Dalam Menjajaki Koalisi, Semua Tokoh Ingin jadi Calon Presiden (KLIPING-KOALISI 2)

KLIPING-KOALISI 2

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

 

Dalam Menjajaki Koalisi,

Semua Tokoh

Ingin jadi Calon Presiden

 

JAKARTA, Kompas, 8-4-2004

Manuver tokoh dan partai politik untuk saling menjajaki koalisi dalam pemilihan presiden makin marak. Hebatnya, sejauh ini belumada satu pihak pun yang ingin berkoalisi dengan memosisikan diri sebagai orang kedua atau wakil presiden. Semuanya menempatkan dirinya sebagai calon presiden dan menganggap mitra koalisinya sebagai calon wakil presiden.

Susilo Bambang Yudhoyono, calon presiden dari Partai Demorat, menyatakan walaupun kemungkinan koalisi partai politik (parpol) bisa berubah setiap saat, pihaknya menempatkan Megawati Soekarnoputri. Akbar Tandjung, dan Amien Rais sebagai pesaing dalam pemilihan presiden mendatang.

Yudhoyono bahkan menyatakan, meskipun tidak memandang ketiga tokoh itu sebagai musuh, sulit bagi dirinya untuk berkoalisi dengan salah satu dari mereka. Pernyataan itu dikemukakan Yudhoyono berulang-ulang sesaat setelah pemilihan umum (pemilu) legislatif 5 April 2004 di Bogor dan hari Selasa lalu setelah mengetahui bahwa perolehan suara sementara Partai Demokrat tergolong cukup tinggi.

Dengan Megawati, Yudhoyono melihat ada masalah politik belakangan ini. ”Tidak ada permusuhan di antara kami. Tetapi saya sulit membayangkan Megawati, Taufik Kiemas, dan orang-orang di lingkaran dalamnya berkoalisi dengan saya. Megawati, Akbar Tandjung, maupun Amien Rais tidak saya pandang sebagai musuh. Mereka adalah pesaing saya secara sehat dalam demokrasi,” katanya.

Yudhoyono mengaku tidak akan mampu berjalan sendiri bersama Partai Demokrat untuk pencalonan presiden. Itu sebabnya dia melakukan komunikasi politik lebih intens untuk berkoalisi dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan komunikasi informal dengan tokoh Partai Golkar.

 

Gus Dur pun mau presiden

 

Namun, rapat pimpinan terbatas Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Selasa malam memutuskan, jika harus berkoalisi, PKB masih memproyeksikan Yudhoyono sebagai calon wakil presiden mendampingi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sesuai dengan hasil Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) PKB Mei 2003.

Wakil Ketua Umum Dewan Tanfidz Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PKB Moh Mahfud MD kemarin menjelaskan, dalam rapat yang dipimpin Ketua Dewan Syuro DPP PKB KH Abdurrahman Wahid itu dibahas soal hasil pemilu apa strategi PKB ke depan.

”Tadi malam kami belum bicara orang. Jadi kalau ditanya soal Yudhoyono tadi malam, tidak ada keputusan. Sikap kami masih mengacu pada mukernas lalu bahwa dia adalah calon wapres,” tuturnya.

Secara pribadi, Mahfud berpendapat, Yudhoyono adalah simbol baru kaum nasionalis. Namun, munculnya fenomena Partai Demoktrat hanyalah gejala psikologis, bukan riil politik. ”Jadi agak berat bagi dia untuk maju sebagai capres tanpa kompromi besar-besaran. Kami mau lihat kompromi apa yang ditawarkan Yudhoyono,” katanya.

Tentang peluang Yudhoyono menjadi calon presiden (capres) dari PKB, Mahfud mengatakan, ”Kalau Gus Dur berubah lalu tidak mau, kami harus mengubah posisi. Tetapi kemungkinan itu kecil.”

 

Amien Rais juga capres

 

Dari pihak Amien Rais, sejauh ini juga belum ada pergeseran target untuk menjadi capres. ”Pak Amien dalam tiap negosiasi dengan parpol lain tidak pernah membicarakan kemungkinan sebagai calon wapres,” ujar Ketua Amien Rais for President, Bambang Sudibyo, ketika dihubungi Rabu.

Sebelum pemilu 5 April, Amien Rais sudah berkali-kali dengan Yudhoyono. Namun, setelah pemilu memang belum ada lagi pertemuan. Pertemuan Amien dan Yudhoyono memang baru untuk menskor dan kemungkinan membentuk paket capres dan calon wakil presiden (cawapres). ”Dan Pak Amien selalu dalam posisi calon presiden,” ujar Bambang.

 

Presiden pemenang pemilu

 

Ketua Umum DPP Partai Golkar Akbar Tandjung menegaskan, bagi Partai Golkar konsep koalisi ditentukan oleh sejauh mana partai politik (parpol) lain menanggapi opsi-opsi yang ditawarkan Golkar. Memang dengan melonjaknya perolehan suara Partai Demokrat, Akbar pun tertarik untuk menggandeng Yudhoyono. ”Koalisi Partai Golkar dengan Partai Demokrat sangat terbuka,” katanya, kemarin.

Namun Akbar juga menyatakan, jika Partai Golkar memenangi pemilu legislatif, Partai Golkar juga akan memperjuangkan kursi presiden. ”Kalau kami menjadi pemenang, tentu kami memiliki kepercayaan diri meraih kedudukan presiden,” ucapnya.

 

Hamzah tetap maju

 

Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Hamzah Haz juga akan tetap maju sebagai capres mendatang. Majunya Hamzah dan pasangannya bisa dilakukan jika hasil perolehan suara PPP cukup. Jika tidak memenuhi syarat, PPP akan melakukan koalisi agar punya dukungan cukup untuk tetap maju sebaga capres. ”Jika Hamzah tidak maju, kami dihardik pemilih PPP. Konstituen PPP akan marah dan merasa dibohongi,” ujar Wakil Ketua Umum DPP PPP Alimarwan Hanan.

 

Tunggu majelis syuro

 

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hidayat Nur Wahid mengemukakan, pihaknya secara informal sudah menjalin komunikasi politik dengan berbagai parpol. Namun, komunikasi politik dilakukan bukan dalam arti untuk membicarakan power sharing atau sekadar berbicara soal kekuasaan, melainkan pembicaraan untuk menjajaki komitmen memperkuat komitmen untuk pembaruan.

Hidayat juga mengemukakan, PKS masih menunggu hasil final pemungutan suara pemilu legislatif. Jika perolehan suara mencapai 20 persen, PKS akan mencalonkan kader PKS sendiri sebagai presiden. ”Siapa yang akan dicalonkan, tergantung hasil musyawarah Majelis Syuro PKS,” katanya.

Jika perolehan suara PKS tidak mencapai 20 persen, PKS akan berkoalisi dengan partai-partai lain yang memenuhi kriteria, yaitu reformis, demokratis, Islami.

 

Mega masih berpeluang

 

Ketua Dewan Pendiri Center for Electoral Reform (Cetro) Todung Mulya Lubis menyatakan meskipun ada kecenderungan penurunan suara secara nasional, Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri masih mempunyai peluang untuk memenangi pemilihan presiden 5 Juli 2004.

”Namun, Megawati atau tim suksesnya harus secara cerdas memilih siapa yang akan mendampinginya sebagai calon wakil presiden,” ujarnya, Rabu. Lubis mengakui, jika suara PDI-P menurun, itu harus dibaca sebagai menurunnya kepercayaan terhadap PDI-P. Namun, kecenderungan perilaku pemilih Indonesia menarik.

Ada kecenderungan memilih Partai Demokrat bukan karena calon anggota legislatif (caleg) dan program partai itu yang memikat rakyat, tetapi semata-mata karena sosok Yudhoyono. Hal yang sama terjadi pada PDI-P dan Megawati. ”Bisa saja masyarakat protes terhadap PDI-P tetapi tetap akan memberikan suaranya ke Megawati. Namun, saat ini masih terlalu dini untuk bicara koalisi,” kata Lubis.

 

Koalisi PDI-P-Golkar

 

Menurut pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada, Riswandha Imawan, konstelasi politik yang akan terjadi pascapemilu legislatif ditentukan oleh keseriusan PDI-P dan partai Golkar melakukan koalisi. ”Jika Golkar bersedia memasangkan Jusuf Kalla dengan Megawati, peluang keduanya memenangi pemilu presiden sangat besar,” ujarnya, Selasa malam.

Sejauh ini belum jelas seperti apa keseriusan PDI-P bergabung dengan Golkar. Di satu sisi Megawati menyatakan tak mau menanggung beban Golkar, tetapi Taufik Kiemas, suami Megawati, mengatakan mau bergabung dengan Golkar. Di sisi lain, Akbar pun tidak akan begitu saja menyerahkan mahkota kepada Jusuf Kalla.

Pasangan yang dapat mengimbangi Megawati-Jusuf, menurut Riswandha, adalah Amien-Yudhoyono. Namun syaratnya, Yudhoyono harus didikung oleh PKB. Masalahnya, Gus Dur sendiri selain ingin menjadi presiden juga belum tentu bisa berbaikan dengan Amien Rais.

Persoalan lain adalah perolehan suara Partai Demokrat. ”Seandanya Partai Demokrat memiliki suara lebih besar dari Partai Amanat Nasional, apakah mungkin Amien Rais bersedia menjadi wapres buat Yudhoyono?” katanya.

Peluang pasangan Megawati-Hasyim Muzadi juga dinilai tidak terlalu ideal. Pasangan itu akan memicu Gus Dur dengan PKB-nya untuk mengusung Yudhoyono. ”kalau Gus Dur memajukan Yudhoyono berarti sudah mendapat 20 persen. Belum lagi dari swing voters. Ini bisa berbahaya,” ucapnya. (SUT/INU/BUR/MAM/BDM) 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: