Efektifkah Sanksi Ekonomi DK-PBB Atas Iran? (ISLAM-31)

ISLAM-31

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Efektifkah Sanksi Ekonomi DK-PBB Atas Iran?

Oleh LA  ODE ZULFIKAR TORESANO

(Tulisan ini pernah dimuat dalam  http://forumsptn-politico-questionnaire.blogspot.com  dalam rangka menyongsong peresmian Forum SPTN  pada tanggal  17 Agustus 2007)

 

 

Efektifkah sanksi ekonomi Dewan Keamanan PBB — terkait isu nuklir — yang dijatuhkan kepada Iran hari Sabtu 23 Desember (2006) lalu?  Jawabannya gampang-gampang susah. Sanksi itu mungkin saja efektif karena disepakati seluruh anggota Dewan Keamanan PBB yang beranggotakan 15 negara; sehingga — jika kelak benar-benar konsisten dilaksanakan dan terbukti efektif — dampak negatifnya akan bereskalase luas.  Apalagi itu mempertaruhkan kredibilitas PBB sebagai institusi dunia, dan juga Amerika Serikat (beserta sekutunya) sebagai negara adidaya (?). Seandainya sanksi itu tidak serius atau tidak bisa dikontrol konsistensi pelaksanaannya, maka wibawa AS — yang menjadi mandor  dalam konspirasi itu — akan semakin anjlok seperti ikan pepes basi, dan itu bisa saja kemudian akan dijadikan sebagai faktor pendorong (accelerator  factor) bagi Iran, Suriah, Hizbullah (bukan Hezbollah), Jihad Islam, dan Hamas untuk mempreteli atau meng-khitan-i  setting  and  hidden  agenda AS di Timur Tengah.

        Jika skenario ini benar, yang paling merinding  adalah Israel, sebab baginya, Iran merupakan ancaman terbesar dan oleh karenanya segala faktor yang berpotensi memperkuat wibawa dan pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah harus dipangkas sejak awal. Dan Israel menganggap proyek nuklir Iran sebagai faktor utama yang dimaksud.

      Akan tetapi banyak pihak yang skeptis dengan keberhasilan sanksi tersebut (bahkan cenderung dianggap sebagai gertak sambal) mengingat dalam dunia yang dikangkangi ideologi neoliberalime (ultrakapitalisme) seperti saat ini, yang paling menentukan segalanya adalah uang atau  “fulus”.

      Salah satu adagium yang terkenal dalam praktik kapitalisme: “Ada uang Abang disayang, tidak ada uang Abang di-jewer”.

      Maka, jangan heran ketika Iran dijatuhi sanksi ekonomi dan militer oleh AS sejak Revolusi Islam tahun 1979, justru AS sendiri yang melanggar sanksi itu di tahun 1980-an dengan diam-diam menjual senjata kepada Iran dalam skandal yang disebut Iran-Contra.  Penjualan senjata itu adalah  untuk mendapatkan dana yang akan disumbangkan — oleh AS — kepada gerilyawan Contra di Nikaragua, Amerika Latin.  Kendati sanksi tersebut masih berlaku hingga sekarang, pengaruhnya praktis tidak terasa bagi Iran (mungkin sekadar ibarat gatal-gatal kecil di celah jari kaki), sebaliknya justru  Presiden AS Ronald Reagen jatuh — bak nangka busuk — akibat skandal tersebut.

      Jangankan Iran, Irak saja semasa kekuasaan Saddam Husein juga pernah dijatuhi sanksi ekonomi, tapi penjualan minyaknya (Irak) tetap saja berlangsung melalui pasar gelap (black  market). Tentu tak sama dengan Irak, negara yang menerapkan sistem pemerintahan Wilayat-ul Faqih itu (Iran) sudah terlanjur mesra menjalin kerjasama proyek-proyek raksasa strategis dengan sejumlah negara di antaranya Rusia, China, dan beberapa negara Barat (Eropa), sehingga AS tidak akan mudah mendepak negara-negara tersebut dari rangkulan Iran.  Sekadar catatan, hingga saat ini China sangat mengandalkan pasokan minyak dari Iran untuk menjamin kebutuhan industrinya. Itu berarti jika pasokan minyak terganggu, industri dan roda perekonomian China akan mengalami stagnasi besar yang bermuara pada  ketidakstabilan sosial-politik, bukan saja di dalam negeri China sendiri tapi juga di negara-negara yang memiliki hubungan ekonomi tradisional dengannya, seperti negara-negara di kawasan Asia Tenggara.  Dapat dibayangkan, berapa juta pengangguran yang akan ditimbulkan akibat penerapan sanksi (ekonomi) konyol  itu.

     Dari uraian di atas kita meragukan efektifitas sanksi ekonomi atas Iran itu. Mungkin bagi Iran sendiri akan menertawakannya karena mereka paham betul hadist Nabi saw  bahwa  manusia rawan  terperosok pada  tiga hal: perempuan, tahta (jabatan untuk tujuan duniawi semata), dan harta (uang).  Dan kelemahan neoliberalisme yang menyembah uang itu pasti akan digunakan oleh Iran untuk memperkuat perjuangan menegakkan keadilan. Dalam hal ini, mungkin Iran akan kembali menggunakan modifikasi strategi senjata makan tuan (seperti yang pernah dipraktikkan dalam kasus Iran-Contra) untuk memperolok-olok sanksi ekonomi tersebut.

 

***

      SEANDAINYA sanksi ekonomi atas Iran tidak efektif, apakah akan beranjak menjadi sanksi militer?  Pertanyaan ini pun gampang-gampang susah untuk dijawab. Jika sanksi militer tidak diberlakukan (seandainya kelak terbukti sanksi ekonomi tidak efektif), maka wibawa AS dan sekutunya — termasuk DK-PBB — akan semakin  anjlok.  Bahkan AS akan menganggap dominasinya di kawasan Timur Tengah akan menjadi goyah seiring dengan menguatnya harga diri dan rasa percaya diri (self  convidence) Iran, berikut para koleganya.

      AS  pun akan semakin dipusingkan dengan  rengekan  anak emasnya (yang sekaligus dianggapnya sebagai penyangga — buffer  state — di Timur Tengah) Israel karena anak ini semakin merasa  merinding  membayangkan terjangan rudal  Shahab-3 Iran yang mampu menjangkau Tel Aviv.

      Sebaliknya, kalau sanksi militer terpaksa harus dipilih, AS tentu sudah mempertimbangkan konsekuensi seriusnya. Melalui departemen khusus yang mengkaji tentang Iran dan Islam Syiah yang ada dalam struktur CIA, AS pasti paham betul perbedaan antara Syiah di Irak dan Syiah di Iran.  Kendati keduanya   mayoritas sama-sama  menganut  mazhab  Syiah Imamiah, namun militansi keduanya sangat berbeda.  Dari perspektif  historical  background hal itu dengan mudah dipahami dalam beberapa rentetan kejadian menjelang syahidnya Imam Husein as — cucu kesayangan Rasulullah Muhammad saw — di Padang Karbala, khususnya pada momen di Kuffah.  Ketegaran Syiah Iran juga bisa kita saksikan pada kekokohan kepribadian pemuda Iran  (Persia) Salman al-Farisi, yang oleh Rasulullah saw dijadikan sebagai salah seorang sahabat sejati.  Namun yang paling penting adalah bahwa — terkait dengan penjabaran makna ayat Qur’an Surah al-Jumu’ah ayat 3 — Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikan iman terletak di bintang tsurayya (bintang kejora), orang-orang dari bangsa Salman ini (maksudnya: Iran) akan dapat menggapainya” (lihat hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab Alu’lu Wal Marjan jilid II, juga oleh at-Turmudzi, dan an-Nasai).

      Apakah hal itu pula yang antara lain mendorong Imam Ali (karamallahu wajhah) menikahkan puteranya, al-Husein, dengan Syahbanu, salah seorang puteri Raja Persia / Iran, yang keturunannya kini banyak menjadi ulama di Iran?  Wallahu  a’lam.  Yang jelas kalau AS dan sekutunya menyulut api peperangan di Iran, yang pertama akan terbakar adalah Teluk Persia, khususnya Selat Hormuz. Sekadar catatan, melalui selat ini 30 hingga 40 persen  pasokan  minyak  dunia  dilewatkan, dan  satu  pulau  strategis  di  tengah-tengah  Teluk Persia  adalah Pulau Abu Musa yang dijadikan salah satu pangkalan Angkatan Laut (AL) Iran yang armada lautnya dilengkapi sejumlah kapal selam berteknologi super canggih  yang dibeli dari Rusia.

      Maka, dapat diprediksi, pada hari pertama AS dan sekutunya melancarkan serangan militer, harga minyak dunia segera akan melambung ke angka sekitar 100 dollar AS per barrel (bahkan bisa lebih).  Dan ini pasti akan menyengsarakan penduduk dunia.

 

***

      Untuk membaca efektifitas gertakan militer AS dan sekutunya, sederhana saja.  Cermatilah, kalau para gerilyawan di Irak saja sulit diatasi oleh AS — dan sekutunya — apatah lagi dengan menghadapi mobilisasi warga Syiah dan Suni yang anti AS (dan Israel) di seluruh kawasan Timur Tengah. Dan dalam kondisi dipojokkan bisa saja ulama Iran (Wali Faqih) terdorong untuk mengeluarkan fatwa bahwa membasmi tentara AS dan sekutunya identik dengan menggapai keimanan seperti yang ada di bintang Tsurayya, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. 

      Selanjutnya, bagaimana pula mengatasi kemungkinan ribuan  speed  boat  karet  (yang dimuati bom, dan tidak bisa dideteksi oleh radar karena “karet” bersifat  non-conductor) Pengawal Revolusi Iran yang  akan  disilewerkan secara serentak  di  Teluk  Persia seraya menunggu perintah ke-syahid-an untuk  ditabrakan ke lambung-lambung kapal perang AS dan sekutunya. Juga bagaimana mengatasi kemungkinan pesawat-pesawat tempur Iran yang sengaja diterbangkan untuk ditabrakkan ke sasaran musuh, di mana para pilotnya membawa Al-Qur’an sembari melantunkannya bersama-sama dengan melafadzkan shalawat Nabi?

      Sebagaimana diketahui, sebelum AS dan sekutunya membombardir Irak, Presiden Irak Saddam (Husein) al-Tarkiti menitipkan 250 pesawat tempur super canggih “Mirage 2000” (buatan Perancis) kepada Iran dan hingga kini belum dikembalikan (mungkin oleh Iran, ini dianggap sebagai pampasan perang dan sebagai bagian dari kompensasi Perang Iran-Irak di masa lalu). Kalau untuk teknologi nuklir saja Iran berhasil melatih tenaga-tenaga ahlinya, mustahil untuk men-training  pilot-pilot — yang akan menerbangkan pesawat-pesawat Mirage — itu  tidak bisa.  Apalagi kebutuhan pilot tersebut sangat urgen bagi Iran karena mereka sudah membeli puluhan pesawat tempur canggih Sukhoi dari Rusia dan telah berhasil membuat modifikasinya untuk diproduksi di dalam negeri.

     Sebagai komparasi, gerilyawan mujahidin Hisbullah (Lebanon) saja — yang konon  instrukturnya berasal dari ribuan Pengawal Revolusi Iran — sudah berhasil membuat sendiri rudal panggul anti tank canggih Mirkova yang diproduksi oleh Israel, dan ini membuat Israel babak belur (dan para jenderalnya geleng-geleng kepala dan frustrasi seperti “terasi”) pada peperangan beberapa saat lalu di Lebanon.  Selain itu, besar kemungkinan dinas intelijen seperti CIA dan Mossad (Israel) sudah memperhitungkan bahwa pasca bubarnya Uni Sovyet dan negara-negara Eropa Timur,  begitu banyak jenderal dan insinyur (yang bekerja di laboratorium dan industri-industri persenjataan) yang membutuhkan uang. Dan itu mungkin saja dimanfaatkan oleh Iran dengan membeli kemampuan teknologi mereka sekaligus (bukan hanya sekadar membangun pabrik senjata, seperti yang terjadi di banyak negara Dunia Ketiga).

 

***

      TENTU saja kita tidak menghendaki skenario buruk seperti di atas menjadi kenyataan, karena  esensi kemanusiaan adalah cinta damai; dan memang kedamaian itu indah. Dan bagi kita di Indonesia, paling hanya bisa berdoa atau ber-istighosahIstighosah  teruuuuuus!!!! [**]

_______________________

LA  ODE ZULFIKAR TORESANO (Aba Zul) adalah Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN), Jakarta.

2 Balasan ke Efektifkah Sanksi Ekonomi DK-PBB Atas Iran? (ISLAM-31)

  1. Joyce Ginting mengatakan:

    tah apa berita nya!
    yang kami butuhkan info nya ga ada disini!

  2. david mengatakan:

    saat ini saya kebetulan sedang melakukan penulisan ilmiah dengan tema efektivitas DK PBB terkait program nuklir Iran. saya sangat sependapat dengan tulisan bapak. saya ingin sedikit bertanya, apakah dengan beberapa sanksi yang telah dikeluarkan DK PBB terhadap Iran dapat menyebabkan efektivitas DK PBB dipertanyakan bahkan diragukan?mengingat seperti pemaparan bapak bahwa sanksi ekonomi saja banyak diragukan oleh banyak pihak termasuk bapak (maap klo perkiraan saya salah). kira2 dasar hukum apa yang dapat mempertanyakan bahkan meragukan efektivitas peran DK?terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: