Asal – Usil (Seks di Barat) (ISLAM-16)

ISLAM-16

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)


Asal – Usil

(Seks di Barat)

Catatan Redaksi:

“Asal-Usil” ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-gender-issue.blogspot.com

pada tanggal 17 Agustus 2007.

Dalam masyarakat neoliberal — seperti di Barat — cinta cenderung disamakan semacam libido atau suatu intensitas metabolis yang mendesak dari naluri seksual. Pandangan ini cenderung menganggap bahwa cinta sebagai sesuatu yang tak dapat disublimasikan dalam istilah-istilah ke-Ilahi-an. Dengan kata lain, mereka memperlakukan cinta seakan-akan tidak memiliki asal-usul spiritual, juga tidak memiliki kualitas dan tujuan kemanusiaan hakiki.

Dari cara pandang seperti ini tidak heran bila ungkapan atau pembuktian cinta selalu dilakukan melalui kontak seksual (bebas), tak peduli dengan akibat-akibat fisik [seperti: penyakit kelamin, hepatitis, dan kanker leher rahim (yang dipicu oleh human papilloma virus / HPV, yang menginfeksi selaput lendir leher rahim)], psikologis atau spiritual yang ditimbulkannya.

Betrand Russel, seorang filsuf, mengatakan bahwa hilangnya keperawanan, bisa saja diakibatkan oleh tindakan sukarela (suka sama suka) dari dua insan. Jika kejadian tersebut dianggap sebagai tindakan pelanggaran kesucian seorang perawan, maka haruslah ada pembuktian adanya perkosaan sebelum tindakan tersebut dikutuk.

Karena mereka memanifestasikan cinta secara kehewan-hewanan, maka ukuran ketertarikan lebih kepada bentuk fisik. Maka tak heran bila seorang laki-laki, misalnya, dalam waktu serentak bisa mencintai (?) segerombolan perempuan; dan sebaliknya. Tentu saja, cinta seperti itu adalah “cinta semu” (gombal).

***

DAPAT dipastikan, setiap pelaku free sex — yakni salah satu hasil liberalisme di bidang kebudayaan — tidak akan bisa menjaga auratnya. Padahal menjaga aurat sangat dianjurkan oleh agama, demi kemanfaatan manusia itu sendiri.

Suatu ketika, rasulullah Muhammad SAW ditanya oleh seorang laki-laki, “Wahai Rasulullah, apa yang seharusnya kami lakukan dan apa yang harus kami jauhi dari masalah aurat?” Rasulullah SAW kemudian menjawab, “Peliharalah auratmu kecuali kepada istri-istri dan para hamba sahaja yang ada dalam pemeliharaanmu.”

Berdasarkan asal katanya, “aurat” berarti “cela” atau “aib”, atau juga kekurangan pada diri manusia yang perlu dijaga serta disembunyikan agar tidak sampai terlihat oleh orang lain.

Pertanyaannya, adakah jaminan bahwa para pelaku free sex itu tidak saling membeberkan aib pasangannya, terutama ketika ia merasa cemburu karena pasangannya tidak setia lagi mencitainya? Bukankah — dengan begitu — mereka akan dihinggapi rasa cemas, apalagi jika ia (atau keluarganya) memiliki status sosial tertentu? Bukankah kecemasan yang ditumpuk-tumpuk bisa melahirkan rasa cemas berlebihan (excessive fear) yang mengakibatkan penderitanya takut luar biasa (panik)?

“Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberimu kekuatan, mencintai seseorang secara mendalam memberimu keberanian,” begitu kata Lao Tze (filsuf Tiongkok yang hidup sekitar abad ke-6 SM). Memang betul, hilangnya rasa cinta dari seseorang akan mengakibatkan kelemahan atau kecemasan; meski — sesungguhnya — cinta sejati hanya layak ditujukan kepada Yang Maha Dicintai (Maha Pecinta), yakni Allah SWT.

Jadi, bisa saja, gangguan jiwa masyarakat perkotaan yang permisif juga disebabkan karena seks bebas. Lalu bagaimana nalarnya, masyarakat yang menderita gangguan jiwa seperti itu bisa melakukan aneka kegiatan produktif sesuai dengan tuntutan masyarakat modern?

***

BEBERAPA ahli berpendapat bahwa perempuan rentan terhadap gangguan kecemasan karena dalam tubuhnya lebih banyak terjadi proses hormonal. Perempuan mengalami menstruasi, kesiapan reproduksi, hingga minum pil kontrasepsi. Pendapat ini tidak perlu dituding diskriminatif (bias jender).

Untuk mengatasi kecemasan, para pakar menyarankan — antara lain — agar kelebihan adrenalin dihilangkan (dengan berjalan sebentar atau lari-lari di tempat), mengubah suara (karena rendah dan lembutnya nada suara dapat menimbulkan kesan terjaganya emosi), dan mengubah ekspresi wajah (dengan melembutkan urat dahi dan mencoba tersenyum).

“Perhitungankanlah ucapan dan pekerjaan kalian

serta batasilah pembicaraan kecuali mengenai kebaikan.”

(Imam Ali)

“Lidah orang berakal berada di belakang hatinya,

dan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.”

(Imam Ali)

“Menjaga air-muka adalah hiasan bagi orang yang miskin

(menderita — Forum SPTN), sebagaimana syukur adalah hiasan bagi orang kaya.”

(Imam Ali)

***

NAMUN, apa pun metode penanggulangannya, cara efektif untuk menghilangkan kecemasan akibat praktik free sex adalah dengan menghentikan perbuatan tercela itu atau sama sekali tidak mencoba melakukannya.

Memang betul agama memberikan solusi bahwa untuk mengatasi segala penyakit hati (baca: qalbu) — termasuk kecemasan — diperlukan dzikr, yang bermanfaat untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT (Ala bi dzikrillah tatma’inal qulub). Tapi, bukankah konyol sekali, jika ada orang yang melakukan percabulan sambil melafadzkan dzikr?

Singkatnya, free sex bisa melahirkan sejumlah kecemasan. Bagi perempuan dewasa yang belum menopause, yang mempraktikkan free sex, kecemasannya bisa menghambat menstruasi; dan — secara medis — ini dapat menimbulkan kanker indung telur. Nah, bukankah dengan begitu semakin memperparah kecemasan?

Sementara itu, praktik free sex di kalangan remaja telah banyak memunculkan praktik aborsi, kendati telah digalakkan penggunaan alat-alat kontrasepsi.

Para pembela praktik aborsi kadang mengemukakan argumen: Jika para pengkritik aborsi sangat menghargai nasib janin yang berpotensial menjadi manusia, mengapa mereka tidak menghargai hak-hak perempuan yang memilih untuk melakukan aborsi, yang nyata-nyata telah menjadi manusia? Bukankah tidak semua Gereja Katolik melontarkan hujatan atas aborsi?

Memang, ini merupakan konsekuensi logis (?) dari perjuangan hak perempuan untuk menentukan hak atas alat reproduksi atau otonomi tubuhnya (pro-choice), meski telah menimbulkan penentangan dari kelompok yang sangat membela hak hidup janin (pro-life).

Tapi, ingat, bukankah dengan praktik aborsi akan membahayakan si pelaku dari segi fisik (mulai dari pendarahan sampai kematian) maupun psikologis? Untuk Indonesia saja, WHO memperkirakan terdapat 1,5 juta abortus per tahun dan 2.500 di antaranya berakhir dengan kematian. Tetapi, menurut Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Khofifah Indar Parawansa (2001), ada 2,25 juta perempuan yang melakukan aborsi, dan sekitar 900.000 di antaranya adalah kalangan remaja yang belum menikah.

Jika Liberal Catholic Church di Belanda tidak mengecam praktik aborsi, bagaimana pula dengan pandangan kelompok-kelompok pendukung liberalisme di Indonesia?

Kendati dewasa ini (1997) telah ditemukan obat aborsi (mifepristone) yang dapat memicu kontraksi kandung peranakan, namun bisakah keamanannya dipertanggungjawabkan? Masalahnya, berbagai penemuan tidak lepas dari unsur spekulatif, yang dalam bahasa agama disebut mengundi nasib (judi) atau tebak-tebakan. Domba Dolly, misalnya. Pada awalnya diklaim sebagai keberhasilan teknologi kloning (kloning Dolly ditemukan pada tahun 1996 oleh Dr Ian Wilmut, pakar embrio dari Instutut Roslin, Edinburg, Skotlandia). Ternyata, ia sangat rentan terhadap penyakit, yang mengakibatkannya mati setelah beberapa tahun kemudian. Tentu saja, manusia tidak pantas diproyekkan seperti domba Dolly itu.

***

MUNGKIN saja dalam membela perilaku negatifnya, para penikmat “seks bebas” akan mengemukakan suatu hasil penelitian (2002) bahwa hubungan seks bisa membuat perempuan bersikap terbuka, bersahabat, komunikatif, dan rileks. Dan juga senyum akan selalu menghiasi bibir mereka, selain tidak ada sikap dingin dan kaku pada diri mereka. “Bukankah dengan keriangan (keceriaan) itu akan memicu peningkatan kapasitas produksi zat neuropeptida yang efektif memperkuat daya tahan tubuh terhadap gangguan badaniah?” begitu kira-kira mereka berapologi.

Namun, dapat dipastikan, hubungan seks yang nikmat tersebut hanya harus berlangsung antara pasangan suami-istri. Dari berbagai data yang diungkap para konsultan seksologi tampak bahwa perselingkuhan mudah mengakibatkan gangguan kejiwaan. Dalam kasus seperti itu, hubungan suami-istri biasanya menjadi “dingin”. Maka, untuk mengatasi hubungan yang “dingin” itu sering kali dilakukan fantasi seks (farafiliak), terutama ketika melaksanakan foreplay, yakni pemanasan sebelum berhubungan seks, untuk mencapai orgasme.

Meski farafiliak dapat dianggap sebagai salah satu bentuk penyimpangan seks (dari sudut pandang agama), namun penderitanya cenderung tidak menganggap dirinya sakit (jiwa). Mereka baru mendapat terapi para ahli kesehatan jiwa tatkala perilakunya menimbulkan konflik dalam keluarga atau masyarakat luas.

Anehnya, ada konsultan seksologi yang mengadviskan perlunya fantasi seks, padahal dari sudut pandang agama hal itu tidak dibenarkan. Setidaknya, telah terjadi zinah dalam tataran pemikiran (khayali).

***

TIDAK jarang, hubungan “dingin” suami-istri sebagai akibat dari perselingkuhan akan menyebabkan perceraian yang kemungkinan memicu depresi klinis yang muncul dalam bentuk seperti penyakit jantung, kanker, diabetes, dan arthitis. Dalam hubungan ini patut pula diteliti adakah korelasi antara aneka penyakit klinis yang diidap oleh anak-anak muda dengan “putus cinta” (broken love).

Menarik dikemukakan hasil penelitian yang dilakukan (terhadap sekelompok perempuan) oleh Dr Karen A Matthews — dan koleganya — dari University of Pittsburg (1998), bahwa terdapat hubungan antara penebalan arteri karotid dengan sifat-sifat pendengki (hostile), suka menahan (beda dengan mengendalikan) kemarahan (hold in their anger), bahkan juga merasa malu di depan umum (feel self conscious in public).

Sebagaimana diketahui sifat-sifat ini erat kaitannya dengan pribadi-pribadi yang menderita broken love” atau “broken home”. Ini belum lagi dirinci dari dampak negatif lainnya dari hubungan seks bebas, misalnya tertularnya penyakit gonorrhea (yang bisa mengakibatkan keguguran), hepatitis, dan HIV / AIDS; juga terjadinya infertilitas. Atau dalam tataran yang paling sederhana, suatu penelitian (2002) yang dilakukan oleh Julia Hippiley Cox (University of Nottingham, Inggris Tengah) menemukan bahwa jika salah satu pasangan menderita asma, depresi, radang dinding lambung, tekanan darah atau kadar kolesterol tinggi, maka pasangannya cenderung menderita penyakit yang sama.

Berarti, jika seseorang menjalin hubungan mesra dengan sepuluh orang, misalnya, dalam kurun waktu yang bersamaan, maka terdapat sepuluh kali kemungkinan peluang tertular penyakit-penyakit yang diidap oleh para teman intimnya itu.

Maka, tidak ada cara yang paling aman selain hanya berhubungan seks dengan pasangan hasil pernikahan yang sah.

“Istri-istrimu adalah (bagaikan) tanah tempat kamu

bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok- tanammu itu

bagaimana saja kamu kehendaki.”

(QS 2: 223)

Bercocok tanam tidak hanya memerlukan ilmu dan teknologi tertentu, tapi juga harus memerhatikan di mana benih harus ditebarkan. Artinya, adalah tidak etis jika menebarkan benih (menanam tanaman) di tanah orang lain, apalagi jika tanah tersebut belum layak ditanami.

***

MEREBAKNYA free sex semakin diperparah dengan dijadikannya perempuan sebagai obyek atau komoditas di internet atau VCD porno. Melalui produk-produk teknologi seperti itu, para kapitalis memanipulasi kesadaran manusia dengan janji-janji untuk kebahagiaan, kemurnian, kebijakan, kesempurnaan, atau keabadian mereka (manusia). Pertanyaannya, adakah strategi kebudayaan untuk menangkal invasi para kapitalis itu?

***

MEMANG, free sex seakan-akan merupakan persoalan personal. Tapi, jika kita mempertimbangkan dampak negatif dari penyakit-penyakit yang diakibatkannya — seperti telah dipaparkan di atas — maka ceritanya menjadi lain. Untuk aborsi saja, telah mengakibatkan peningkatan angka kematian Ibu melahirkan yang kemudian mengakibatkan rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index / HDI) suatu bangsa.

Jadi, persoalannya bukan lagi sebatas wilayah peronal, tapi sudah melebar kepada persoalan atau dimensi sosial, ekonomi, politik, budaya, dan agama pada suatu bangsa. Dari sini terbukti bahwa free sex telah melanggar hak-hak asasi (kesehatan, psikologis, dan spiritual) manusia, bahkan masyarakat. Di sinilah naifnya liberalisme itu.

***

KENDATI kita menolak free sex, bukan berarti kita harus membunuh naluri seksual. Bagaimanapun — berdasarkan wataknya — naluri seksual merupakan naluri istimewa yang dianugrahkan oleh Allah SWT, sehingga harus dipelihara serta dikelola dengan baik, bukan mengeksploitasinya secara liar.

Seorang sahabat Rasulullah SAW, Usman ibn Mazh’un, mengabdikan dirinya semata-mata kepada pemujaan kepada Allah, sehingga praktis ia berpuasa setiap hari, dan bangun di malam hari untuk menunaikan shalat malam. Istrinya melaporkan hal itu kepada Rasulullah SAW. Nabi bergegas mendatangi Usman, lalu berkata: “Wahai Usman! Ketahuilah, bahwa Allah tidak mengutus aku untuk menganjurkan hidup kebiaraan. Syari’atku mendorong dan mempermudah pemenuhan kehidupan manusia yang alami. Aku mengerjakan shalat, berpuasa, dan melakukan hubungan suami-istri. Oleh karenanya, mengkuti aku dalam Islam berarti menyesuaikan diri dengan sunnah-sunnah yang kutetapkan, yang mencakup tuntunan bahwa laki-laki dan perempuan harus menikah dan hidup berkasih sayang secara harmonis.”

Dalam kasus tersebut memang Usman ibn Mazh’un dengan disiplin menunaikan ibadah ritual. Tapi, sayang ia terperangkap dalam sifatnya yang egois, sehingga melanggar hak asasi istrinya.

***

DALAM bukunya, Sexual Ethics in Islam and in the Western World, Ayatullah Murtadha Mutahhari menulis: “Prinsip kebebasan (seks — Forum SPTN) individu merupakan dasar dari realisasi sosiologi hak-hak manusia, sehingga mengandung implikasi-implikasi sosial. Pandangan bahwa kebebasan pribadi seorang individu — yang dilahirkan dalam keadaan bebas (dengan membawa hasrat-hasrat dan kehendak-kehendak diri) — harus dihormati selama ia menghormati hak-hak orang lain, dapat dipandang sebagai pandangan yang menyesatkan. Karena — terlepas dari kebutuhan untuk menjauhkan konflik-konflik antara pribadi — adalah perlu sekali bagi setiap masyarakat untuk mengakui bahwa kepentingan-kepentingan yang lebih tinggi dan lebih besar dari seseorang haruslah (dengan sadar) membatasi kebebasan-kebebasan individualnya.”

Mutahhari kemudian mengajukan skenario yang diberikan oleh Betrand Russel tentang bagaimana moralitas individu dapat dipandang dalam konteks sosial: “Misalkan Tuan A hendak berbuat sesuatu yang berguna untuk dirinya, tetapi merugikan tetangganya. Lalu ia melaksanakan maksudnya itu, dan menimbulkan gangguan terhadap para tetangganya. Para tetangganya itu kemudian membuat keputusan yang maksudnya: ‘Kita tidak dapat melakukan sesuatu yang tidak dapat disalahkan olehnya’. Jelas, situasi seperti ini memiliki implikasi sosial.”

Menurut Mutahhari, dalam kasus di atas, Russel menekankan penilaian penalaran dan intelektual, dan bahwa moralitas mengandung pengertian tentang perlunya mengharmoniskan aspek-aspek pribadi dan sosial dari perilaku invidu. Demikian ulasan kami, semoga bermanfaat. [**]

___________________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano),

Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN).

Satu Balasan ke Asal – Usil (Seks di Barat) (ISLAM-16)

  1. bidanku mengatakan:

    Trim’s info yang menarik serta sangat berguna….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: