Empat Kuadran Kemapanan Finansial (Manajemen Islami?) Oleh: La Ode Zulfikar Toresano (ISLAM-17)

ISLAM-17

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Empat Kuadran

Kemapanan Finansial

(Manajemen Islami?)

Oleh: La Ode Zulfikar Toresano

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-indo-technoeconomic.blogspot.com

pada tanggal 17 Agustus 2007.

Robert T Kiyosaki, seorang pakar motivator ternama, dalam bukunya: Cash-flow Quadrant,
membuat empat kuadran untuk mencapai kemapanan finansial, yaitu employee / E (karyawan), self employed / S (pekerja mandiri), business owner / B (pemilik usaha), dan investor / Inv, yang berturut-turut menempati kuadran I, II, III, dan IV yang dibentuk oleh sumbu x (abscissa) dan y (ordinate).

Garis-garis sumbu (x dan y) yang membagi kuadran-kuadran tersebut membentuk satu titik koordinat, yang saya sebut sebagai “titik (poros) motivasi diri”. Dengan motivasi berarti akan lahir gerak perubahan menuju pada sasaran atau target yang hendak dicapai. Karena gerak perubahan itu dipersepsikan sebagai gerak putar (melingkar), maka dari titik koordinat bisa dibuatkan garis lingkaran utuh (full circle), yang saya istilahkan sebagai “lingkaran kemapanan finansial” (LKF).

Memang, kemapanan finansial (kf) sangat beragam. Ada yang mengatakan bahwa seseorang telah mencapai kf bila mampu memenuhi semua kebutuhannya sesuai dengan standar hidupnya, baik pada masa produktif (masa bakti) maupun tidak produktif (purna bakti) tanpa membebani orang lain.

Ada lagi yang mengatakan, tidak hanya harus sesuai dengan standar hidupnya sebagai individu, tapi juga keluarganya (QS 2 : 233 dan QS 66 : 6). Pertanyaannya, bagaimana menentukan standar hidup itu? Dengan pola hidup materialistis atau konsumeristis, bukankah standar hidup itu lebih ditentukan oleh hawa nafsu ketimbang nilai fungsional obyek yang dikonsumsi?

Kemudian, untuk menggapai kf ada lagi yang mengatakan, cukup dengan hanya mengoptimalkan perannya pada kuadran I. Dengan kata lain, dia cukup puas sekadar menjadi karyawan, yang senang dengan rutinitas, status quo, ketergantungan (inward looking), menunggu perintah (takut mengambil risiko), dan bertindak reaktif (bukan proaktif). Ditambahkan, bahwa — dalam era informasi ini — karyawan yang berkualitas adalah yang mampu bekerja sebagai problem solver bagi perusahaan atau instansi tempat ia bekerja.

Menurut saya, karyawan seperti itu tidak lebih dari sekadar mesin pemroses persoalan atau alat pemadam kebakaran (maaf). Seharusnya — jika ia sebagai knowledge worker — dengan modal pengetahuannya, ia bisa menciptakan kondisi atau sistem (vaksin penangkal) yang tidak akan memungkinkan munculnya atau masuknya (virus) masalah di lingkungan kerjanya. Tetapi, karena dia berada dalam wilayah manajemen yang dikendalikan oleh pihak lain, pasti ia mengalami internal conflict dalam dirinya. Dengan kata lain, ia tidak lebih dari sekadar tukang yang memenuhi kerangka acuan kerja (TOR / Term of Reference) yang ditetapkan oleh mandornya (majikannya).

Menghadapi kondisi seperti ini, dia harus memilih: (a) Menerapkan manajemen konflik untuk meminimalkan friksi-friksi di lingkungan kerjanya; (b) Bermigrasi atau bertransformasi ke kuadran II, tetapi belum sepenuhnya meninggalkan kuadran I (sementara tetap menjadi karyawan, ia pun menemukan lahan baru sebagai pekerja mandiri); (c) Bermigrasi penuh ke kuadran III (menjadi pengusaha).

Tentu saja, proses transformasi penuh ke kuadran III itu hanya dilakukan oleh pribadi-pribadi yang matang perhitungan (luas wawasan), berani mengambil risiko, berorientasi ke depan (forward orientation), dan memiliki kekayaan inovasi. Yang perlu diperhatikan oleh pribadi-pribadi brilian seperti itu adalah kapan harus melakukan transformasi (migrasi) dan bagaimana cara melakukannya. Dalam kaitan ini harus ada ukuran-ukuran tertentu yang perlu dijadikan acuan. Misalnya, dalam kurun waktu tertentu, adakah peningkatan level jabatan dan pendapatan? Bila tak ada peningkatan, atau peningkatannya sedikit sekali, maka perlu dipertimbangkan untuk bermigrasi ke kuadran lain (berikutnya). Tapi sebelum melakukan migrasi, harus dipertimbangkan agar keputusan yang diambil tidak menimbulkan risiko atau goncangan besar.

Mungkin strategi berikut ini bisa dicontohi: Sementara bekerja pada kuadran I, juga harus mulai dicoba beraktifitas pada kuadran II. Selama periode tertentu — misalnya tiga tahun — aktifitas-aktifitas pada dua kuadran ini dibiarkan berproses secara bersamaan. Kemudian, lakukanlah penilaian-penilaian yang dicapai pada dua kuadran tersebut selama periode termaksud, yang disertai pembuatan grafik prediksi pertumbuhan berkesinambungan (sustainable growth) selama beberapa tahun ke depan untuk masing-masing kuadran (I dan II).

Bila hasil yang didapatkan pada kuadran II (pekerja mandiri) lebih tinggi dari kuadran I, dan grafiknya pun lebih curam (grafik kuadran II lebih curam dari I), maka bisa diputuskan untuk bertransformasi sepenuhnya menjadi pekerja mandiri (kuadran II).

***

KETIKA berada pada kuadran I dan II, si pelaku mengalami proses “internalisasi”, yang jika bekerja optimal bisa memicunya untuk bertindak secara outward looking, terbuka, dan berorientasi ke depan (forward orientation). Maka, ia akan menempuh proses selanjutnya yang disebut “institusionalisasi” atau pelembagaan. Pada tahap ini, demi efisiensi dan efektifitas kegiatan usahanya, ia akan membentuk suatu unit usaha yang terorganisir dengan sistem manajemen teratur (modern).

Bila dikelola secara baik dan modern, kendati unit-unit usaha itu berskala kecil, namun bisa membentuk jaringan (networking) berskala luas dan memupuk modal secara kuat. Merekalah kekuatan bisnis yang sangat menentukan di era globalisasi ini, seperti dinyatakan oleh John Naisbitt dan Patricia Aburdent dalam buku mereka: Megatrends 2000 (1997).

Proses pembentukan network tersebut saya sebut sebagai proses “sosialisasi”, dan ia tidak saja diartikan sebagai proses penciptaan pasar, tapi juga perluasan investasi (kuadran IV) yang dalam era digital ini sudah bergerak tanpa mengenal batas (the borderless world).

Al-Qur’an menyatakan: “Allah menciptakan kamu bersuku-suku, berbangsa-bangsa untuk saling mengenal.” (QS 49 : 13 ). Karena Al-Qur’an itu bisa ditafsirkan secara kontekstual, maka ayat ini saya tafsirkan secara dinamis sebagai berikut: “Allah menganugrahkan berbagai potensi kepada kamu untuk dikelola secara interaktif (dan optimal) melalui suatu jaringan usaha-usaha terpadu (integrated industries or enterprises networking) demi kemaslahatan ummat manusia.”

Jadi, semangat kerjasama konstruktif di situ tidak hanya terbatas pada lingkaran ummat Islam saja; sebab bisa jadi dalam satu komunitas suku atau bangsa terdiri dari berbagai agama. Apalagi dalam beberapa komunitas suku atau bangsa. Kendati begitu, harus ada acuan bersama (kalimat shawa atau common platform) yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Ilahiah.

***

OLEH karena setiap program harus disusun berdasarkan skala prioritas, maka ummat Islam bisa saja membangun jaringan mulai dari lingkaran terdekat (terkecil), yakni ummat Islam itu sendiri. Dan jaringan terkecil dari ummat Islam adalah unit keluarga (family).

Suatu unit keluarga Muslim bisa membangun kekuatan ekonomi atau unit usaha modern yang permodalannya disesuaikan dengan kemampuan (ekonomi) keluarga tersebut. Saya bisa berikan ilustrasi begini: Dengan hanya membeli satu unit alat press buah melinjo, satu unit mesin pengepakan, dan seperangkat alat memasak, sudah bisa berproduksi satu home industry modern — yang tidak mengganggu lingkungan (tetangga) — yang menghasilkan emping mentah dan beragam emping olahan. Karena diolah secara modern, produk-produ industri tersebut jelas memiliki nilai tambah (added value) dan layak bersaing dengan produk-produk makanan yang dihasilkan oleh berbagai industri kapitalis. Ini baru satu komoditas. Berapa ribu komoditas (dari darat dan laut) yang terdapat di Nusantara ini?

***

OLEH karena itu, model industrialisasi ummat Islam selayaknya berorientasi pada pemanfaatan bahan baku lokal, sehingga bisa melibatkan partisipasi masyarakat secara luas; dan bukan seperti model industrialisasi yang ditawarkan oleh pemerintahan Orde Baru yang manfaatnya hanya dirasakan oleh segelintir orang, dan mewariskan utang negara secara beranak-pinak.

Yang saya ingin tandaskan adalah bahwa penggalakan penciptaan industri-industri seperti ini (resource based industries) jauh lebih efektif dari sekadar seruan memboikot produk-produk kapitalis asing. Seseorang yang mekanisme pencernaannya sudah terlanjur cocok dengan makanan ala Amerika, misalnya, susah dipaksa untuk segera berhenti mengkonsumsi makanan (cow boy) tersebut. Tindakan yang cerdas adalah bagaimana menyediakan makanan alternatif (berbahan baku lokal) — yang proses pengolahannya memenuhi standar — tetapi bisa beradaptasi dengan mekanisme pencernaan seperti itu.

***

BERTITIK tolak dari uraian di atas, hal lain yang juga penting adalah kegiatan promosi atau pembentukan citra produk (image building atau brand image). Untuk skala pemasaran kelurahan, misalnya, industri-industri keluarga seperti di atas belum perlu menginvestasikan biaya promosi. Namun, untuk skala lebih besar (luas), kegiatan promosi dianggap sebagai hal yang mendesak. Masalahnya sekarang adalah dari mana mendapatkan biaya promosi yang tidak kecil itu? Pada kondisi demikian, industri-industri ini perlu membangun jaringan kerja sama (QS 5 : 2 dan QS 49 : 13) dengan individu-individu atau institusi-institusi lain, misalnya saja lembaga-lembaga amil zakat (LAZ) atau berbagai bank syariah. Industri-industri tersebut perlu terus mendesakkan agar lembaga-lembaga keuangan Islam ini terus merumuskan skema kerjasama yang efektif agar mau secara dominan mengalokasikan bantuannya untuk menopang kegiatan-kegiatan produktif (bukan melulu untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat konsumtif).

Oleh karena itu, model jaringan usaha yang perlu dikembangkan ummat Islam adalah bukan lagi sekadar memasarkan produk-produk industri kapitalis (neoliberal), tapi justru produk-produk yang mereka hasilkan sendiri. Pada kondisi demikian, ummat Islam bukan lagi sekadar menjadi baut-baut yang menopang struktur mesin kapitalisme.

Pada skala global, kita masih pesimis melihat prospek jaringan kerjasama ummat Islam. Dalam hubungan ini saya berikan perspektif sebagai berikut: Dari sebelas negara anggota organisasi negara pengekspor minyak (OPEC) hanya satu yang non-Muslim. Tapi mereka sulit bisa bersama-sama merumuskan angka produksi dan kebijakan harga, kuota, dan sebagainya. Padahal ini memiliki implikasi ekonomi yang besar terhadap perekonomian dunia, yang juga berarti bahwa sesungguhnya ummat Islam melalui kebijakan perminyakan bisa mendisain suatu format tawar-menawar politik atau diplomatik (political and diplomatic bargaining power) terhadap negara-negara Barat (berikut konco-konconya) guna menyelesaikan persoalan-persoalan saudara-saudara mereka, seperti di Palestina, Kashmir, Irak, Sudan, Mogadishu, Kenya, Thailand Selatan, dan sebagainya. Jangan-jangan ketidaksamaan visi negara-negara OPEC itu merupakan bagian dari keterpelesetan mereka dalam ranjau neoliberalisme (kapitalisme mutakhir).

***

SAYA berimajinasi, daripada menunggu terwujudnya kesamaan visi negeri-negeri Islam, lebih baik bila industri-industri kecil seperti dikemukakan di atas melakukan terobosan, misalnya mengirimkan contoh produk-produk mereka ke berbagai usaha retail yang tersebar di negeri-negeri Islam. Siapa tahu mereka tertarik dan membangun kerja sama lestari. Dapat dibayangkan, bila ada seribu produk yang bisa dimasukkan dalam skema kerjasama ekonomi (bisnis) seperti ini, berapa omzet yang dihasilkan, dan berapa jumlah tenaga kerja yang bisa diserap?

Jadi, persoalannya sekarang adalah bagaimana membuat konsep dan disain industri-industri kecil modern (sekali lagi: “modern”) seperti itu, kemudian bagaimana strategi agar masyarakat bisa mengakses secara gampang, murah, dan meriah; dan tidak seperti konsep mentah (dan terpenggal-penggal) yang dijual dengan mahal — kepada para mahasiswa — oleh berbagai perguruan tinggi di negeri ini.

***

BILA kita putar kembali jarum sejarah Islam, terungkap bahwa dalam proses perjalanan hidupnya, Rasulullah Muhammad SAW menjalani urutan-urutan transformasi dari kuadran I, II, III dan IV. Di situ ada beberapa hal yang sangat menarik. Pertama, Muhammad SAW hanya sebentar berprofesi sebagai karyawan Siti Khadijah (yang pada saat itu sebagai pengusaha besar kelas internasional). Ini antara lain disebabkan oleh kejujuran beliau, sehingga dengan cepat dipercaya (oleh Siti Khadijah) untuk menjalankan usaha, berikut bantuan permodalan. Ditambah pula dengan keluasan wawasan serta keberanian mengambil inisiatif-inisiatif baru, maka beliau bisa dengan cepat mentransformasikan diri menjadi pekerja mandiri (kuadran II), pemilik usaha (kuadran III), dan investor (kuadran IV) pada level internasional secara hampir bersamaan.

Kedua , sebelum menjadi karyawan Siti Khadijah, pada masa usia belasan tahun, Muhammad SAW telah sering kali diajak oleh paman beliau (Abu Thalib) melakukan perjalanan ke luar negeri untuk berbisnis. Dengan begitu, Muhammad SAW telah mendapatkan training yang sangat berharga tentang bagaimana membangun jaringan bisnis dan investasi berskala internasional (kuadran IV).

Ketiga , belajar dari kasus di atas, untuk menciptakan kemapanan finansial (kf) tidak selamanya harus dimulai dengan menjadi karyawan (kuadran I). Dari hubungan Abu Thalib dan keponakannya (Muhammad SAW), terlihat bahwa pengenalan atau training awal untuk membangun aktifitas pada kuadran II, III, dan IV sudah lebih dulu dialami oleh Muhammad SAW sebelum menjadi karyawan Siti Khadijah (kuadran I) — yang kemudian juga menjadi istri beliau.

***

JIKA dilihat dari paradigma pemikiran Sun Tzu (ahli strategi militer dari Tiongkok kuno), pada kasus tersebut Muhammad SAW berada dalam posisi dan momentum strategis. Beliau dengan cerdas mampu memanfaatkan secara optimal berbagai sumber daya (resources) yang ada di lingkungannya yang disinergikan dengan sumber daya yang beliau miliki.

***

KENDATI mayoritas rakyat di Dunia Ketiga (negara-negara Muslim) adalah pengangguran, tetapi dalam kaitannya dengan LKF, saya tempatkan kelompok ini dalam kuadran I (kuadran E). Karena kurangnya motivasi (dan juga wawasan), posisi mereka sukar untuk berpindah ke kuadran II (S). Ini semakin dihambat oleh ketidakmampuan untuk meningkatkan atau mentransformasikan potensi-potensi diri menjadi layak jual.

Meminjam terminologi mekanika, pribadi seperti itu kurang mampu mentransformasikan energi potensial (Ep) atau resources yang dimilikinya menjadi energi kinetis pemberdayaan (Ek).

Bila dilacak lebih menukik lagi dengan menggunakan detektor pemikiran saintifik, ternyata Ek itu dibentuk oleh “massa”/m dan “kecepatan”/v (yang tentu saja ada kaitannya dengan “momentum”/ M, karena M = m x v).

***

DARI perspektif pemikiran Islam, m atau “kwalitas statis” seseorang ditentukan oleh ilmu atau pengetahuannya; dan tentu saja juga keimanannya. Tapi bagaimana seseorang (baca: ummat Islam) bisa menguasai ilmu jika dihinggapi kemalasan atau ketakutan untuk berfikir (phronemophobia), padahal kita tahu bahwa orang yang berpengetahuan itu bukan saja unggul (QS 39 : 18), tapi bahkan dimuliakan Allah SWT (QS 58 : 11); dan oleh karenanya harus rajin membaca (QS 96 : 1 dan 73 : 20).

Jadi keterpurukan seseorang (baca: ummat Islam) lebih disebabkan oleh kekeliruannya sendiri (QS 53 : 39, QS 4 : 111, dan QS 29 : 40), dan sangat naif bila ditimpakan kepada Allah SWT (QS 10 : 44 dan QS 41 : 46 ), meski tidak dipungkiri bahwa banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan tentang musibah-musibah atau ujian-ujian yang diberikan oleh Allah SWT sebagai wujud kasih sayang-Nya, antara lain untuk meningkatkan maqam rukhaniyyah hamba-Nya, atau dalam bahasa yang lebih membumi adalah untuk membangun kematangan pribadi yang bersangkutan.

Kualitas statis” (ks) itu bisa bertransformasi menjadi “kualitas dinamis” (kd) akibat pengaruh kecepatan metabolisme (v) sumber daya intelektual, emosional, dan spiritual yang bekerja dalam diri seseorang. Tetapi, keefektifan transformasi tersebut sangat bergantung pada “momentum” (M). Sun Tzu berkata: “Yang mampu memindahkan batu di sungai adalah karena momentumnya.” Ia benar, meski asumsinya perlu dikembangkan lagi. Batu (m) bukan saja berpindah, malah bisa terhempas jika diberi semburan air berkecepatan tinggi dari pipa-pipa pancar yang digerakkan oleh mesin kompressor.

Dengan kata lain, pergerakan batu tidak hanya dibiarkan pada faktor alam yang serba tidak terukur dan tidak konstan, tetapi harus ada pelibatan peran manusia (ilmu) untuk menghasilkan momentum maksimal. Bukankah manusia diciptakan oleh Allah SWT untuk mengelola atau memberdayakan (bukan memperdayai) alam semesta? (QS 11: 61).

Hubungannya dengan pembicaraan sebelumnya adalah bahwa seseorang yang ingin merubah posisinya dari kuadran I ke II (dan seterusnya) juga patut mempertimbangkan faktor M untuk mencapai hasil yang optimal. Artinya, dia harus mampu mengidentifikasi pada skala kematangan intelektual, emosional, dan spiritual yang ke berapa ia harus memulai suatu perubahan. Tentu saja ini juga terkait dengan lingkungan yang dihadapi.

Oleh karena itu, mengapa — misalnya — Rasulullah Muhammad SAW nanti pada usia 40 tahun baru mulai mengemban misi kerasulan, dan bukan sebelum atau setelah usia tersebut; padahal kita tahu bahwa kerasulan beliau ditentukan oleh Allah SWT. Tentu saja angka 40 (tahun) tidak bisa dijadikan sebagai standar kematangan setiap pribadi, kendati ada adagium: life begin from forty.

***

KARENA tidak ada saham kecepatan (v) eksternal pada Ep [Ep = m. g. h (di mana: m = massa; g = gravitasi; h = “tinggi” atau “jarak”)], maka ia juga bisa disebut sebagai “kualitas statis” (ks). Meskipun statis, bukan berarti eksistensi Ep tidak bermakna. Dengan menggunakan pendekatan persamaan kalkulus (matematika) bisa dilukiskan interaksi antara Ep dan Ek yang menggambarkan sistem dinamis.

Dengan kata lain, secara matematis, ada “fungsi pengaruh” di antara keduanya (Ep dan Ek). Dalam ilmu kimia pun kita kenal model reaksi timbal balik (reversible), yakni reaksi antara unsur-unsur yang membentuk senyawa (atau molekul) atau yang menguraikan senyawa menjadi unsur-unsur (atau atom-atom).

Dengan “fungsi pengaruh” itulah, Ep dan Ek bisa berkonvergensi atau berkolaborasi membentuk “energi mekanik pemberdayaan” (Em) atau “energi dinamis pemberdayaan”.

***

JADI, dengan mengikuti prinsip dialektika pemikiran, seseorang yang berikhtiar untuk merubah posisinya dari kuadran I ke II, II ke III, dan III ke IV, tidak saja harus mampu mentransformasikan Ep menjadi Ek, tapi juga mengkonvergensikan keduanya menjadi Em.

Kemudian, dengan merujuk pada Hukum Kekekalan Energi (Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan), berarti di alam semesta ini berlaku hubungan-hubungan transformasi energi, misalnya dari Em menjadi energi listrik (EL), dari EL menjadi EM, dan seterusnya.

Sampai di sini timbul pertanyaan, siapa yang menciptakan energi itu? Untuk menjawabnya diperlukan kajian mendalam, namun jika dilihat dari perspektif filsafat Islam, semua eksistensi di alam semesta ini — baik yang dzahir maupun bathin — diciptakan oleh Allah SWT. Tidak ada satu pun kekuatan, termasuk motivasi manusia, yang luput dari kekuasaan-Nya (QS 25 : 2). Sehingga, seharusnya motivasi diarahkan untuk mengabdi atau beribadah kepada Allah SWT (QS 51 : 56).

Kendati demikian, perlu diketahui, untuk beribadah atau mencintai Allah SWT, seorang haruslah mencintai Rasulullah Muhammad SAW; dan untuk mencintai Rasulullah SAW haruslah mencintai keluarga (Ahlul Bait — QS 33 : 33) beliau. Sedangkan untuk mencintai Ahlul Bait beliau haruslah mengenali riwayat serta perjuangan mereka, kemudian mentransformasikannya secara dinamis dan kontekstual. Menyedihkan sekali bila ada yang menepuk dada sebagai pejuang Islam (atau beragama Islam), tetapi tidak mengenali pribadi-pribadi seperti Saydina Ali, Sayyida Fathimah, Saydina Hasan, Saydina Husein yang sangat dicintai oleh Baginda Rasulullah SAW.

***

KARENA Allah SWT menganugrahkan kemerdekaan kepada manusia untuk menentukan pilihannya (QS 53 : 39, QS 13 : 11 dan QS 76 : 3), maka lahirlah berbagai motivasi yang memengaruhi sikap dan tindakan setiap individu atau kelompok sosial.

***

DI atas, saya telah uraikan transformasi dari kuadran yang satu ke kuadran yang lain. Secara substansial, transformasi tersebut timbul dari inner force yang ada dalam diri seseorang. Inilah yang disebut “motivasi” atau dalam bahasa santrinya disebut “niat”. Begitu strategisnya peran “niat” dalam suatu perubahan, sehingga agama menekankan, “Segala sesuatu bergantung pada niat” (Innamal a’malu binniyah).

Motivasi dipicu oleh suatu keyakinan (self confidence), yang antara lain dibentuk oleh filsafat. “Was fur eine Philosophie man Wahle hangt davon ab, was fur ein Mensch man ist (Jenis filsafat yang dipilih oleh seseorang akan menentukan jenis manusianya),” begitu kata Fichte (1762-1814), filsuf Jerman.

Kendati motif-motif bisa dikelompokkan dalam motif biogenetik, sosiogenetik, ideologi genetik, dan teogenetik, namun motif-motif tersebut tidak akan dibahas di sini. Secara filosofis, setiap perilaku individu yang dibentuk oleh sistem kapitalisme atau sosialisme dan varian-variannya selalu berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan material atau duniawi semata, sekalipun berlindung di balik kedok humanisme dan keadilan. Jangan heran bila Anda bisa saja temukan seorang ustadz, misalnya, begitu bangga tatkala diundang berceramah pada sebuah komunitas borjuis, tapi segera akan memperlihatkan kesedihan atau kekecewaan mendalam jika order ceramah hanya datang dari musholla yang ada di lingkungan kelurahannya. Seandainya ustadz tersebut mendasarkan motivasinya pada prinsip agama (bukan sekadar lip service), maka dia tidak akan mengingkari etika zuhud. Ketika ditanya tentang makna zuhud, Imam Zainal ‘Abidin (as) menerangkan: “Zuhud itu ada sepuluh perkara, dan setinggi-tinggi derajat zuhud sama dengan serendah-rendah derajat wara’; setinggi-tinggi derajat wara’ sama dengan serendah-rendahnya derajat yaqin; setinggi-tinggi derajat yaqin sama dengan serendah-rendahnya derajat ridha. Ketahuilah, sesungguhnya zuhud itu terdapat dalam suatu ayat dalam Kitabullah, yaitu: ‘Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu’ (QS 57 : 23).”

***

ATAS dasar uraian di atas dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan LKF yang berbentuk full circle (tidak lonjong) haruslah ditumpukan pada poros motivasi Ilahiah karena hanya dengan itulah bisa tercipta keseimbangan antara gaya sentrifugal (mengarah ke luar) dan gaya sentripetal (mengarah ke dalam) pada diri seseorang. Bukankah prinsip keseimbangan atau keadilan sangat dianjurkan dalam agama?

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kamu untuk berlaku

adil (menjaga keseimbangan) dan berbuat baik.”

(Al-Qur’an)

***

DALAM ilmu manajemen pemasaran, kita mengenal konsep “360 Degrees Customer-Centric Marketing” / 360 DCCM (yang merupakan modifikasi konsep “Sembilan Elemen Pemasaran”) yang diperkenalkan oleh MarkPlus & Co. Bagi saya, konsep ini — termasuk juga konsep-konsep lainnya — tidak akan efektif bila melanggar hukum keseimbangan gaya sentripetal dan gaya sentrifugal yang tunduk pada fungsi pengaruh optimalisasi kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ). Maka, LKF dan 360 DCCM (dan juga model lingkaran-lingkaran lainnya) bisa pula diproyeksikan dalam alam metafisik karena manusia adalah makhluk paradoksal, yakni materi ber-rukh dan rukh bermateri. Dengan menggunakan persamaan matematika kalkulus bisa saja ditemukan relasi antara dunia fisik dan non-fisik.

***

DARI perspektif religiusitas, shalat merupakan mediator antara dua alam: fisik dan non-fisik. Bahkan, bisa sebagai determinan untuk mengatasi segala problema yang terjadi dalam dua alam tersebut. “Sesungguhnya shalat dapat mencegah (mengatasi) perbuatan keji dan munkar,” demikian yang diajarkan agama.

Karena gerakan-gerakan dalam shalat lahiriah pun membentuk lingkaran 360 derajat, maka — sesuai dengan prinsip the couple existence (QS 36 : 36) — seharusnya secara rukhaniyyah, shalat juga dapat membentuk formasi lingkaran 3600. Tetapi agar dapat membentuk full circle (tidak lonjong atau tidak penyok), maka ia harus ditopang oleh jari-jari yang berupa sumbu x dan y (jari-jari utama). Dan dengan sumbu-sumbu itulah terbentuk empat kuadran Ilahiah.

Kita tahu bahwa shalat merupakan sarana penyucian diri (mi’raj rukhaniyah). Sementara dalam Al-Qur’an (QS 33 : 33) dinyatakan bahwa yang disucikan oleh Allah SWT adalah Rasulullah Muhammad SAW dan keluarga (Ahlul Bait) beliau, yang menurut para ahli tafsir (mufassir) — baik dari kalangan Sunni maupun Syiah — terdiri dari Imam Ali, Sayyida Fathimah Azzahra, Imam Hasan dan Imam Husein. Pertanyaannya, adakah korelasi tegas antara kualitas shalat itu dengan pemahaman dan penghayatan kita atas praktik keberagamaan (religiusitas) Rasulullah SAW dan Ahlul Bait beliau, yang kemudian terproyeksi dalam layar lebar kehidupan kita, baik dzahir maupun bathin? [**]

____________________________

La Ode Zulfikar Toresano adalah Koordinator Umum

Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN) dan juga sebagai peneliti bidang teknologi industri pada forum yang sama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: