Kata Sambutan Abdulazim Hashemi Nik, Kuasa Usaha Republik Islam Iran (di Jakarta) (ISLAM-18)

ISLAM-18

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Kata Sambutan

Abdulazim Hashemi Nik,

Kuasa Usaha Republik Islam

Iran (di Jakarta)

(Dikutib dan diedit dari Majalah Yaum Al-Quds, Rabiul Awal 1403 H oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional — Forum SPTN, Jakarta)

Bismillahirrahmanirrahim.

“Dan berpeganglah kamu semua pada tali (agama) Allah, dan

janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu

ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah

menjinakkan antara hatimu, lalu menjadikan kamu karena nikmat Allah

orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka,

lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara

kamu yang menyeru kepada kebajikan, kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai

orang-orang yang cerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang

jelas kepada mereka. Itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.”

(Al-Qur’an, Surah Ali ‘Imran, ayat 103-105)

Republik Islam Iran sedang merayakan dengan khidmatnya hari ulang tahun yang kedua Pekan Persatuan. Perlunya Persatuan Ummat Islam selalu terasa sepanjang pasang surut sejarah Islam — dan agama suci ini — yang akan menghidupkan kembali kejayaan masa lalunya dengan membangkitkan semangat persaudaraan. Ummat Islam sedunia, sedang mengatasi rintangan-rintangan yang diciptakan lawan untuk memecah belah sesama saudara Muslimin.

Sesudah masa Nabi kita Muhammad (kedamaian atas beliau beserta para pengikut dan keturunannya), yang telah berulang-ulang menekankan Persaudaraan Muslimin (Ukhuwwah Islamiyah), ummat Islam mengalami penderitaan karena perpecahan terus-menerus yang disebabkan oleh manipulasi orang-orang oportunis yang mengejar kepuasan hati mereka sendiri. Namun, ada pula pejuang-pejuang ikhlas yang sepanjang hidupnya berusaha menggerakkan kaum Muslimin untuk bersatu kembali.

Sayyid Jamaluddin Asadabadi, yang lebih dikenal sebagai Jamaluddin Al-Afghani, adalah salah seorang di antara mereka yang tidak putus-putusnya berjuang di jalan ini. Ia melakukan berbagai perjalanan, mengadakan pertemuan dan khotbah-khotbah, diskusi dan konsultasi, menyiarkan artikel-artikel dan aneka penerbitan ke seluruh dunia Islam, dan ia bahkan menghadapi segala macam bencana dan bahaya, dan kemudian mengakhiri hidupnya yang penuh buah itu dalam perjuangan untuk menerangkan perlunya persatuan umat — yang didambakan itu — kepada pemimpin-pemimpin dunia Islam.

Sepeninggal Sayyid Jamaluddin, Muhammad Abduh dan murid-murid serta sahabat-sahabatnya meneruskan pula gagasan tersebut. Dalam hal ini, sikap dan fatwa-fatwa Syekh Mahmood Shaltout, yang menjadi Syekh Al Azhar di Mesir — semoga Allah melimpahkan rahmat atasnya — termasuk sangat penting.

Di sisi lain, “kolonialisme lama” tidak pernah berhenti menggunakan berbagai muslihatnya untuk memasang rintangan-rintangan pada jalan pergerakan Islam yang membawa harapan itu. “Kolonialisme baru” juga mengikuti jalan ini, menyalahgunakan hasil terakhir ilmu pengetahuan tentang kemanusiaan dan kemasyarakatan serta konsep-konsep politik yang secara lahiriah tampak bagus guna memenuhi perasaan tanggung jawab atas orang lain. Mereka menginjeksikan pikiran-pikiran setan yang memobilisasi perasaan keakuan dan kesukuan yang kemudian menghasilkan sikap abai terhadap orang lain — dalam cara tertentu — seraya menyebarluaskan berita dan informasi-informasi palsu, yang mengecewakan, tentang gerakan kebangkitan kembali nilai-nilai kemanusiaan dalam cara lain. Hasilnya melahirkan ketidaktahuan masyarakat dan sejumlah persoalan ekonomi yang berkombinasi dengan akibat-akibat lain sebagai buah (busuk) dari penindasan atas ummat Islam. Dan itu selalu mengarah pada perpecahan dan ketidakpercayaan terhadap kekuatan sendiri.

***

REPUBLIK Islam Iran sekarang — di bawah pimpinan Imam Khomeini — telah mencapai tingkat maksimum dalam persatuan antara sesama saudara Muslimin; dan hasil- hasil dari persatuan seperti itu sedang ditunjukkan dalam segala aspek kehidupan rakyat Iran.

Ummat Islam telah hidup berdampingan secara damai dengan masyarakat non-Muslim sejak munculnya Islam. Sebagian besar dari kalangan non-Muslim tersebut masih menikmati hidup berdampingan secara damai dan mereka menyebutnya sebagai satu titik positif bagi mereka sendiri. Tentu saja, bila perasaan total kemasyarakatan mengalami kedamaian seperti itu, maka tidak ada alasan bagi sesama Muslim untuk mengangkat diskusi atau perdebatan-perdebatan tentang perbedaan pemikiran dan keyakinan, sebab hal demikian tidak akan pernah menghasilkan sesuatu selain dari memperdalam jurang kesalahpahaman; dan itu berarti kaum Muslimin memberi kesempatan bagi musuh-musuh Islam untuk mencapai tujuan-tujuan mereka dengan biaya yang sangat murah.

Sebagai pengganti dari sikap saling menyalahkan — dengan argumentasi dangkal (yang datang dari emosi yang tidak diinginkan atau ketidaktahuan akibat keengganan mempelajari “pokok-pokok kepercayaan” kita bersama, di mana kesamaannya jauh lebih banyak dari perbedaannya) — kaum Muslimin perlu menyadari jalan-jalan keliru yang telah ditempuhnya.

***

PEKAN Persatuan Ummat digagas oleh Ayatullah Husein Ali Montazeri dari tanggal 12 hingga 17 Rabiul Awal setiap tahun dalam rangka memperingati setiap usaha yang diinginkan pada hari Maulid Nabi Besar Muhammad saw, seorang pemimpin yang telah membawa persatuan di kalangan ummat Islam sedunia. [**]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: