Seks di Barat Oleh: Sayid Mujtaba Rukni Musawi Lari (Intelektual Iran) (ISLAM-15)

ISLAM-15

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Seks di Barat

Oleh: Sayid Mujtaba Rukni Musawi Lari

Intelektual Iran

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-gender-issue.blogspot.com

dan disiapkan dalam rangka menyongsong peresmian Forum SPTN

pada tanggal 17 Agustus 2007.

Tentu kita sudah mengetahui bahwa perilaku seksual masyarakat Barat banyak yang telah keluar dari ikatan-ikatan moral. Secara kodrati, setiap orang pasti menganggap kesucian dan pengendalian dalam hal apa pun yang berkaitan dengan seks memiliki nilai atau aturan moral tetentu; dan pelanggaran terhadapnya akan mengakibatkan kemerosotan moral. Sayangnya, norma ini perlahan-lahan dilupakan, atau bahkan sengaja dilanggar. Kesucian sudah tidak dihargai, dan dicampakkan begitu saja, sedangkan sangsi atau hukuman untuk mengontrol moral dilepaskan secara liberal.

Teman saya mengatakan, ia mendengar seorang gadis meminta advis pada suatu stasiun radio di Jerman. Gadis itu berkata, “Selama beberapa tahun saya hidup bersama dengan seorang pemuda, tapi karena saya bosan, saya lalu menjalin lagi hubungan dengan laki-laki lain. Apakah saya harus mempertahankan keduanya? Ataukah memilih yang kedua dengan memutuskan yang pertama?”

Konselor radio itu menjawab dengan nasehat (?): “Sampai usia 28 tahun, Anda bebas menikmati indahnya pertemanan, dan boleh berhubungan dengan satu atau beberapa orang tanpa harus dikekang oleh ikatan atau kondisi apa pun; singkirkan kekhawatiran dalam melakukan apa saja yang Anda inginkan!”

Di mana lagi anak-anak muda kita bisa menemukan media massa yang tugasnya melindungi moral publik, bila media-media itu justru menganjurkan percabulan yang berlindung di balik istilah samaran “hubungan khusus sebelum nikah” (membangun rasa saling percaya sebelum nikah — Penerjemah); atau berlagak sebagai “penganjur kebebasan” yang menginjak-injak moralitas dan memberontak menentang kesusilaan, kemuliaan, dan harga diri?

Will Durant, seorang sosiolog, menulis dalam “Pleasures of Philosophy” (“Kenikmatan Filsafat”): “Kehidupan di kota-kota besar membuat orang lupa waktu, sementara nafsu seks semakin membara dan lingkungan sekitarnya mendorong ke arah itu (seks). Suatu peradaban yang menciptakan pernikahan sukar dilangsungkan (secara ekonomis) sebelum usia 30 tahun akan mendorong seseorang ke arah penyimpangan seksual, memperlemah pengendalian diri, dan mereduksi kesucian dari bentuk aslinya yang luhur. Peradaban seperti itu adalah peradaban basa-basi yang akan melahirkan mimpi-mimpi hampa. Seni menambah kecantikan orang. Manusia berhenti atau lalai menghitung dosa-dosanya. Perempuan menuntut persamaan dengan laki-laki, yang kemudian mendorong nafsu menjadi liar. Skandal percintaan tidak mengenal batas dan hidup bersama sebelum nikah menjadi hal biasa. Jalan-jalan diramaikan dengan prostitusi tanpa dibayangi rasa takut kejaran polisi! Itu semua karena perempuan telah terjerumus ke dalam lembah prostitusi dengan menyelewengkan makna kebebasan!”

***

SESUNGGUHNYA, keinginan untuk mengontrol diri merupakan fitrah paling asasi dalam diri manusia, sehingga pasti dapat difungsikan secara tepat. Pelanggaran yang menjijikkan atas fitrah tersebut tak dapat luput untuk berkembang menjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Namun, berbagai upaya penistaan atas ketentuan-ketentuan fitrawi itu — yang acap mengatasnamakan kebebasan — tak dapat mengalahkan kesucian kalbu serta kejernihan berfikir yang senantiasa hendak digapai setiap orang.

Keserbabolehan (permissiveness) yang dipraktikkan di Barat telah menjadi semacam lisensi publik. Bisakah kebinalan yang tak terkendali ini mereda? Kriminalitas, perkosaan, terganggunya kesehatan (akibat narkoba — Pen), kerusuhan serta berbagai tindak kekerasan, bukankah semua itu memiliki kerolesi dengan “kebebasan” seksual?

Swedia merupakan contoh terbaik dalam hal kebebasan seksual sesungguhnya pada seperempat abad terakhir ini. Di sana, berbagai perilaku liar dipraktikkan oleh kalangan muda, sehingga membuat para orang tua dan guru sangat menderita. Sebuah komisi parlemen dibentuk untuk menyelidiki keliaran tersebut, dan juga mempelajari dampak-dampaknya. Perdana Menteri Swedia secara blak-blakan mengatakan: “Kita akan memerlukan kira-kira satu generasi untuk menghilangkan bencana yang ditimbulkan dari kesalahan dua puluh tahun lalu.”

Sigmund Freud telah menguji sifat dan watak kebinatangan pada seluruh tindakan manusia yang dapat memicu libido seksual. Sehingga, ia memisahkan seks dari etika (moral). Di sini, makna kesucian menguap begitu saja. Tak seorang pun bisa membatasi apalagi menghentikan derasnya aliran (atau jilatan “bunga api” — Pen) seksual itu. Dalam perjalanannya, paham ini telah banyak menyeret serta melarutkan nilai-nilai kemanusiaan.

The Reader’s Digest” melaporkan: “Sesungguhnya di Jerman Barat menunjukkan bahwa tentara-tentara pendudukan telah mengakibatkan lahirnya 200.000 anak tanpa ayah, 5000 di antaranya berkulit hitam. Dan semua beban itu menjadi tanggung jawab pemerintah Jerman (Barat). Ini hanya 10 persen dari jumlah keseluruhan anak yang lahir di luar ketentuan undang-undang yang menjadi tanggung jawab pemerintah, belum termasuk yang tidak bisa lahir akibat kontrasepsi atau aborsi. Di Jerman Timur (kini sudah melebur menjadi Republik Federal Jerman berkat kebijakan unifikasi — Pen) kita tidak punya data, namun mungkin saja problemnya jauh lebih rumit (bisa jadi tidak lebih buruk, tapi juga tidak lebih baik). Patut dicatat, dalam kasus seperti ini, tidak satu pun negara-negara Barat yang tertinggal jauh dari Jerman. Yang paling dramatis adalah yang pernah dilaporkan dari Nothampton, suatu daerah di Inggris Tengah, bahwa kelahiran ilegal meliputi 50 persen dari seluruh angka kelahiran di sana, dan itu dimulai ketika masyarakat Northampton beralih profesi dari bekerja di sektor pertanian ke sektor industri (pabrik).” [Dikutib dari “Divorce and Modernity” (“Perceraian dan Modernitas”), halaman 34].

Pakar psikologi, Dale Carnegie, menulis dalam bukunya: “Mirror of Success” (“Cermin Keberhasilan”), bahwa “Statistik yang dipublikasikan oleh suatu yayasan di Amerika (AS) memaparkan tentang suami-suami — dari berbagai strata sosial dan tingkat usia — yang tidak setia terhadap istri-istri mereka. Sekitar 50 persen dari para suami tersebut bermain serong secara rutin dan teratur. Sebagian besar dari yang tetap setia didorong karena keterpaksaan, antara lain takut tertular penyakit kelamin atau tidak adanya peluang dari si istri. Dari hasil pemantauan melalui telepon di New York — dalam suatu periode singkat — mengungkapkan bahwa para istri pun melakukan perselingkuhan.

The Encyclopaedia Britannica” (vol. 23, hal 45) mencatat: “Dari seluruh rumah sakit yang ada di Amerika (AS), 650 menspesialisasikan diri pada ‘penyakit kelamin’, tetapi sebagian dari penderita penyakit kelamin berobat pada dokter umum atau spesialis lokal.

Laporan Kinsey tentang “Kebiasaan Perilaku Seksual” (“Habits of Sexual Behaviour”), halaman 304, memaparkan bahwa 3000 hingga 4000 bayi setiap tahun yang dilahirkan di Amerika Serikat (AS) menderita penyakit kelamin. Dan tingkat kematian (di AS) akibat penyakit ini lebih besar dari angka kematian yang disebabkan oleh semua penyakit lainnya, terkecuali TBC.

Harian Tehran “Ettla’at” (Jurnal Tehran) No 10414 mengulas tentang “Psikologi” pada Desember 1960, yang antara lain disebutkan bahwa “Jumlah kelahiran tanpa nikah di AS makin bertambah cepat dan memusingkan pemerintah. Statistik pada tahun 1957 saja menunjukkan bahwa terdapat lebih dari 200.000 kelahiran tidak legal (di AS); berarti ada peningkatan 5 persen selama dua puluh tahun.”

Black, White” (No 380), melaporkan: “Di Amerika Serikat, aborsi setiap tahunnya mencapai lebih dari satu juta; enam puluh lima persen diakibatkan oleh hubungan bebas di luar ikatan pernikahan, dan lima puluh persen dari keseluruhannya merupakan gadis-gadis berusia belasan tahun.”

Dr Molenz dari London Selatan mengatakan, yang dikutib Harian Tehran “Kayhan” (No 535): “Di Inggris, dari setiap gadis yang datang ke gereja, satu mengalami hamil. Aborsi kriminal di London mencapai 5000 setiap tahun. Satu dari dua puluh kelahiran merupakan hasil hubungan di luar nikah. Meski terdapat peningkatan standar hidup setiap tahun, namun angka kelahiran di luar nikah pun bertambah dari tahun ke tahun. Pelanggaran seperti ini paling sering ditemui daripada pembentukan keluarga; dan para gadis dari keluarga-keluarga kaya banyak yang kemudian menjadi Ibu tanpa harus menikah.”

***

SEMUA fakta di atas cukup untuk menunjukkan betapa manusia yang mengklaim diri berperadaban modern diperbudak oleh naluri seksualnya. Kepelesiran atau tamasya seksual telah mencapai suatu puncak di mana banyak nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang bisa didapatkan melalui kehidupan keluarga menjadi diabaikan.

Beberapa tahun lalu salah satu koran di Tehran melaporkan bahwa di Idaho (Amerika Serikat) ada seorang laki-laki yang mengganti istri setiap tiga pekan, dan memberi hadiah kepada istri-istrinya itu untuk “mengakhiri hubungan pertemanan”. Suatu saat, timbul protes, dan para mantan istri tersebut bersekutu mengajukan tuntutan di pengadilan guna melindungi generasi masa datang dan menghukum si pezina yang pernah menjadi suaminya itu.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa — selama ini — telah terjadi miskonsepsi pada salah satu aspek kehidupan manusia, yakni aspek seksual. [**]

___________________________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku

Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977)

oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional / Forum SPTN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: