Asal-Usil (Islam dan Ekonomi — Bagian Pertama) – (ISLAM-44)

ISLAM-44

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Asal-Usil

(Islam   dan   Ekonomi — Bagian Pertama)

 

Catatan Redaksi:

“Asal-Usil” ini pernah dimuat dalam http://forumsptn-indo-technoeconomic.blogspot.com pada tanggal  17 Agustus 2007.

 

 

Jika  teori  evolusinya  Charles  Darwin  kita  cangkokkan   pada  perkembangan  sosial-ekonomi  dunia, untuk  tidak  menyebut  “ideologi  dunia”  [karena  tokoh  mazhab   Frankfurt, Theodore  Adorno  (1903 – 1969), menolak   ideologisasi  filsafat], bukankah   tulisan   di   atas    sudah   tidak   relevan   lagi?   Bukankah   apa   yang   digambarkan   oleh   penulis   (Sayid   Mujtaba)  tentang   kapitalisme, kini   telah   direnovasi   secara   lebih   beradab   menjadi   kapitalisme   lanjut   (late-capitalism)  yang   bekerja   secara   kultural   dan   humanistik  untuk   memenangkan   persetujuan   kelas   pekerja?   Apakah   kita  harus  menutup   mata  dengan  penerapan   the   compassionate   capitalism  (“kapitalisme  yang  penuh  belas  kasih”  atau   “kapitalisme  yang  berperikemanusiaan”), di  mana  para  buruh  dijamin  kesejahteraannya  dan  mendapatkan  asuransi  kerja, atau  bahkan  rakyat  banyak  diberi  peluang  sebesar-besarnya  untuk  membeli  saham-saham  di   berbagai   perusahaan  yang   dijual  pada  bursa  saham?  Juga, apakah pantas kita pungkiri manfaat besar yang diberikan sejumlah perusahaan kapitalis melalui program “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan” (Corporate Social Responsibility / CSR)?   Bukankah  prinsip   “ekonomi  pasar” — yang  dianut   oleh  kapitalisme  (neoliberalisme) — inherent   dengan  kehidupan  manusia   itu   sendiri  atas  dasar  pertimbangan  bahwa  (antara  lain)  dalam  pasar  tradisional   atau   pasar   primitif   pun   ada   “kompetisi”   seperti   yang   berlaku   pada   ekonomi   pasar bebas (harap dibedakan dengan  “ekonomi pasar  sosial”)  saat   ini?  Bahwa   ada  ketimpangan   ekonomi   antara  negara-negara   maju   (Amerika   Serikat, Uni  Eropa, dan   Jepang) dan  negara-negara   Dunia  Ketiga, seperti   kita  saksikan   dari  perdebatan  dua   kubu   tersebut   dalam   pertemuan   WTO  (World   Trade   Organization)  di   Cancun  (Meksiko)  pada   pertengahan   September  2003  lalu, bukankah  hal  itu  lebih  bersifat   teknis  sehingga  masih  bisa  dicarikan  titik   temunya? 

     Oleh karena itu, tidakkah   kualitas  keilmiahan   kita  akan  menjadi  merosot   jika   ngotot   mempersamakan   teori   kapitalisme   klasik  (yang  digagas   oleh   Adam   Smith   lewat   bukunya:  The   Wealth   of   Nations — 1776) dengan   prinsip   ekonomi   neoliberalisme   yang   (konon) semakin   humanistik?

***

      KEMUDIAN, tentang  komunisme, kita  sepakat  bahwa  ideologi   itu  sudah   mati.  Bahkan, jauh  sebelum  bubarnya Uni  Sovyet, Imam  Khomeini   telah  menyatakan  kepada  utusan  Presiden  Gorbachev   yang   datang   menemui   beliau, bahwa   komunisme   akan   segera   masuk   museum   sejarah.

     Memang tulisan ini (Islam dan Ekonomi)  dibuat sebelum runtuhnya Uni Sovyet.  Tetapi, yang  mengherankan, dalam mengkritik sosialisme, mengapa hanya gagasan Lenin yang disoroti?  Bukankah Leninisme telah dikritik secara tajam oleh Antonio Gramsci, Andre Gunder Frank, Paul Baran, dan Rosa Luxemburg?  Sebagaimana diketahui, meskipun mereka adalah pemikir-pemikir (pejuang-pejuang) beraliran sosialis, namun sosialisme mereka adalah sosialisme yang humanistik dan tidak bengis.

      Lalu, seandainya penulis (Sayid Mujtaba) mau membuat lagi tulisan tentang sosialisme, bagaimana pula kejujurannya dalam menyikapi gagasan Anthoni Giddens tentang  “Sosialisme Demokrat” (yang diungkapkan dalam bukunya: The Third Way — 1999) yang sangat brilian itu?  Memang betul praktik ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) — dalam pengertian lahir dan batin — telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW melalui masyarakat madani (civil  society)  yang dibentuk oleh beliau.  Tetapi, mengapa masyarakat seperti itu sulit diwujudkan oleh ummat saat ini?  Dalam aspek kesejahteraan saja, negara-negara Muslim jauh tertinggal dari yang non-Muslim, misalnya negara-negara Skandinavia.  Negara-negara ini (Skandinavia) menjadikan  “koperasi”  sebagai pilar utama yang menopang pembangunan ekonominya.

      Sementara itu, negara-negara  Muslim  dengan  bangganya memperkokoh pilar ekonomi konglomerasi — yang dikuasai oleh segelintir orang — untuk mendukung konstruksi ekonomi nasional.  Padahal praktik berkoperasi lebih mendekati pengamalan ayat Al-Qur’an: “Dan tolong-menolonglah (bergotong-royonglah) kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu bergotong–royong dalam kejahatan dan permusuhan.” (QS 5 : 2).  Bukankah akumulasi modal pada segelintir orang (konglomerat berkerah biru beserta para konconya yang bercokol di berbagai institusi negara) akan menciptakan permusuhan dan kesenjangan sosial?

      Bisa saja ummat Islam menuding mereka (yang non-Muslim) tidak bertakwa, tetapi mereka bisa membela diri bahwa mereka telah banyak berbuat kebajikan, antara lain melalui karya-karya teknologi dan ilmu pengetahuan yang juga dimanfaatkan oleh ummat Islam.  Lalu, pantaskah karya-karya itu dikatakan sebagai bentuk  “kesalehan sosial”?   Sebaliknya, ummat Islam yang mengklaim diri mempraktikkan  “kesalehan  ritual”, mana wujud  “kesalehan sosial” mereka?

***

      DIHADAPKAN pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, ummat Islam bisa saja berapologi dengan menggunakan argumen  (hujjah): “Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun” (QS 24 : 39).  Tetapi, bagaimana kita memaknai ayat ini: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan) nya” (QS 6 : 57)?  Bukankah yang berhak menimbang kebaikan dan keburukan hanyalah Allah SWT (QS 6 : 57)?

      Bisa saja mereka balik menuding ummat Islam dengan mengutib ayat berikut: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS 61 : 3), seraya membela diri:  bukankah kami telah berpartisipasi dalam menunaikan perintah Tuhan untuk memakmurkan bumi ini (QS 11 : 61)?  Lagi pula, kalian ummat Islam, bagaimana mau menegakkan keadilan (QS 16 : 90) — misalnya  “keadilan ekonomi” — jika dalam masyarakat kalian tidak terjadi pertumbuhan ekonomi yang spektakuler?  Apa yang mau dibagi (didistribusikan) — dalam rangka penciptaan struktur ekonomi yang berkeadilan — jika untuk mencicil bunga utang luar negeri saja tidak terpenuhi?  Lebih menyakitkan lagi jika mereka lancang mengutib Hadits Nabi Muhammad SAW:  “Kemiskinan mengakibatkan kekufuran.”  Maka, atas dasar itu, dalam praktiknya mereka justru bergerak semakin dekat ke arah  maqam  ketakwaan, tanpa harus terperangkap dalam kerangkeng pengkultusan simbol-simbol formal keagamaan.

***

     RENTETAN  peluru-peluru pembelaan yang bernada hujatan itu akan semakin mengoyak kalbu jika dimuntahkan lagi satu peluru eksekusi: “Bagaimana kalian (ummat Islam) bisa meraih kebahagiaan di akhirat kelak jika di dunia tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi?”

“Dan barangsiapa di sini (dunia) buta (tidak berilmu),

maka di akhirat nanti buta pula dan lebih sesat lagi jalannya.”

(QS 17 : 72)

***

       AKHIRNYA, dengan pongah mereka bisa saja mengatakan: Sudahlah, daripada saling menyalahkan, lebih bijak jika kita bersama-sama melakukan kegiatan-kegiatan konstruktif yang bersifat  win-win solution  untuk kemaslahatan bersama sesuai dengan pesan Al-Qur’an (QS 5 : 2).      Silahkan ummat Islam mengklaim pemegang otoritas keimanan, tetapi secara jujur merekapun berhak mengklaim kepemilikan saham ilmu pengetahuan, di mana keduanya mulia di mata Allah.

“ …… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman

di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS 58 : 11)

***

      IDEALNYA, kedua sumber daya (keimanan dan penguasaan ilmu pengetahuan) menyatu dalam diri ummat Islam atau — kalau diizinkan — juga non-Islam.  Tetapi, sudahlah, karena realitasnya terdistribusi seperti itu, maka yang diperlukan adalah bagaimana mengsinergikan atau menarik resultan gaya untuk dimanfaatkan sebagai pembentuk  “energi atau usaha bersama”. (Dalam fisika mekanika diketahui bahwa  “energi atau usaha adalah hasil multiplikasi gaya dengan jarak yang ditempuh”).  Bukankah segala sesuatu di alam semesta ini (termasuk keimanan dan ilmu pengetahuan) adalah milik Allah SWT (QS 29 : 20)?  Dan karena pengamalan atas keimanan dan ilmu pengetahuan itu adalah wujud dari kebenaran, maka keduanya pasti bersumber dari Allah SWT.

“Kebenaran itu dari Tuhan, maka janganlah kamu

termasuk orang-orang yang ragu.”

(QS 3 : 60)

      “Kebenaran merupakan ketersingkapan (aletheia  atau  tajalli) Sang ‘Ada’ (baca: Tuhan),” begitu kata Martin Heidegger (filsuf Jerman)

.

***

      KONSEKUENSI lebih lanjut dari wacana yang agak vulgar seperti digelar di atas, bagaimana jika ideologi neoliberalisme atau globalisasi [tanpa harus terjebak pada Amerikanisasi atau kooptasi logika industri yang menjelma menjadi budaya massa dengan bekerja melalui penyeragaman selera dan pelenyapan individualitas atau eksistensi kelompok-kelompok masyarakat (kebudayaan)] dicarikan pembenarannya dalam ayat berikut:

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.”

(QS 24 : 35)

      Bagaimana   jika  “globalisasi”  ditafsirkan  sebagai  salah  satu  bentuk  proyeksi  cahaya  yang  menerpa  layar  lebar   langit  dan  bumi, dan  tugas  manusia  adalah  berakting  sesuai  dengan  tuntutan   Pembuat   grand   scenario  (Pemberi  cahaya)?  Dengan  begitu, manusia  bebas  berimprovisasi   (berakting), tetapi  tidak  mengabaikan  nilai-nilai  keadilan, etika,  dan  humanisme  universal  demi  keteraturan   hidup  mereka.

      Lalu, bagaimana  pula  kita  menanggapi  jika  muncul  usulan  berikut: Neoliberalisme  dan  Sosialisme  (sosialisme  demokrat  atau  sosialisme   relijius)  merupakan  keniscayaan  karena  mereka  bergerak  atau  mengalir  melintasi  alur  sungai  alamiah  yang  bermuara  pada  “globalisasi”(suatu  istilah  yang  dipopulerkan  oleh  Anthony  Giddens).  Bukankah  tugas  kita  tinggal  melarutkan  nilai-nilai  keadilan, etika, dan  humanisme  universal  ke  dalam  (muara)  “globalisasi”  itu?  Bukankah  terbitnya  UU  Antimonopoli dan rencana pembuatan Undang-Undang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan patut dipandang  sebagai bagian dari  implementasi  kecenderungan itu?

      Bagaimana  pula  kita  menanggapi  jika  ada  pemaknaan  versi  lain  (lihat  “kalimat  di   dalam   tanda   kurung”)  atas  ayat-ayat  berikut:

 

“Bagi  setiap  golongan  diantara  kamu  telah  Kami  tetapkan

suatu  cara  dan  jalan  hidup  (agama, ideologi, filsafat  dan  kebudayaan)

tertentu.  Sekiranya  Allah  menghendaki, niscaya  kamu  dijadikan-Nya

satu  ummat, tetapi  Allah  hendak  menguji  kamu  terhadap  pemberian-Nya

kepadamu, maka  berlomba-lombalah  berbuat  kebajikan.”

(QS  5 : 48)

“Sesungguhnya usahamu (ideologi, aliran filsafat, dan kebudayaan)

sangat beraneka-ragam.”

(QS 92 : 4)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang

perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku

(juga berbagai aliran ideologi,  filsafat, dan kebudayaan) supaya kamu saling

kenal-mengenal  (berinteraksi secara positif, produktif, dan konstruktif dalam bingkai  “globalisasi”).

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling

bertakwa (silahkan simak QS 3 : 13-14) — yakni orang-orang menafkahkan hartanya (bukan dengan memberi pinjaman atas dasar riba dan kebanggaan yang disertai gunjingan), baik di waktu

lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya (tidak menebarkan

teror dan militerisme) dan memaafkan sesamanya (yang tidak destruktif dan melakukan kejahatan struktural seperti Fir’aun).  Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

(secara proaktif melakukan hal-hal yang konstruktif, bukan pasrah kepada keadaan) —

di antara kamu.”

(QS 49 : 13)

“Berjalanlah  di muka bumi (tebarkanlah  rahmah  secara mengglobal),

maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari

 permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.”
(QS 29 : 20)

[**]

_______________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN).

2 Balasan ke Asal-Usil (Islam dan Ekonomi — Bagian Pertama) – (ISLAM-44)

  1. elfaridi mengatakan:

    salam kenal monggo kunjung keblog saya dn komen mas:)

  2. Rachmad mengatakan:

    Keren bgt atikelnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: