Asal-Usil (Matematika) – (ISLAM-39)

ISLAM-39

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Asal – Usil

(Matematika)

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)


Kita   akui  bahwa  Aryabhata — matematikawan  India — telah  memasukkan  bilangan  nol  dalam  sistem  perhitungan  (876  M).  Dan  kemudian  melalui  tiga  serangkai  berkebangsaan  India  pula, yakni  Brahmagupta, Mahavira,  dan  Bhaskara  lahirlah  operasi  Aritmetika  yang  mengikutsertakan  “nol”.  Tetapi, bangsa  Arab  lah  yang  mampu  mengembangkan  bilangan  nol  itu  dalam  dunia  teknologi  (engineering).

      Sebagaimana  diketahui  bahwa  bilangan  apa  pun  yang  dipangkatkan  dengan  nol  hasilnya  sama  dengan  satu.  Dan  bahwa  1 +  0 = 1  atau  n + 0 = n.  Dengan  begitu  angka  0  bernilai  pasti.  Namun  nol  bisa  memiliki  nilai  yang  tak  pasti  (tak  terhingga).  Jika  suatu  bilangan  dibagi  nol, hasilnya  “tak  terhingga”.  Atau  dengan  mengalikan  suatu  bilangan  dengan  nol, hasilnya  tidak  ada  (alias  nol).

     Gara-gara  bilangan  nol  itu  pula,  masyarakat  dunia  pernah  dibuat  bingung  dalam  menentukan  kapan  memasuki  Milenium  Ketiga, yang  terkenal  dengan  risiko  millenium   bug-nya, yang  mengancam   sistem  komputer  dan   elektronik   itu. Begitu  seriusnya   ancaman   tersebut   sehingga   selain  dilakukan   langkah   penanggulangan, juga  perencanaan     keadaan   darurat   (contingency   planning)  dan   penanggulangan       musibah   (disaster   recovery   planning).

      Atas  dasar  realitas  tersebut, pantaskah  bila  bilangan  nol  itu  dinamakan  bilangan   ghaib?  Kalau  jawabannya: “Pantas”, bukankah  berarti  bahwa  hukum  yang  berlaku  dalam  dunia  bathin   atau  ghaib  (jangan  masuk  dulu  ke  bahasan  ghaib   al-Ghaib)  bersifat  tidak  pasti?  Nah, kalau  pada  alam  ghaib   saja  sudah  bersifat  tidak  pasti, bagaimana  pula  dengan  alam  nyata  (shahadah)  atau  alam  lahir  (zhahir)?  Bukankah  dalam  alam  nyata  ini  berlaku  prinsip  relativitas  (kenisbian)  dan  ketidakpastian, sebagaimana  yang  bisa  dikuatkan  dengan  “Teori  Relativitas”-nya  Einstein  dan  “Teori  Ketidakpastian”-nya  Heisenberg?

 

***

      ADA   yang  berpendapat  bahwa  algoritma  merupakan  metode  atau  prosedur  yang  terdefinisikan  secara  baik  guna  memecahkan  suatu  masalah  (umumnya problem-problem matematika atau yang berkaitan dengan manipulasi  informasi). Sebagian pakar mengatakan bahwa prosedur-prosedur tersebut terus berproses tanpa henti.

     Jika prosedur-prosedur tersebut bergerak tanpa henti, bisakah kelak ia  menembus dunia  ghaib  (bathin) dan kemudian dirasionalisasikan atau  dieksperimentasikan?  Dengan algoritma, bisakah nantinya gradasi wujud  (tasykik  al-wujud) yang berlapis  ganda:  zhahir  (lahirdan  bathin  (batin) — seperti  yang dirumuskan oleh Mulla Shadra — dipadukan menjadi  Wahdat  al-Wujud  (Wujud yang Esa), seperti diteorikan oleh Ibnu ‘Arabi?

      Tetapi, bila algoritma  merupakan prosedur yang terdefinisikan, bukankah  “defenisi” — menurut Aristoteles — terpaut pada perhatian tentang sifat esensial dan universal dalam persoalan apa pun? (Aristoteles, Posterior  Analitics, hal. 160).  Kemudian, bukankah Plato menempatkan  “definisi” sekaligus sebagai metodologi filsafat yang dianutnya?

      Sebagian pakar berpendapat bahwa algoritma tidak saja berwujud sebagai program-program komputer, tapi ia juga bisa berwujud tindakan yang dilakukan oleh kehidupan yang tengah mencari kesempurnaan dan terus berupaya mengatasi dirinya sendiri.  Tetapi, bukankah untuk itu semua harus ada pembedaan antara esensi umum (general  essence) — yakni indikator sifat sesuatu yang ingin diketahui — dan esensi partikular (particular  essence  atau  specific  difference)?  Kemudian, secara epistemologi, logiskah bila esensi partikular dapat diketahui dengan merujuk pada sesuatu (benda) yang  lain?  Dalam kaitan ini menarik dikemukakan pertanyaan Suhrawardi (filsuf Iran — lahir 1171 M): “Bagaimana sesuatu yang tidak diketahui bisa menjadi indokator  (point  of  reference) untuk mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak diketahui?

 

***

      JELAS, Abu Ja’far Muhammad bin Musa  al-Khawarizmi (lahir di Khiva, Provinsi Al-Khawarizmi, Irak) adalah seorang pelopor matematika modern yang telah berjasa dalam menciptakan hitungan-hitungan al-jabar, algoritma, dan geometri.  Ia pula yang mengembangkan aplikasi angka nol dalam artimatika modern.

     Juga patut dikemukakan bahwa Khawarizmi pernah memimpin suatu lembaga  riset — Darul  Hikmah  — dalam masa kekuasaan Khalifah Makmun ar-Rasyid (Dinasti Abbasiah); dan dia pun seorang pecinta mazhab  Ahlul Bait Rasulullah SAW, sehingga sangat  menghargai pluralitas (realitas plural).  Seperti yang dikatakan Fichte (1762-18140,  filosof  Jerman: Was fur eine philosophie man wahle hangt davon ab, wasfur ein Mensch man ist [jenis filsafat (keyakinan atau mazhab—Pen) yang dipilih seseorang akan menentukan jenis manusiany].

     Oleh karenanya, tidak ada seorang pun yang bebas mazhab; sebab ketika dia mengatakan “tidak bermazhab”, maka pada saat itu dia telah menobatkan dirinya sebagai penganut “mazhab yang mengharamkan mazhab”.

 

***

     ARTIKEL ini ditampilkan bukan sebagai  keterjebakan pada “pendekatan monumental” (Friedrich Nietzsche: 1844-1900) atau “pendekatan nostalgia” (Bryan S. Turner:1987) dalam membaca ritme sejarah. Disadari bahwa cara berfikir nostalgis senantiasa memiliki ciri khas: cenderung  kurang peka pada realitas di sini dan kini, bahkan juga sering kali memiliki kekaburan visi ke depan. Bagaimanapun ummat Islam tidak boleh puas dengan slogan (Jerman): “Seht, das Grosse ist schon da” (lihatlah kebesaran penuh menjulang di masa lampau).

      Kendati kita percaya ungkapan bijak (Perancis) L’histoire se repete [sejarah (pasti) berulang], tapi sepatutnya kita menempatkan sejarah seperti yang dipahami oleh Ali Syari’ati (intelektual Iran), yakni bukan sebagai kumpulan fakta yang “membisu”, tetapi harus direkonstruksi secara dinamis disesuaikan dengan tuntunan masyarakat yang tertindas (mustadh’afin—QS 28:5). Atau bisa juga disikapi seperti yang dinyatakan oleh Marthin Luther King (1959) bahwa “semua sejarah mengajarkan bagai samudera bergejolak menerpa karang menjadi bebatuan; dan ia (sejarah) merupakan gerakan tegas orang-orang yang tak henti-hentinya menuntut hak-hak mereka dan selalu memporakporandakan tatanan lama”. [**]

_______________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: