Hizbullah dan Konflik Lebanon (ISLAM-30)

ISLAM-30

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

Hizbullah dan Konflik Lebanon

Oleh LA  ODE ZULFIKAR TORESANO

(Tulisan ini pernah dimuat dalam  http://forumsptn-politico-questionnaire.blogspot.com  dalam rangka menyongsong peresmian Forum SPTN  pada tanggal  17 Agustus 2007)

 

 

Dalam  Nahjul  Balagha, Imam Ali karamallahu  wajhah  berkata, “Teman dari musuh kamu adalah musuh kamu”.  Dalam landskap politik Lebanon, PM Fouad Siniora menempatkan diri sebagai lawan Hizbullah yang ditandai dengan  kebijakannya (Siniora) yang sejalan dengan keinginan Amerika Serikat, di mana  dalam hal ini antara lain tercermin dari dorongan untuk mengadili para tersangka dalam kasus pembunuhan mantan PM Lebanon Rafik Hariri (14 / 2 / 2005) lewat pengadilan internasional yang hendak  dibentuk atas usulan PBB. Sebagaimana diketahui, dalam konteks Timur Tengah, penerapan kebijakan AS seringkali meminjam tangan PBB untuk mendapatkan legitimasi yuridis. Ini secara telanjang porno terlihat di Irak.

      Dengan telah disahkannya rencana pembentukan pengadilan internasional oleh kabinet PM Siniora (Kompas, 28 / 11 / 2007), bukankah itu berarti telah terjadi lompatan katak yang mengabaikan prosedur konstitusional?  Setidaknya, kenapa  Siniora tidak terlebih dahulu membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), seperti yang dilakukan untuk penyelidikan kasus Mei ’98 di Indonesia?  Memang benar, untuk kasus tersebut, PBB telah membentuk tim pencari fakta dan konon menemukan bukti-bukti keterlibatan petinggi Suriah. Namun, sebagaimana alasan yang telah dikemukakan di atas, legitimasi pencarian fakta oleh PBB itu ditolak Hizbullah beserta sekutunya. Jika untuk pembentukan TGPF saja PM Siniora tidak mampu, bukankah sebaiknya ia mengundurkan diri (untuk tidak mengatakan ia sebaiknya memproklamirkan saja bahwa Lebanon telah menjadi negara protektorat  PBB atau Negara Bagian AS)?

      Peristiwa pembunuhan Menteri Industri Pierre  Gemayel (21 / 11 / 2006) semakin menambah kerunyaman perpolitikan Lebanon. Seperti  pada  kasus  pembunuhan mantan PM Lebanon Hariri, pembunuhan  P  Gemayel  juga dituduhkan kepada Suriah sebagai pihak yang berada di balik pembunuhan tersebut.  Pertanyaannya, dari segi logika bodoh saja, mungkinkah Suriah bermain bensin sementara jilatan lidah api yang diarahkan kepadanya belum juga padam?

     Terkait dengan kematian P Gemayel, Al-Manar — stasiun televisi Hisbullah — memberi komentar (21 / 11 / 2006), para pengawal P Gemayel yang berjumlah besar tidak memberi tindakan apa pun atas pelaku penembakan saat berjalan mendekati mobil Gemayel. Ditambahkan, pelaku tidak dicegah tatkala melarikan diri.

      Dalam konteks tersebut ada tiga fakta menarik yang patut dikemukakan: (1) Dua pekan sebelum kematian P Gemayel, Samir  Geagea — komandan  milisi Kataeb / Phalange (pasukan pengawal Gemayel) — mengingatkan bahwa akan ada menteri yang menjadi target pembunuhan; (2) Beberapa tahun sebelumnya (14 / 9 / 1982) Presiden Bashir Gemayel, paman P Gemayel, juga tewas akibat ledakan bom (beserta 25 pengawalnya). Dua hari kemudian (16 / 9 / 1982), Elie Hobeika — salah seorang komandan milisi Kataeb — dan milisinya, dengan menumpang pasukan Israel membantai 1.500  orang Palestina di Beirut (kamp pengungsi Sabra dan Shatila); dan (3) Lima hari sebelum terbunuhnya P Gemayel muncul pernyataan di situs internet — yang sering digunakan pendukung Al Qaeda di Irak — yang menyerukan    kesiagaan kelompok Sunni karena Hisbullah (Syiah) bermaksud menguasai Lebanon.

  Dari perspektif intelijen kita mengenal adagium  divide  and  rule  (cerai-beraikan dan kuasai). Sebagai komparasi, berdasarkan data  intelijen, Abu Musab al-Zarqawi (salah seorang tokoh Al Qaeda) yang banyak menciptakan teror bom (dan menghembuskan konflik Sunni-Syiah) di Irak — setelah jatuhnya Presiden Saddam Husein — adalah seorang agen yang dibina oleh badan intelijen salah satu negara Arab.  

       Kemudian, yang membidani lahirnya kelompok Taliban adalah beberapa personel dalam Dinas Rahasia Pakistan.  Bukankah kita semua  tahu siapa mentor badan-badan intelijen di kawasan itu?  Nah, untuk Lebanon yang terus bergejolak dan sangat strategis, masuk akalkah jika tidak ada intervensi intelijen asing yang bermain untuk memengaruhi keputusan politik pemerintah dan menciptakan konflik, baik yang berdimensi vertikal maupun horizontal?  Dan, bukankah penyusupan intelijen itu bisa saja hingga ke lingkaran terdekat P Gemayel atau dengan merekrut orang dalam?  Sekadar renungan, untuk Asia Tenggara saja yang relatif stabil ada sekitar 500 ribu agen intelijen, baik yang direkrut secara sadar (direct) maupun tidak sadar (indirect). Bagaimana dengan Lebanon yang secara geopolitik-ideologis sangat strategis di Timur Tengah?

      Dalam konfigurasi seperti dibentangkan di atas, salahkah jika Hizbullah memperjuangkan hak konstitusional sebagian rakyat Lebanon seraya berusaha sekuat tenaga untuk menjaga aurat bangsa dari usaha pengoyakan para demagog atau selebriti politik yang kumisnya  blepotan  keju dan merasa berkepentingan melindungi proyek-proyek maksiat di Beirut, seperti kompleks perjudian terbesar di kawasan Timur Tengah (Casino  du Liban)?  Bisa jadi menurut Hisbullah, sekali diberi peluang, mereka itu akan  dengan bernafsu mempertontonkan  aurat dan mengumbar libido kekuasaan.  Tetapi, mengapa Hisbullah juga tidak bersikap tegas terhadap Suriah yang notabene masih memiliki sisa pasukan (atau satuan intelijen) di Lebanon?  Ini politik, Bung (Mba)!  Bukankah politik adalah salah-satu elemen ideologi yang instrumennya adalah strategi dan taktik?  Jelas, bagi Hisbullah, AS dan Israel (berikut konco-konconya) merupakan musuh ideologis; sedangkan Suriah bisa dipetakan sekadar musuh taktis.  Nah, dalam wacana pertarungan sosial-politik-ideologis, perbedaan taktis bisa dirujukkan dalam koalisi strategis.  Tapi kalau perbedaan terjadi pada tataran ideologi, apa yang mau bisa dirujukkan?

       Bagi yang mengklaim diri tidak menganut ideologi tertentu atau menafikan peran ideologi (berpaham nir-ideologi), rujukannya mungkin pada  “pragmatisme”.  Namun, bukankah pragmatisme sering dijadikan kuda tunggangan (sadar atau tidak sadar) oleh ideologi  tertentu?  Sampai di sini mungkin kita perlu mengkaji ulang tesis Samuel Huntington: The  Clash  of  Civilization atau juga layak memperdebatkan kembali proyek deidelogisasi filsafat yang  diusung  oleh filsuf mazhab Frankfurt Theodore Adorno  seraya — untuk sementara — tidak begitu saja menelan bulat-bulat apa yang dikatakan oleh filsuf Jerman Fichte: ”Was fur eine  Philosophie man  wahle hangt  davon  ab, was  fur  ein  Mensch  man  ist” (jenis filsafat yang dipilih oleh seseorang akan menentukan jenis manusianya). Mengapa? Karena kendati ada kelompok yang  ngotot  hendak memisahkan (decoupling) filsafat (dan juga kultur) dari ideologi, namun ideologi  (baca: ideologi parsial) itu sendiri justru berpijak pada landasan filsafat tertentu.  Tentu saja ada ideologi (baca: ideologi universal) yang berlandaskan “agama”, meski — harus diakui — tidak semua agama dapat dikatakan sebagai ideologi karena perangkat minimal dari suatu ideologi adalah harus memiliki sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem hukum.

      Oleh karena itu, tudingan bahwa kesalahan ideologi adalah karena  menempatkan identitas sebagai sesuatu yang tetap (konstan) dapat dianggap keliru atas dasar argumen bahwa — dalam ukuran-ukuran tertentu — suatu ideologi pastilah akan menyesuaikan diri terhadap perkembangan zaman dan situasi di mana dia beroperasi (dimensi ruang).   Virus dan bakteri saja bisa beradaptasi, koq!

       Kalangan nir-ideologi juga menyatakan: tak ada identitas (termasuk identitas ideologi), yang ada hanya interaksi. Mereka lalu mengajukan pertanyaan provokatif: Dalam interaksi, di manakah atom?  Dalam interaksi, bagaimana kita bisa percaya kepada yang “asli”, mengingat  ciri  abadi hidup adalah berubah? Bukankah dalam interaksi atom-atom yang kemudian ada adalah “senyawa” atau “molekul”?

       Terhadap pertanyaan-pertanyaan seperti di atas kita perlu balik bertanya, bukankah interaksi dapat diidentikkan dengan “aksi-reaksi”?  Bukankah dalam perspektif ilmu kimia, aksi-reaksi bisa dipersamakan dengan aksi dapat balik (reversible), di mana — misalnya —unsur hidrogen (H2) dan khlor (Cl) bisa melakukan  “aksi bersama” membentuk senyawa asam khlorida (HCl), tapi juga bisa  berbalik atau mengurai kembali menjadi seperti semula dengan kecepatan yang sama dalam rangka membentuk “kesetimbangan”? Jika keaslian atau identitas unsur khlor dan unsur atau molekul hidrogen sirna  (secara substansial)  ketika menjadi senyawa asam khlorida, bagaimana mungkin wujud atau identitas keduanya bisa kita saksikan lagi setelah terjadi  “reaksi balik”?

       Jangan-jangan pengamatan mereka (kelompok nir-ideologi) yang justru memiliki keterbatasan. Bukankah aksi-reaksi yang berlangsung terus-menerus itu merupakan proses perubahan (relative change) yang berlangsung kontinyu?

      Sesungguhnya, proyek Amerikanisasi (ideologi neo-liberalisme atau ultra-kapitalisme) yang mengusung isu globalisasi (suatu istilah yang dipopulerkan oleh Anthony Giddens, mantan mentor PM Inggris, Tony Blair) telah mengkooptasi   logika  industri  dan  logika  pasar   bebas (harap dibedakan dari  “pasar sosial”) yang menjelma menjadi budaya massa dengan bekerja melalui penyeragaman selera dan pelenyapan individualitas atau eksistensi (identitas) kelompok-kelompok masyarakat dan juga “ideologi”. Sehingga, keliru sekali jika seseorang atau sekelompok orang yang berpikir dan bertindak secara ideologis dituding tenggelam dalam idealisasi diri (nilai atau norma) yang menolak realitas baru (a-realistis).  Kalau begitu, bukankah cara berpikir kelompok nir-ideologi ibarat menari dengan mengikuti irama genderang yang ditabuh oleh para demagog neo-kolonialis yang berlindung di balik topeng humanisme (pseudo-humanism)? [**]

____________________

LA  ODE ZULFIKAR TORESANO (Aba Zul) adalah Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN), Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: