“Saya Peringatkan Anda akan Bahaya!” Seruan Imam Khomeini Menyambut Tahun Baru 1963 (ISLAM-35)

ISLAM-35

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

“Saya Peringatkan Anda akan Bahaya!”

Seruan Imam Khomeini Menyambut Tahun Baru 1963

(Dikutib dari Majalah Yaum Al-Quds, No 9, Ramadhan 1403 H, dan diedit kembali oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional / Forum SPTN, Jakarta)

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam  www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)

 

 

Bismillahirrahmanirrahim.

Kita berasal dari Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

 

S

aya tidak dapat menyuarakan perasaan hati saya karena tertekan. Sejak saya amati banyaknya masalah Iran, tidur saya berkurang dan saya tidak nyaman.  Hati saya sedang tertekan. Dekan tekanan (hati) berat ini saya menghitung-hitung hari ketika maut akan datang.

      Iran tidak lagi punya hari raya Tahun Baru. Mereka telah merubah hari-hari raya Iran menjadi hari berkabung.  Mereka membuat dekorasi-dekorasi di mana-mana dan mulai berdansa-dansi.  Mereka telah menjual kita dan menggadaikan kemerdekaan kita, kemudian menyemarakkan  pesta pora di mana-mana.

      Andai saya penguasa, saya akan memerintahkan untuk memasang panji-panji hitam di puncak pazaar (pasar) dan bubungan rumah-rumah.

      Kebesaran kita telah diinjak-injak; kebesara Iran telah lenyap; mereka memijak-mijak kebesaran tentara Iran. Mereka membawa rancangan undang-undang (RUU) ke Majelis (Perwakilan Rakyat), di mana, pertama, mereka menjebak kita ke dalam Perjanjian Wina, dan kedua, mereka menambahkan ke dalam perjanjian tersebut: Semua penasehat militer Amerika Serikat (beserta keluarga mereka), tenaga-tenaga teknis dan administrasi mereka, pelayan-pelayan mereka, dan siapa pun yang memiliki relasi  dengan mereka, bebas melakukan segala sesuatu (kejahatan) di Iran.

      Apabila seorang pelayan Amerika atau seorang koki Amerika membunuh ulama kita di tengah pasarnya, misalnya, atau menyiksa para ulama dengan tendangan, maka polisi Iran tidak berhak mencegah mereka; dan pengadilan Iran juga tidak berhak mengadili mereka.  Palanggaran-pelanggaran tersebut harus dibawa ke Amerika (AS) untuk diselesaikan di sana oleh tuan-tuan mereka.

       Pemerintah (di bawah Perdana Menteri) memaksakan pengesahan RUU itu tanpa memberitahu  kita. Baru-baru ini mereka membawa RUU tersebut ke Senat untuk disahkan.  Dan itu hanya memerlukan sekali sidang tanpa ada yang berani mencegahnya.

       Ketika — beberapa hari lalu — undang-undang yang baru disahkan itu dibawa ke Dewan Konsultatif, beberapa anggotanya menyatakan penolakan, namun kemudian mereka coba menyelesaikannya meski dengan cara yang ceroboh.

       Jelas, Pemerintah membela keaiban tersebut tanpa rasa malu; dan mereka tega menempatkan bangsa Iran lebih rendah dari anjing Amerika (AS).  Jika seseorang memukul anjing orang Amerika, ia akan diusut, tetapi apabila seorang koki Amerika memukul Syah Iran atau tokoh-tokoh penting lainnya, maka tidak ada seorang pun yang berhak memprotes.

      Mereka hendak mendapatkan pinjaman dari AS, dan — sebagai kompensasinya — AS menghendaki agar RUU tersebut disetujui.  Beberapa hari kemudian, mereka meminta pinjaman 200 juta dollar dari AS.  Dan segera mendapat persetujuan dengan jangka waktu pinjaman di atas lima tahun, dan itu harus dibayar kembali sebesar 300 juta dollar dalam kurun sepuluh tahun.

      Apakah Anda mengerti apa arti pinjaman itu? Dua ratus juta dollar — satu dollar bernilai delapan toman (mata uang Iran) — akan dipinjamkan kepada Pemerintah Iran untuk anggaran militer.  Dengan pembayaran  kembali sebesar  300 juta dollar, berarti mereka mendapatkan bunga 100 juta dollar (800 juta  toman) dari Iran. 

      Sesungguhnya, mereka menjual Iran bukan hanya untuk mendapatkan dollar-dollar itu, tetapi menjual kemerdekaan rakyat, dan menjerumuskan kita ke dalam golongan bangsa-bangsa yang terjajah.  Umat Islam Iran telah diperkenalkan — kepada dunia — lebih terbelakang dari orang-orang barbar.  Apa yang harus kita perbuat dengan penghinaan ini?  Apa yang harus dilakukan para ulama dengan bencana ini?  Kepada bangsa mana rakyat Iran harus mengadukan perasaan aib mereka?  Tentu, bangsa-bangsa lain akan beranggapan, bangsa Iran sendiri yang merendahkan diri mereka.  Mereka tidak akan mengetahui bahwa, sesungguhnya, ini adalah perbuatan pemerintah Iran, Dewan (Majlis) Iran;  dan itu tidak ada kaitannya dengan rakyat Iran.

      Inilah Majelis yang dipaksakan kepada kami; lalu Majelis seperti itu apa hubungannya dengan rakyat?  Bangsa Iran tidak memberikan suara mereka untuk memilih wakil-wakil itu.  Betapa banyak ulama dan rohaniawan memboikot pemilihan itu, dan ini diikuti rakyat sehingga mereka tidak memberikan suara (untuk memilih wakil mereka — Redaksi: Forum SPTN). 

      Namun, sistem yang korup telah menempatkan mereka di atas kursi-kursi singgasana itu.  Mereka melihat pengaruh ulama sebagai penghalang besar yang sulit ditaklukkan. Dan karenanya mereka berusaha untuk menghancurkan peran tersebut.

      Dalam satu buku sejarah yang diterbitkan baru-baru ini, diajarkan — kepada anak didik kita — beberapa kebohongan dan kepalsuan, di mana di situ antara lain disebutkan: “Sekarang telah terungkap bahwa memotong peran ulama adalah sangat penting untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa”.  Sungguh mereka keliru karena pada dasarnya mereka mengerti bahwa apabila rakyat bergantung pada peran ulama, bangsa ini tidak akan menjadi tawanan Inggris dan Amerika Serikat.  Apabila ulama bisa berperan optimal, Israel tidak akan mengatur perekonomian kita; dan barang-barang (produksi) mereka (terutama peralatan persenjataan dan berbagai instrumen intelijen — Redaksi: Forum SPTN) tidak akan bisa di jual di sini.

      Jika ulama yang mengarahkan bangsa ini, tidak akan terjadi transaksi pinjaman paksaan yang menjerat rakyat, dan tidak akan ada kekacauan dalam perbendaharaan negara.

      Apabila ulama mampu berperan baik, pemerintah tidak akan bertindak semaunya. Dan andai para ulama bisa berperan efektif, tidak akan terjadi pembusukan Majelis, dan ia tidak akan terbentuk di bawah tekanan dan paksaan. 

      Bila ulama tidak dikhianati, para muda-mudi kita tidak akan terlibat pergaulan bebas seperti yang terjadi di Shiraz baru-baru ini. Apabila para ulama mendapat kepercayaan penuh, para gadis yang berakhlak mulia tidak akan jatuh ke tangan para lelaki berandal yang menyebarkan kerusakan.

      Apabila rakyat menyandarkan hidup mereka kepada ulama, pemerintahan yang korup akan tertampar, dan para wakil di Majelis yang tidak sah itu akan terlempar ke luar dari ruang-ruang sidang.

      Apabila ulama mendapat kepercayaan penuh, orang-orang yang mengklaim diri sebagai wakil rakyat itu tidak akan menentukan nasib bangsa ini.

      Dan jika ulama berperan utuh dalam berbagai sektor kehidupan, maka para boneka AS itu tidak akan pernah melakukan kesalahan kepada rakyat dan bangsa ini; dan mereka itu semuanya akan ditendang ke luar Iran.

 

***

      BETULKAH pengaruh ulama merugikan rakyat dan bangsa?  Tidak!  Para ulama akan merugikan kalian, para penindas (mustakbarin), para penghianat, dan bukan rakyat!

      Tentu saja, kalian (para penindas) tahu, dengan pengaruh ulama, kalian tidak akan bebas berbuat apa saja.  Dan itulah sebabnya kalian terus berusaha menghapuskan peran ulama.  Apakah kalian bermimpi mampu memecah-belah para ulama melalui sejumlah skenario atau intrik licik?  Mimpi-mimpi itu akan menjadi kenyataan segera setalah kalian mati.  Sungguh, kalian tidak akan mampu memecah-belah ulama karena mereka semua bersatu padu.

      Tuan-tuan, saya peringatkan Anda akan bahaya besar! Wahai Angkatan Bersenjata  Iran, saya peringatkan Anda akan bahaya! Wahai para politisi Iran, saya peringatkan Anda akan bahaya! Wahai pa pedagang (pengusaha) Iran, saya peringatkan Anda akan bahaya!  Wahai para ulama Iran! Wahai pemuka-pemuka Islam, saya peringatkan Anda sekalian akan bahaya. Wahai para agamawan (rohaniawan)?  Wahai pusat-pusat pendidikan Islam!  Wahai Najaf!  Wahai Qum! Masyad! Teheran! Shiraz!  Saya peringatkan kalian semua akan bahaya!!!

      Sungguh situasi saat ini sangat berbahaya. Tampaknya ada sesuatu di balik tabir yang kita tidak ketahui.  Di Majelis mereka mengatakan tidak boleh mengangkat tabir tersebut. Konspirasi apa lagi yang akan mereka lakukan, yang lebih buruk dari yang kita alami saat ini?  Apa yang lebih buruk dari ketertawanan?  Apa yang lebih buruk dari keaiban?  Apa yang hendak mereka perbuat?  Agenda-agenda apa yang mereka rencanakan?

       Wahai para boneka, apa perlunya para penasehat militer AS itu bagi kalian? Bila bangsa ini telah ditaklukkan, mengapa pula kalian masih terus girang bernyanyi, dan berbicara begitu banyak tentang kemajuan?

       Jika para penasehat itu memberikan layanan kepada kalian, mengapa kalian menempatkan mereka lebih tinggi dari tuanmu sendiri (maksudnya: Syah Iran — Forum SPTN).  Apabila mereka adalah pelayan-pelayan, perlakukanlah mereka sebagaimana pelayan-pelayan lainnya.  Apabila mereka itu karyawan-karyawan atau pegawai-pegawai, perlakukanlah seperti bangsa-bangsa lain memperlakukan pegawai-pegawai mereka.  Dan apabila negara kita diduduki AS, siarkanlah itu, dan silahkan usir kami ke luar negeri ini.  Atau, kami yang akan melemparkan kalian dan orang-orang AS itu ke luar dari Iran.

      Sekarang, apa yang hendak kalian katakan kepada kami?  Apa kontribusi Majelis buat kami?  Parlemen yang tidak sah, parlemen terdakwa, parlemen yang telah dilarang melalui fatwa para ulama, dan parlemen yang mengklaim diri berbicara tentang kemerdekaan dan revolusi itu mengatakan bahwa kita telah muncul dari “Revolusi Putih” [Revolusi yang terlahir dari hasil rekayasa politik kotor Syah Iran. Jadi harus dibedakan dari Revolusi Islam (di) Iran yang dicetuskan oleh rakyat melalui arahan Imam Khomeini  — Forum SPTN].

      Saya tandaskan bahwa saya tidak berurusan dengan Revolusi Putih yang kotor itu. Allah mengetahui semuanya!  Saya hanya tahu desa-desa dan kota-kota terpencil; betapa terbelakangnya mereka.  Saya tahu kelaparan rakyat dan kehidupan mereka yang tidak terurus.  Wahai para boneka AS, pikirkanlah negara ini; pikirkanlah bangsa ini!  Jangan biarkan hutang-hutang itu bertambah hingga sekian banyak.  Jangan kalian menjadi pelayan-pelayan penuh kehinaan.  Tentu saja, bagi kalian, dollar membawa pelayanan. Dan kalian menerima dollar dan menghambur-hamburkannya, sementara kamilah yang membayar utang-utang itu.

      Betapa malangnya kita. Apabila seorang Amerika menabrak kita dengan mobil, tidak ada orang yang berhak menuntutnya. Dan para tuan antek AS itu akan berkata, kita wajib berdiam diri.  Apakah mereka masih memaksa kita untuk berdiam diri dengan kondisi seperti saat ini?  

      Sungguh, mereka telah menggadaikan kita.  Apakah kita harus terus membungkam?  Sudikah kita membiarkan mereka  menjual kemerdekaan kita dengan terus membisu?  Demi Allah, orang yang tidak menjerit dan memprotes menyaksikan kedzaliman ini pasti berdosa besar.

      Wahai para pemimpin Islam; wahai ulama Nejef; wahai ulama Qum!  Peganglah Islam dalam tangan kalian.  Islam telah dilecehkan.

      Wahai bangsa-bangsa Islam! Wahai pemimpin-pemimpin bangsa Muslim; wahai para Presiden bangsa-bangsa Muslimin, wahai Sultan-Sultan Muslimin, peganglah taangan kami.

      Wahai Syah Iran!  Tolonglah dirimu sendiri!   Meski kita bangsa yang tak punya uang, haruskah kita menyerahkan diri untuk diinjak-injak di bawah sepatu Amerika Serikat?  AS lebih buruk dari Inggris, dan Inggris lebih buruk dari AS.  Soviet lebih buruk dari keduanya.  Satu dari mereka lebih  buruk dari yang lainnya, dan semua lebih kotor dari yang lain. 

      Tetapi sekarang Anda sedang berurusan dengan AS.  Presiden AS lebih baik sadar bahwa ia sekarang adalah dia adalah salah satu dari orang-orang yang dibenci oleh bangsa kami.  Karena ia telah menekan umat Islam sedemikian rupa, maka ia sekarang menjadi musuh Al-Qur’an dan bangsa Iran.

      Pemerintah AS haruslah sadar mereka membusukkan diri di Iran.  Dan para boneka AS itu berseru: “Mintalah supaya sahabat kami (AS) jangan memaksa kami, jangan menjual kami, dan jangan menjajah Iran!”  Tetapi siapa yang mendengarkan?  Mereka tidak menyebutkan satu pasal pun (Pasal 32) dari Perjanjian Wina.  Saya tidak tahu menahu tentang itu.  Dan bukan saya saja yang tidak tahu, Ketua Majelis atau Wakilnya pun tidak tahu.  Namun kemudian mereka mensahkan RUU itu dan menandatanganinya.  Mereka mengesahkan rancangan undang-undang itu, sedangkan sebagian dari mereka ada yang mengatakan tidak tahu-menahu apa itu Pasal 32.  Mungkin mereka yang tidak menyetujui tidak menandatanganinya, sehingga sebagian lagi yang menandatanganinya pastilah merupakan sekawanan orang jahil.

      Mereka mengusir para politisi dan pejabat tinggi kita, satu per satu.  Sehingga, saat ini, tidak ada lagi kewenangan yang bisa dijalankan oleh para politikus dan pejabat yang patriotik.

      Perwira-perwira militer — yang patriotik — harus sadar bahwa mereka juga akan dicampakkan satu per satu.  Masih adakah kehormatan yang tertinggal pada tentara apabila seorang pelayan atau koki AS ditempatkan di atas  perwira tinggi militer?  Kalau saya tentara, saya akan mengundurkan diri.  Apabila saya wakil atau anggota Majelis, saya akan mengundurkan diri dan tidak akan sudi menerima aib seperti itu.  Menyedihkan sekali, keamanan koki-koki AS, masinis-masinis, pegawai-pegawai kantor, para teknisi dan keluarga mereka — dan lain-lain profesi — diberi  jaminan, sementara para guru besar, mubaligh, dan orang-orang yang berkhidmat di jalan Islam harus dipenjarakan atau diasingkan.

      Para pembela Islam harus diasingkan di Bandar Abbas dan dipenjarakan di sana hanya karena mereka itu adalah ulama atau yang mendukung ulama. Para antek AS itu hendak mempemalukan ulama bahwa kesejahteraan bangsa terwujud  dengan memotong pengaruh mereka (ulama).  Harus dipahami, para ulama tidak memiliki apa-apa karena apa saja yang dipunyainya adalah kepunyaan Rasulullah SAW.  Dengan kata lain, memotong pengaruh ulama berarti memotong pengaruh Rasulullah Muhammad SAW.  Inilah yang mereka inginkan karena dengan begitu Israel dan AS dengan seenaknya bebas melakukan apa pun di sini.

      Sekarang, segala kesulitan kita bersumber pada AS dan para boneka atau anteknya. Dan kesemuanya itu bersumber dari Israel.  Sementara, Israel — termasuk AS dan para anggota Majelis —  adalah dari AS.  Dengan begitu, semua menteri adalah antek AS, sebab jika tidak, mengapa mereka tidak berani berdiri dan menantang AS seraya berseru: “Keluar!”

      Ada satu persitiwa yang saya tidak ingat dengan pasti.  Itu terjadi di Majelis pada masa Sayyid Hasan Modarres menjadi salah seorang anggotanya.  Pemerintah Rusia (Uni Soviet) memberi ultimatum kepada Iran bahwa mereka akan menyerang Teheran dari Jalan Qazvin dan mendudukinya apabila Iran tidak menyetujui  perjanjian tertentu (yang sekarang saya sudah lupa, perjanjian apa itu). Pemerintah — pada waktu itu — menekan Majelis untuk mensahkan perjanjian tersebut.

      Terkait dengan itu, seorang penulis AS menulis: “Seorang ulama (Ayatullah Modarres) dengan sebatang tongkat maju ke podium dan berkata, ‘karena sekarang kita akan dihancurkan, mengapa kita harus menandatangani hukuman mati kita?’  Karena pengaruhnya, Mejelis itu mendapatkan keberanian untuk menolak rancangan undang-undang tersebut.”

      Soviet tidak dapat berbuat apa-apa.  Mereka tidak mau ambil risiko dari serangan yang pernah diancamkannya.  Oleh karena itu mereka menempuh cara lain dengan memotong pengaruh ulama.

 

***

      BEGITU banyak masalah dan kebusukan di negeri ini, dan saya tak bisa menyebutkannya satu per satu karena hati saya sakit menahan kepedihan.  Tapi, apa yang saya ungkapkan perlu kalian sampaikan kepada sahabat-sahabat atau kenalan Anda.  Para ulama bertanggung jawab memberi penerangan kepada umat.  Umat juga bertanggung jawab menyuarakan ketimpangan itu  dan menekan Majelis agar memprotes pemerintah atas apa yang telah mereka perbuat.  Kepada mereka (anggota Majelis) harus ditanyakan, mengapa mereka telah menjual kami?  Mereka harus digugat: “Kalian bukanlah wakil-wakil kami”. Seandainya pun kalian dulu pernah menjadi wakil kami, akibat penghianatan-penghianatan kalian, maka kalian diberhentikan karena telah melakukan penghianatan terhadap negara dan bangsa.

      Ya Allah!  Mereka telah menghianati bangsa dan negara kami.  Ya Allah!  Pemerintah ini menghianati bangsa kami, menghianati Islam dan Al-Qur’an!  Wakil-wakil Muslimin (di Majelis) yang bersekongkol dalam pengesahan RUU tersebut berarti telah melakukan penghianatan.  Wahai masarakat dunia!  Mereka itu bukanlah wakil-wakil rakyat Iran!  Seandainya pun mereka pernah menjadi wakil rakyat, tapi mulai sekarang mereka telah kita pecat (makzulkan) dan RUU apa pun yang mereka sahkan tidak berlaku.

      Perlu diketahui, berdasarkan Pasal 2 Amandemen Konstitusi, undang-undang tidak dapat diberlakukan apabila Majelis tidak diawasi ulama.  Ulama mana yang telah mengawasi Majelis itu?  Apabila ada lima orang ulama di dalam Majelis — atau bahkan bila ada satu orang pun — pastilah ulama tersebut akan menampar mulut-mulut mereka (para anggota Majelis), dan tidak akan membiarkan hal itu terjadi, bahkan akan menghalangi keputusan Majelis.

      Saya memprotes wakil-wakil Majelis yang kurang tegas. Apabila kalian benar-benar tidak menyetujuinya, mengapa kalian tidak berbuat sesuatu?  Mengapa kalian tidak berdiri memprotesnya?  Apakah tidak setuju berarti sekadar mengatakan bahwa Anda tidak setuju dan kemudian menghangatkan kursi duduk Anda, lalu memuji-muji atau bermuka-muka?  Anda harus membuat gaduh, pergi ke tengah-tengah Majelis dan tidak membiarkan sidang seperti itu dilanjutkan. Singkirkan RUU seperti itu.  Apakah bisa memperbaiki sesuatu hanya dengan mengatakan:”Saya tidak setuju!”  Kalian sudah tahu bahwa cara-cara demikian sering tidak dipedulikan.

      Kita tidak memandang RUU yang telah mereka sahkan itu sebagai undang-undang. Kita berpendapat sidang tersebut bukanlah sidang Majelis.  Kita tidak lagi memandang pemerintahan ini sebagai  satu pemerintahan.  Mereka semua adalah penghianat bangsa dan negara.

Damai sejahtera  dan  semoga rahmat Allah tercurah pada kita semua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: