah pusat tetap diharapkan pemerintah daerah bisa berkreasi dengan program-program pemberdayaan dan tidak hanya terfokus pada pembangunan infrastruktur fisik saja sebagaimana laporan kunker komisi II ke Jawa Timur bulan November 2008 kemarin.

 

Jawaban IV :

 

Harus diakui bahwa efek dari krisis keuangan global sedikit banyak akan mempengaruhi pencapaian target MDGs di tahun 2015. Namun bagi saya, sulit dan tidaknya pencapaian target MDGs, khususnya dalam konteks gender empowerment, sangat tergantung pada tekad dan kemauan kita sebagai bagian dari masyarakat yang menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik. Dengan proses pemberdayaan kaum perempuan yang sedang berlangsung dengan capaian peningkatan tiap tahunnya, baik dari segi keberhasilan pencapaain legislasi yang pro-perempuan maupun semakin tingginya kesadaran kaum perempuan, saya optimistis bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi perempuan untuk menggapainya.

 

Jawaban V :

 

Terkait UU BHP, saya mengapresiasi atas ketentuan Pasal 46 yang menyebutkan adanya kewajiban bagi BHP untuk menjaring dan mengalokasikan beasiswa bagi WNI yang memiliki potensi akademik dan kurang mampu secara ekonomi sekurang-kurangnya 20% dari jumlah keseluruhan peserta didik.

 

Pasal ini merupakan langkah positif dan harus didukung oleh semua pihak sebagai bagian untuk melakukan pemerataan pendidikan. Tentunya ini harus dibarengi ketegasan aparat penegak hukum untuk menindak BHP yang tidak melaksanakan ketentuan ini (Pasal 62).

 

Tentang kekhawatiran komersialisasi dan liberalisasi lembaga pendidikan, khususnya terkait Pasal 42 yang menyebutkan BHP dapat melakukan investasi dalam bentuk portofolio dan mendirikan suatu badan usaha dengan modal paling banyak 25% dari seluruh kekayaan neto BHP, maka saya berpendapat, perlu ada kehati-hatian dalam menjalankannya. Perlu diatur secara cermat, efektif, efisien dan dikelola secara profesional. Jangan sampai hal ini akan menghilangkan fungsi dan tujuan didirikannya BHP. Ini penting, karena kalau gagal dalam melakukan investasi dan usaha, maka yang dirugikan adalah peserta didik. Terlebih dalam UU ini tidak ada sanksi apapun yang mengatur apabila mengalami kerugian.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: