Islam dan Ekonomi – Bagian Pertama – Oleh Sayid Mujtaba Rukni Musawa Lari (Intelektual Iran) – (ISLAM-43)

ISLAM-43

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

Islam  dan  Ekonomi

Bagian  Pertama

 

Oleh:  Sayid  Mujtaba  Rukni  Musawa  Lari

(Intelektual  Iran)

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008) 

 

 

Manusia   senantiasa  bergumul  dengan  aneka  tugas  pengelolaan  sumber  daya  alam  dan  berusaha  menemukan  mata  pencaharian  dari  sana.  Pada  abad-abad  primitif, seperti  dikatakan  oleh  Aristoteles, kehidupan  mengorganisasikan  dirinya  secara  sosial   “untuk  memungkinkannya  bertahan  dan  lestari  dengan  baik”.  Pada  empat  abad  lalu  “ilmu  ekonomi”  dikembangkan  dari  peraturan-peraturan  yang  mengatur  hubungan  manusia  serta  pertukaran  barang  yang  berkembang  melalui  organisasi  sosial  ini.  Ketika  berhadapan  dengan  kemajuan  pesat  teknologi  dan  tingkat  kemakmuran, “ilmu  ekonomi”  tersebut  terpecah  menjadi  dua  kubu  yang  saling  berlawanan.

      Kubu  pertama  “kapitalisme”  atau  “usaha-usaha  bebas”  (free   enterprise) meyakini  bahwa  alam  akan  menempuh  jalur  berdasarkan  prinsip-prinsip  ekonomi, sehingga  pemenuhan  kebutuhan  pribadi  akan  memengaruhi  tercukupkannya  keperluan  pihak  lain, yang  kemudian  dapat  meningkatkan  keuntungan  atau  manfaat  bagi  semua.  Ini  merupakan  doktrin  yang  dianut  oleh  Blok  Barat.

      Kubu  lain, yakni  “komunisme”  (sosialisme), menganut   prinsip  bahwa  alat-alat  produksi  harus  dikontrol  oleh  negara  proletariat sehingga   pendapatan  atau  perolehan   atas  hasil  kerja  harus  dibagi  secara  sama  rata.

      Persaingan  untuk  meraih  pengaruh  di  antara  dua   ideologi   ini  melanda dunia modern (kendati, kini, komunisme telah terbenam dalam liang lahad — Penerjemah) yang mengancam laksana pedang Damocles.

      Kita patut bertanya kepada para pendukung marxisme, apakah   “masyarakat tanpa kelas”  yang  mereka perjuangkan itu dapat terbentuk  dengan ukuran tunggal  di mana alat-alat produksi bisa meningkatkan pendapatan dan melenyapkan kelas orang berpunya sementara dalam realitasnya keragaman kelas-kelas dalam masyarakat senantiasa ada sebagai akibat dari faktor-faktor non-ekonomi? 

      Bila dikatakan bahwa di Republik Sosialis Sovyet (kini telah bubar, Pen) tidak ada kelas borjuis, dengan mudah ditemukan kelas-kelas lainnya yang terbentuk berdasarkan jenis pekerjaan dan lingkungannya; misalnya kelas pekerja pabrik, petani, pramuniaga, dan sebagainya.  Dari situ muncul masalah, apakah seorang dokter — misalnya — harus menerima gaji yang sama besarnya dengan seorang buruh?   Atau, samakah gaji seorang pelaut dengan seorang insinyur?

      Masih banyak lagi perbedaan yang dapat disaksikan dalam realitas konkret, misalnya saja realitas Lenin itu sendiri.  Tentu saja, manusia harus dibedakan dari usia, jenis kelamin, perasaan, kecenderungan, kekuatan fisik, penampilan, kekuatan akal, gagasan, dan pandangannnya.  (Secara sosiologi, semua ini akan memengaruhi stratifikasi sosial — Pen).

      Seorang ahli ekonomi Sovyet menulis (“Economics”, Vol. 2, hal. 216): “Adalah mustahil menerapkan hak yang sama secara absolut (absolute  equality  right).  Bila kita menggaji profesor, peneliti, dan politisi benar-benar sama nilainya dengan pekerja kasar, hasilnya adalah penghapusan berbagai insentif atas segala jenis pekerjaan yang mengandalkan kerja otak.”

 

***

       DI  lain  pihak, kapitalisme  mengklaim  bahwa  hanya  dengan  usaha-usaha  swasta  dan  kepemilikan  pribadi, standar  hidup  layak  bagi  semua  kelas  dapat  ditingkatkan; dan  bahwa  perbedaan  antara  kaya  dan  miskin  akan  dapat  diperkecil.  Berlawanan   dengan  klaim  ini, perlu  dikemukakan  laporan  dari  suatu  penelitian  yang  disusun  oleh  Walter  Reuther, Presiden  Serikat  Pekerja  Mobil  Amerika  Serikat, dalam  kapasitasnya  sebagai  Ketua  “American  Society  to  Combat  Hunger”  (Masyarakat  Amerika  Pemberantas  Kelaparan).  Komite  ini  membenarkan  bahwa  sepuluh  juta  orang  Amerika  menderita  akibat  kurang  makan;  dan  selanjutnya  meminta  Presiden  Amerika  Serikat  (AS)  untuk  mengumumkan  bahwa  negara  dalam  keadaan  bahaya  di  256  kota, yang  terdapat  pada  20  negara  bagian;  dengan   penekanan   bahaya  tersebut  bersifat  darurat  (genting).  Komite  ini  menyebutkan  bahwa  penyebab  kurang  makan  merupakan  rentetan  dari  pengaruh  Perang   Dunia  II  yang  juga  berkaitan  dengan  sejumlah  masalah  ekonomi  dalam  negeri  AS.

      Menyusul  diterbitkannya hasil penelitian itu, Menteri  Pertanian  mengambil  langkah-langkah  ekstrim  untuk  membeli  bahan  pangan  dari  luar  negeri  dan  melakukan  pengumpulan  bahan  makanan  apa  saja  yang  bisa  didapatkan  untuk  mengatasi  ketimpangan  ini.

      Dari  kasus  tersebut, kita  patut  bertanya, seberapa  jauh  suatu  rezim  — apa  pun  klaim   ideologinya — berhasil  menciptakan  pemerataan  kelas-kelas, memperkecil   perbedaan  yang  ada  serta  membangun  masyarakat  yang  adil  dan  sejahtera?

 

***

     BAIK rezim sosialis maupun kapitalis mendasarkan sistemnya pada teori-teori yang mengabaikan nilai-nilai moral dan spiritual.  Tujuan dari setiap sistem tersebut adalah untuk meningkatkan kekayaan atau kemakmuran, tidak lebih dari ini.

 

***

     SEMENTARA itu, filsafat Islam menempatkan semua manusia sesuai dengan fitrahnya.  Ia menata perilaku dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat seraya menetapkan ketentuan-ketentuan kebajikan moral, kesempurnaan spiritual, dan standar hidup yang lebih tinggi.  Ini bukan berarti menyepelekan hal-hal yang bersifat material, tetapi acuan-acuan mental, spiritual, moral, mendahulukan kepentingan orang lain, atau kecintaan terhadap sesama memungkinkan terjaminnya kepentingan semua orang, dan mereka ini kemudian saling memberikan dukungan terhadap kepentingan masing-masing (to  live  each  for  all  and  all  for  each).

      Hukum Barat sangat mendukung hak-hak kepemilikan individu dan memberi preferensi bagi para kapitalis atas kaum pekerja.  Sedangkan hukum Sovyet (Sosialisme — Pen) memangkas semua hak-hak kepemilikan individu dan memberi preferensi bagi seluruh kelompok pekerja.  Kedua sistem tersebut hanya  semata didasarkan pada akal dan pendapat manusia. 

      Berlawanan  dengan  itu, Islam  didasarkan  pada  Wahyu  Ilahi.  Hukumnya  (Islam)  bukanlah  produk  dari  kebijaksanaan  manusia.  Ia  tidak  menempatkan  kelas-kelas  sosial  dalam  posisi  konflik; tetapi  justru  mendorong  setiap  kelompok  untuk  saling  menghargai  keunggulan  masing-masing.  Islam  sangat  menekankan  agar  tidak  satu  pun  kelompok  yang  menguasai    kelompok  lainnya, dan  juga  tidak  membiarkan  ketidakadilan   merajalela.  Seorang   penguasa  hanyalah   sebagai  manusia   biasa  dengan  aneka  kewajiban  khusus  yang  diembannya, dan  dia  harus  tunduk  di   bawah  Hukum  Ilahi, semata-mata  menjalankan  kekuasaan  agar  ketentuan-ketentuan  Allah  SWT  dipraktikkan  dalam  masyarakat.

     Karena  pemerintahan  yang  amanah  menempatkan  Hukum  Allah  di  atas kepentingan apa pun, maka  niscaya  bisa  tercapai  kedamaian   dan   ketenangan.

      Islam  sangat  menentang  doktrin  kapitalisme  bahwa  hak  milik  pribadi  harus  ditempatkan  di  luar  batas-batas   kontrol  negara.  Islam   juga  mengecam  pembiaran  “usaha-usaha  bebas”  (free   enterprise) yang  melancarkan  agresi serta tirani pihak yang kuat atas yang lemah melalui penonjolan hak-hak individu yang merugikan hak-hak masyarakat; dan sebaliknya  memandang  penyucian  harta  sebagai  suatu  perbuatan  mulia  dan  asasi. [**]

_____________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku “Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977) oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: