Hak-hak Anak Menurut Ahlul Bait (ISLAM-14)

ISLAM-14

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Hak-hak Anak Menurut Ahlul Bait

Oleh: Wa Ode Zainab Zilullah Toresano,

La Ode Zulfikar Toresano,

dan Citrawati Trisaparini

(Tulisan ini merupakan kesimpulan

diskusi ketiga penulis)

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-gender-issue.blogspot.com

dan disiapkan dalam rangka menyongsong peresmian Forum SPTN

pada tanggal 17 Agustus 2007.

“Wahai Ali, hak-hak anak yang diwajibkan atas orang tua

adalah sebanyak hak orang tua yang diwajibkan atas anak-anak.”

(Rasulullah Muhammad SAW)

Selalu ada relasi antara hak dan kewajiban, yang dalam terminologi matematik disebut “berbanding lurus”. Artinya, semakin besar hak, makin besar pula kewajiban; dan sebaliknya. Akan tetapi, pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut tidak bisa dilihat berdasarkan paradigma “hitung dagang”, yang menekankan “untung rugi”. Orang tua tidak pantas menuntut hak kepada anak-anaknya sebagai imbalan dari kewajiban yang telah ditunaikannya. Demikian pula sebaliknya.

Oleh karenanya, pemenuhan hak dan kewajiban — secara timbal balik (reciprocal) — tersebut harus didasarkan pada keikhlasan dalam rangka beribadah kepada Allah SWT. Dengan begitu, misalnya, tidak akan muncul ungkapan-ungkapan seperti: “Mama kan udah ngelahirin e lo, ngaca dong!”; “Papa kan udah nyumpalin e lo, tahu diri dong!”; atau “Gue kan udah bosan nyariin kutu Mama, bagi duit Dong!” (Kayak preman aje!).

***

SECARA kodrati, orang tua harus memberi jaminan pemeliharaan dan pendidikan bagi anak-anak mereka, bahkan sejak berbentuk janin dalam rahim sang Ibu. Dalam kaitan ini, janin harus mengkonsumsi makanan yang halalan thoyyiba (halal dan baik) karena akan sangat memengaruhi perkembangan fisik, psikis, bahkan spiritualnya. Dan untuk itu, orang tua berkewajiban terus memperluas wawasan pengetahuan.

Jangan sampai, misalnya, di masa kehamilannya — karena dorongan keserakahannya yang doyan makan — seorang Ibu menderita diabetes mellitus gestasional (DMG), yakni diabetes mellitus yang hanya muncul selama masa kehamilan, tetapi dapat juga berlanjut kendati sudah tidak hamil lagi. Besar kemungkinan DMG akan mengakibatkan risiko hambatan pertumbuhan janin karena timbul perubahan metabolik dan kelainan pada pembuluh darah Ibu, risiko keguguran, melahirkan bayi yang beratnya sama dengan atau melebihi 4000 gram (makrosomia) akibat penumpukan lemak di bawah kulit, menderita preeklamsia (keracunan kehamilan karena cairan ketuban yang berlebihan), melahirkan bayi dengan cacat bawaan, atau juga melahirkan bayi mati tanpa sebab yang jelas.

Bila terjadi risiko-risiko seperti di atas, berarti — dalam tahapan yang paling dini — orang tua (Ibu) sudah melakukan pelanggaran hak asasi atas janin. Belum lagi risiko yang ditimbulkan oleh berbagai penyakit, seperti risiko tertular HIV / AIDS pada janin (sebagai akibat, antara lain, hubungan seks bebas — di luar ikatan pernikahan — yang dilakukan suami atau istri, atau juga keduanya).

Sejumlah kebiasaan buruk yang dilakukan oleh sang Ibu juga berpeluang besar menimbulkan pengaruh negatif pada janin (anak). Sebagai contoh, kebiasaan merokok pada Ibu dapat mengakibatkan bayi lahir prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, gangguan pernafasan pada janin, kemungkinan terjadinya tumor otak pada janin, kemungkinan rendahnya kemampuan membaca dan matematika pada anak, sindroma bayi meninggal tiba-tiba (sudden infant death syndrome / SIDS), keracunan pada janin, kemungkinan cacat bawaan (congenital), ukuran plasenta yang membesar, dan janin yang kecil akibat kekurangan oksigen.

***

SEMENTARA itu, komunikasi antara janin dan Ibu yang sedang mengandungnya juga dianggap sangat penting bagi perkembangan janin. Aristoteles (384 – 322 SM) dalam De Generatione Animalium berspekulasi bahwa saat dalam kandungan untuk pertama kalinya perasaan didapatkan.

Dari perspektif Al-Qur’an, janin dipandang sebagai aktifis Ilahi (monoteis) yang berjihad setelah melalui tiga maqam atau lapisan (kegelapan) dalam perut Ibunya.

“Dia menjadikan kamu dalam perut Ibumu kejadian

demi kejadian dalam tiga kegelapan.”

(QS 39 : 6)

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan

anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah oarng-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

(QS 7 : 172)

Tentang jiwa (nyawa), kalangan Katolik berpendapat bahwa ia (jiwa) sudah ada sejak pembuahan (yakni tatkala terjadi pertemuan ovum dan sperma); sedangkan kaum Yahudi menetapkan (sejak) usia 40 hari. Tetapi Islam — dengan merujuk pada hadits Nabi Muhammad SAW — meyakini bahwa nyawa ditiupkan pada usia kehamilan 120 hari.

Dari perspektif pemikiran Ibnu ‘Arabi, masa 120 hari itu berada dalam maratib Ilahi (martabat Khaliq) yang mengindikasikan proses tajalli (manifestasi kekuasaan) Allah yang menciptakan ruh. Dalam prosesnya bereksistensi, tajalli tersebut melalui tiga maqam (martabat), yakni maqam ahadiyyah, maqam wahdah, dan maqam wahidiyyah; yang kemudian menuju maqam berikutnya, yakni maqam arwah (rukh).

Memang, penafsiran tiga maqam yang dilalui — sebelum tiba pada maqam arwah (martabat makhluq) berbeda dengan penafsiran eksoterik (dzahiriyah) yang lazim kita kenal, yakni “kegelapan dalam perut Ibu”, “kegelapan dalam rahim” dan “kegelapan dalam selaput yang menutup anak / janin dalam rahim”. Inilah yang kami sebut sebagai penafsiran esoteric (bathiniyah; harap jangan disamakan dengan “aliran kebatinan”) atas tiga kegelapan seperti disebutkan dalam Al-Qur’an, surah Azzumar ayat 6. Menurut kami, paradigma tafsir seperti ini sangat sesuai dengan semangat the couple existence, seperti yang ditawarkan dalam QS 36 : 36, di mana setiap eksistensi dimungkinkan untuk disoroti dengan menggunakan paradigma alternatif. Jadi, tidak main serba “mutlak” (Esa) karena “Kemutlakan” adalah hak prerogatif (Dzat) Allah SWT.

***

KARENA gerak bereksistensi (tajalli) dalam setiap maqam itu memerlukan waktu 40 hari (sebagaimana waktu yang diperlukan oleh Nabi Musa AS tatkala beliau berkhalwat untuk menerima “Sepuluh Firman Allah” / The Ten Commandments, dan juga beberapa tradisi ritual yang pernah dipraktikkan Rasulullah Muhammad SAW), maka dibutuhkan 120 hari untuk tiba pada maqam arwah (rukh), yakni tiga maqam dikalikan dengan 40 hari. Pemikiran seperti ini sangat sesuai dengan hadits Nabi SAW seperti dikemukakan di atas.

Yang menarik bagi kami, tatkala proses tajalli ini dilanjutkan dari maqam arwah menuju maqam mitsal, maqam ajsam, maqam insan hingga dilahirkan dari rahim Ibu, dibutuhkan waktu 160 hari (yakni 4 x 40 hari). Maka 160 hari ditambah 120 hari sama dengan 280 hari (tujuh maqam dikali 40 hari), atau 9 bulan 10 hari. Bukankah kita berada dalam kandungan Ibu selama kurun waktu tersebut?

***

KARENA manusia adalah khalifah Allah di muka bumi (QS 2 : 30), dan sejak awalnya sudah bersaksi bahwa Allah SWT sebagai Tuhan atau Rabb-nya (QS 7 : 172), maka janji ini harus dipertanggungjawabkan agar kelak manusia bisa mencapai maqam yang terpuji (maqamammahmuda) sebagai insan al-kamil yang senantiasa kembali dan meleburkan diri atau baqa dalam Allah (baqa billah).

“Sungguh kita (manusia) adalah milik Tuhan dan

Sesungguhnya kita semuanya kembali kepada-Nya.”

(QS 2 : 156)

“Dan Ia (Tuhan) itu beserta kamu di manapun kamu berada.”

(QS 57 : 4)

Oleh karena itu, konsepsi Wahdat al-Wujud yang ditawarkan oleh Ibnu ‘Arabi (atau juga Abu Yazid al-Bustami) tidak bisa begitu saja disamakan dengan paham manunggaling kawulo Gusti dalam aliran kebatinan, apalagi ide Pithagoras (dalam dunia filsafat) yang menyatakan, “jiwa segala bilangan adalah satu”.

***

TEORI Wahdat al-Wujud tersebut bisa diterjemahkan dalam berbagai prinsip kehidupan seperti pemerintahan sebagaimana yang kini sedang berlaku di Iran (Wilayat al-Faqih), atau juga yang pernah diterapkan di Kesultanan Buton (sistem Pemerintahan “Martabat Tujuh”) pada abad ke-15 yang lampau.

Kendati dalam sistem pemerintahan seperti itu berlaku prinsip: vox Dei vox populi (suara Tuhan adalah suara rakyat) — jadi bukan vox populi vox Dei (suara rakyat adalah suara Tuhan), yang seakan-akan Tuhan bisa didikte oleh rakyat — tetapi adalah naïf sekali bila ia disamakan dengan konsep teokrasi-nya Thomas Aquinas (1225-1274), yang dituangkan dalam buku “Summa Theologika” dan “De Regimine Principum”. Juga tidak seperti gagasan teologi-nasionalisme Hindu dalam ideologi Hindutva yang antara lain diperjuangkan oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) di India saat ini. Apalagi jika dibandingkan dengan ideologi kepemimpinan dalam kebudayaan Jawa, yang menjadikan keraton sebagai pusat kehidupan. [Perbincangan di seputar relasi antara konsep Wahdat al-Wujud dengan teori pemerintahan (politik), insya Allah, akan dibahas pada kesempatan lain oleh para peneliti dari Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN)].

Di atas sedikit kita singgung tentang sosok Ibn ‘Arabi karena teori Wahdat al-Wujud yang dipromosikannya bukan saja berkorelasi dengan topik yang kita bahas di sini, tapi juga karena ia sangat dihormati oleh Imam Khomeini RA, seorang ulama besar yang sangat berjasa membangun peradaban Islam kontemporer. Dalam bagian suratnya kepada Gorbachev (Presiden Uni Sovyet dulu), Imam Khomeini antara lain menyatakan: “Saya tidak ingin menjemukan Anda lebih jauh dengan detail-detail, karenanya saya tidak sebutkan judul dari kitab-kitab para pemikir besar lainnya, khususnya Muhyidin Ibn “Arabi. Jika Anda ingin mendalami seluk- beluk pemikiran ulama besar ini, silahkan utus beberapa orang ahli pikir Sovyet yang berkualitas tinggi dan dipersiapkan dengan baik dalam bidang ini di Qum (Iran) agar dalam beberapa tahun — dengan karunia Allah — mereka memperoleh pengetahuan tentang hal-hal yang subtil itu; dan tanpa upaya ini, kesadaran tersebut tak akan terwujud.” (The Export of Revolution — 1984, oleh AB Shirazi).

Juga penting dikemukakan pernyataan Prof Dr Hamid Algar, guru besar pada University of California, Berkeley (dan merupakan seorang muallaf yang lama berguru kepada Imam Khomeini): “What I mean by mysticism with respect to Ayatullah Khomeini is what known as ‘erfan’ (irfan atau tasawufPenulis), which is different form of mysticism appropriate to the Shi’ia context. This is something that draws upon certain dimensions of the Qur’an, the teaching of Ibn ‘Arabi and also the 12 Imams of Shi’ia school.” (The Islamic Revolution in Iran — 1981, oleh Prof Dr Hamid Algar).

***

KEMBALI kepada pokok pembicaraan. Seorang Ibu haruslah menunjukkan kepedulian (care), tanggung jawab (responsibility), penghargaan (respect), dan sharing pengetahuan (knowledge), mulai sejak janin berada di dalam perutnya (rahimnya). Kesemua ini oleh Erick Fromm disebut sebagai unsur-unsur cinta.

Fromm boleh mengemukakan segudang teori, tapi jika ia sebagai Ayah, belum tentu janin yang dikandung oleh istrinya bisa mengkonsumsi makanan yang memenuhi persyaratan halalan thoyyiba, yang tentu saja sangat memengaruhi perkembangan (fisik, psikis, dan spiritual) janinnya. Belum tentu ia (Fromm) — dan juga istrinya — menyenandungkan syair-syair Ilahiah kepada si janin, padahal janin sangat membutuhkan syair-syair seperti itu.

***

MENURUT Rappert (1988) — peneliti di laboratorium Chronobiology Harvard Medical School — janin dapat mengenal suara dan cahaya dari luar melalui mekanisme konduksi pasif yang melintasi jaringan tubuh Ibunya.

Sementara itu, pengetahuan psikoanalisis menyatakan bahwa berbagai pengalaman di dalam rahim atau selama proses kelahiran dapat memengaruhi perilaku, emosi, dan sikap anak di kemudian hari. Respons janin atas emosi Ibu mungkin bisa disalurkan melalui hormon yang melindungi plasenta. Di antara rangsangan yang merugikan janin adalah suara keras (kasar), pengaruh nikotin, dan juga stres (depresi atau trauma).

Bayi yang dilahirkan oleh Ibu yang menderita stres akan mengakibatkan gangguan jiwa pada masa-masa selanjutnya. Yang mengejutkan kita — menurut pendapat beberapa pakar (salah satunya adalah Daniel Goleman) — IQ (Intelligence Quotient / ukuran kecerdasan) hanya berperan sebesar 20 persen dalam kesuksesan orang, selebihnya ditentukan oleh EQ (Emotional Quotient / ukuran “kecerdasan” emosi). Namun, bagi kita yang meyakini kebenaran premis Qur’ani akan berpendapat bahwa SQ / SI (Spiritual Quotient / Spiritual Intelligence)-lah yang lebih dominan atau yang menjadi landasan bagi EQ dan IQ. Dan ini sejalan dengan gagasan yang dikemukakan oleh Danah Zohar dan Ian Marshal.

Ala bidzikrillah tatma’inal qulb

“Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”

(Al-Qur’an)

Bukankah puncak spiritualitas itu adalah Allah SWT? Maka, logikanya, seseorang yang dekat dengan Allah pasti akan memiliki ketenangan, kedamaian, dan SQ / SI yang tinggi.

***

JIKA Don Campbell — melalui bukunya: The Mozart Effect — mendeskripsikan hubungan musik dengan sistem kerja tubuh manusia, khususnya telinga, otak, dan sistem syaraf, maka kita berpendapat “cinta”-lah (cinta Ilahiah) yang bisa menggerakkan seluruh sistem di alam semesta ini, baik yang dzahir maupun bathin.

Lao Tze — filsuf Tiongkok yang hidup sekitar abad ke-6 SM — tidak sepenuhnya benar ketika mengatakan, “Dicintai secara mendalam oleh seseorang memberi kekuatan, mencitai seseorang secara mendalam memberi keberanian” karena cinta sejati hanya akan didapatkan dari Yang Maha Pencinta (yakni Allah SWT); dan untuk itu perindu cinta haruslah memberikan cintanya secara total kepada Yang Maha Dicintai (Allah SWT).

Namun, logika cinta mensyaratkan bahwa untuk mencintai Allah haruslah mencintai Rasul-Nya (Muhammad SAW), dan untuk mencintai Rasul-Nya haruslah mencintai keluarga (Ahlul Bait) Rasullullah SAW (QS 33 : 33 dan 42 : 23); sedangkan untuk mencintai Ahlul bait Rasulullah haruslah memahami karakter dan perjuangan-perjuangan mereka.

Sangat disayangkan, mayoritas ummat Islam tidak mengenal pribadi-pribadi suci yang merupakan Ahlul Bait Rasulullah SAW, seperti Imam Hasan AS dan Imam Husein AS; padahal beliau-beliau ini — oleh Rasulullah Muhammad SAW — dijuluki sebagai pemuda-pemuda pemimpin syurga. Seandainya kelak kita masuk syurga, insya Allah, betapa malunya kita karena tidak mengenal pemimpin kelompok pemuda (Imam Hasan dan Imam Husein) yang ada di sana.

***

SALAH satu wasiat Rasulullah SAW kepada Ahlul Bait beliau adalah agar mengumandangkan adzan pada telinga kanan dan iqamat pada telinga kiri untuk bayi yang baru lahir. Jelas, ini besar sekali pengaruhnya terhadap perkembangan si bayi. Adzan dan iqamat yang dikumandangkan di telinga bayi — ketika lahir di permukaan planet bumi ini — seakan menegaskan, “Wahai calon pejuang Ilahiah, kini engkau memasuki alam atau medan perjuangan baru, dan hendaknya engkau senantiasa memegang teguh komitmen Rabbani yang pertama kali engkau ikrarkan di hadapan Allah ketika berada dalam rahim Ibumu” (QS 7 : 172). Ini dapat dipandang sebagai bagian dari rangkaian hak-hak anak yang harus diberikan oleh orang tua yang bertanggung jawab.

Selanjutnya, orang tua juga harus memberi nama yang baik kepada anaknya. Imam Ali AS berkata: “Peran orang tua yang pertama terhadap anaknya adalah memberi nama yang baik; Anda harus menamai anak Anda dengan nama yang baik.”

Tentu saja, nama yang baik bisa memengaruhi pikiran, bahkan watak seseorang. Nama baik yang sering diucapkan dan didengarkan dengan kesadaran penuh akan menjaga kestabilan temperatur kejiwaan yang empunya nama. Begitu pentingnya “nama” dalam Islam, sehingga Rasulullah SAW bahkan memberikan nama-nama baik untuk semua benda yang beliau miliki, mulai dari terompah hingga pedang beliau yang diberi nama Dzulfikar itu (yang kemudian dihadiahkan kepada Imam Ali). Tidak cukup dengan itu, beliau juga mengungkapkan pujian: “Tidak ada pemuda selain Ali, tiada pedang selain Dzulfikar” (la fata illa ‘Ali, la saifa illa Dzulfikar).

Selain itu, Imam Ja’far AS berkata,

“Rasulullah sering mengganti nama-nama orang dan tempat yang jelek.”

***

HARUS diakui, karena teracuni budaya neo-imperialisme (western toxic), sebagian besar masyarakat kita lebih menggandrungi nama-nama beraroma Hollywood atau Texas (cow boy) ketimbang yang Islami. Jangan heran ada orang yang dengan bangganya mengganti nama Ibrahim menjadi Bram, Ali menjadi Alex, Alwi menjadi Elvis, Fathimah menjadi Fathi, Bilal menjadi Labil atau Bleki, Yusuf menjadi Yompreng, dan seterusnya. Padahal, daripada meniru nama-nama ala artis Hollywood yang berspektrum borjuis atau takabur, alangkah indahnya jika mereka konsisten saja melestarikan nama-nama yang berasal dari agama Islam atau budaya lokal (tentu saja yang mengandung makna moral dan kemanusiaan).

Begitu banyak nama-nama (anak) asli Jawa, Padang, Aceh, Papua, Tionghoa, Buton, Makassar, Bugis, Banjar, dan seterusnya, yang mengandung sari pati Ilahiah. Bukankah Islam itu merupakan rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin), sehingga sangat menghargai berbagai kebudayaan lokal yang memperkuat substansi ke-Ilahi-an? Namun, bagi seorang Muslim, nama-nama lokal itu sebaiknya dijadikan sebagai pilihan alternatif.

Terkait dengan itu, jangan sampai terjadi — misalnya — karena awam bahasa Inggris, ada orang tua yang menamai anaknya dengan nama yang kalau diartikan dalam bahasa Indonesia identik dengan nama alat reproduksi binatang langka.

Lebih parah lagi, nama-nama mulia dalam Islam seringkali dijadikan bahan olok-olok, misalnya saja dalam lagu atau lawakan. Jangan heran bila kita dapati kata-kata atau nama-nama seperti “assalamu ‘alaikum”, “Pak Haji”, “Fathimah janda muda”, dan seterusnya, dijadikan sebagai bumbu penyedap utama untuk lagu-lagu atau lawakan tak bermutu itu. Terhadap hal ini, barangkali organisasi-organisasi kemasyarakatan berbasis Islam perlu menugaskan para penelitinya untuk mengadakan pengkajian apakah lagu-lagu (lawakan) seperti itu hanyalah merupakan refleksi kebodohan penciptanya (pelakonnya), atau memang dilatari kebencian bahkan bagian dari strategi deislamisasi konspiratif — baik sadar maupun tak sadar — dengan menjadikan “seni budaya” sebagai segmen garapannya.

Seandainya dari penelitian tersebut menunjukkan adanya unsur kebencian atau konspiratif, bukankah sebaiknya organisasi-organisasi Islam perlu mengambil langkah-langkah yuridis dan cerdas (cultural and information counterbalance) untuk membendung virus deislamisasi atau pelecehan budaya Islam (cultural harassment) itu? Bukankah penegakkan hak-hak asasi, pluralitas (harap dibedakan dari pluralisme), dan multikulturalitas merupakan bagian dari agen-agenda perjuangan masyarakat modern, sehingga seharusnya mereka (kalau mengklaim diri paling modern) tidak perlu melecehkan nama-nama Islam yang mereka sendiri tidak memahami maknanya? Atau, apakah perlu juga kita pikirkan untuk memberikan sangsi moral dan sosial terhadap para peleceh itu? Misalnya, kita tidak perlu berpartisipasi dalam kegiatan apapun yang mereka selenggarakan, atau sebaliknya tidak melibatkan mereka dalam setiap kegiatan kita.

***

SETELAH hak anak atas nama yang baik terpenuhi, maka kemudian anak harus dirawat dan dibimbing dalam tiga tahapan kehidupan. Insya Allah, kita akan bicarakan ini pada kesempatan lain. [**]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: