BIOGRAFI RINGKAS – Syahid Ayatullah Murtadha Mutahhari Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam (ISLAM-36)

ISLAM-36

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

 

BIOGRAFI  RINGKAS

Syahid Ayatullah Murtadha Mutahhari

Pembangkit Kebangunan Intelektual Islam

(Dikutib dari Majalah Yaum Al-Quds, No 9, Ramadhan 1403 H, dan diedit kembali oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional / Forum SPTN, Jakarta)

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam  www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)

 

Bismillahirrahmanirrahim.

M

urtadha Mutahhari lahir pada tanggal 2 Pebruari 1919 di Fariman, Provinsi Khurasan.  Ayahnya, Hujjatul Islam Muhammad Husein Mutahhari, adalah seorang muslim yang saleh.

      Pada usia 12 tahun, Mutahhari memasuki Pusat Keagamaan di Masyhad dan di situ ia  mengikuti pelajaran dari Mirza Mehdi Shahidi Razavi.  Kemudian, ia melanjutkan pendidikannya di Qum untuk belajar pada Ayatullah Borujerdi dan Imam Khomeini.  Selain itu, perkenalannya — yang beruntung — dengan Haji Mirza Ali Agha Syirazi juga sangat memengaruhi pemikirannya.

      Selama masa studinya, Mutahhari mengembangkan perhatian yang mendalam pada falsafah dan pengetahuan-pengetahuan modern. Ia mengenali konsep-konsep dan berbagai aliran filsafat sejak perkembangan intelektualnya.  Ia pun melibatkan diri dalam kelompok Fedaiyin Islam, dan ini menunjukkan komitmennya yang tinggi di bidang (pergerakan) politik.

      Tahun 1952 ia mendirikan Dewan Islam dari mahasiswa-mahasiswa di Teheran. Dan pada tahun 1955, Mutahhari mulai mengajar sebagai mahaguru pada Sekolah Tinggi Agama — untuk tingkat doktoral.  Ini dilakukannya hingga tahun 1978.

      Sebagai seorang muslim yang taat, Mutahhari senantiasa memiliki komitmen yang tinggi di bidang sosial-politik.  Akibatnya, pada tahun 1963, ia ditahan bersama Imam Khomeini.  Dan setelah Imam Khomeini diasingkan ke Turki, ia mengambil peran aktif dalam kepemimpinan gerakan kebebasan Islam, dengan memberikan kontribusi besar dan menentukan dalam memobilisasi para ulama mujahidin.

      Sebagai pembangkit kebangunan intelektual Islam, Mutahhari dengan setia bahu-membahu mendirikan “Husainiyah Irsyad”.  Pada tahun 1969 — bersama-sama Ayatullah Zanjani dan Allamah Tabataba’i — Mutahhari mengeluarkan satu pernyataan keras mengutuk agresi ganas pemerintah imperialis Amerika Serikat terhadap Palestina.  Terkait dengan ini, ia giat mengumpulkan dana yang sangat dibutuhkan para pengungsi Palestina.

      Sementara itu, pada tahun 1971, Mutahhari mengemban tanggung jawab yang menentukan dalam rencana-rencana politik ideologi Masjid Al-Javad.  Ia pun selalu meminta nasehat-nasehat Imam Khomeini  terkait dengan masalah-masalah sosial politik yang penting.  Dan di situ, ia banyak mendapatkan inspirasi tentang konsep dan garis-garis besar bimbingan pergerakan dari Imam.

      Tahun 1972 aktifitas-aktifitas intelektual di pusat-pusat kebudayaan Islam (terutama di Husainiyah Irsyad dan Masjid al-Javad) dilarang oleh rezim despotik Syah Iran, yang disusul dengan penahanan Prof Mutahhari untuk kedua kalinya.

      Segera setelah dibebaskan dari penjara, Mutahhari melanjutkan aktifitas politiknya, dan pada tahun 1978, ia mendapatkan khabar pembuangan (pengasingan) Ayatullah Montazeri.  Sehubungan dengan itu, Mutahhari melancarkan penentangan antara lain melalui pidato.  Mulai saat itulah, rezim Syah Iran melarang semua kegiatan kuliah dan khotbahnya.

      Pada babakan selanjutnya, Mutahhari mendapatkan tugas dari Imam Khomeini untuk mengorganisir Masyarakat Ulama Mejahidin dan menjadi anggota Dewan Revolusi.  Dan di saat memuncaknya Revolusi Islam, Prof Mutahhari menjadi Asisten Imam Khomeini.

      Kejeniusan dan kesetiaannya — termasuk kepribadiannya yang luhur — begitu menyatu dalam dirinya yang mengantarkannya kepada kesyahidan.  Dari sekian banyak sumbangannya yang penting di antaranya adalah perjuangan melawan materialisme yang diimpor dari Barat.  Ia berusaha keras agar setiap orang dapat mengamalkan ajaran Islam.  Dan untuk itu ia pun banyak menulis buku.

 

***

      PADA tanggal 2 Mei 1979, radio mengumumkan syahidnya Prof Mutahhari yang diiringi dengan bacaan dari petikan-petikan dalam buku beliau, “Sastan Rastan”. [**]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: