Asal-Usil (Perempuan Dalam Pandangan Rasulullah Muhammad SAW (ISLAM-13)

ISLAM-13

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Asal-Usil

(Perempuan  Dalam  Pandangan

Rasulullah Muhammad  SAW)

Catatan Redaksi:

“Asal-Usil” ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-gender-issue.blogspot.com

dan disiapkan dalam rangka menyongsong peresmian  Forum SPTN

pada tanggal  17 Agustus 2007.

Dalam  tulisan  “Bagian Pertama” ini  (“Perempuan  dalam  Pandangan  Rasulullah  Muhammad  SAW”), kita  dapat  menangkap  tiga  isu  yang  dipaparkan  secara  sekilas  oleh Dr Ali  Syari’ati.  Tiga  isu  tersebut  adalah: (a) Poligami; (b) Cadar; dan (c) Diskriminasi  jenis  kelamin.

Pada  “Asal-Usil”  kali  ini  hanya  isu  “Cadar”  yang  akan  diusili.  Isu  “Poligami”  belum  akan  disentuh, sementara  untuk  isu  “Diskriminasi  jenis  kelamin”  akan  diusili  pada  “Asal-Usil”  untuk  rubrik  “Perempuan  Dalam  Persepsi  Ayatullah  Khomeini”.

Menurut  Syari’ati  ada  tiga  kelompok  sejarawan  dan  ilmuwan  yang  telah  berupaya  membahas  topik  “Perempuan  Menurut  Rasulullah  SAW”. Kelompok  Pertama   adalah  yang  dikungkungi  oleh  semangat  kebencian, sehingga  tidak  jarang  mengungkapkan  pernyataan  berlebih-lebihan. Kelompok  Kedua   adalah  yang  cenderung  kompromistis, yang  seringkali  terjebak  untuk  merakayasa  interpretasi  dengan  disesuaikan  pada  keadaan  masyarakat  dalam  periode  tertentu. Kelompok  Ketiga  adalah  yang  mendasarkan  penyelidikannya  pada  realitas  sesungguhnya  dalam  rangka  menemukan  kebenaran.

Persoalannya, apa  parameter-parameter  dari  “realitas  sesungguhnya”  yang  dimaksud  oleh Syari’ati?  Kemudian, apa acuan  “kebenaran” itu?  Bisakah “kebenaran” itu bersifat multi-interpretable (bebas tafsir)?  Bila ia  “bebas  tafsir”, maka keabsahan kebenaran penyelidikan tidak saja dimonopoli oleh  “kelompok ketiga” di atas, tapi juga  “kelompok  kedua”.  Maka, “cadar penutup muka”, kendati dianggap merupakan warisan dari tradisi Arab (dan tetap dipertahankan oleh sekelompok ummat Islam) dapat saja ditafsirkan sebagai salah satu tradisi yang diserap dalam Islam dalam rangka menopang konstruksi universalitas Islam itu sendiri.  Bukankah Islam datang sekadar bersifat menyempurnakan pranata-pranata sosio-kultural atau adat-istiadat yang sudah ada?  Dengan karakter penyempurnanya itu, logiskah bila ia (Islam) membuldoser seluruh tatanan atau tradisi lama, apalagi bila tradisi-tradisi itu memberikan kontribusi positif bagi pemberdayaan tatanan masyarakat Islam?

***

SEBAGAIMANA  diketahui, istilah “al-ma’ruf”  berarti nilai-nilai kebaikan yang ada dalam adat-istiadat suatu masyarakat, namun tetap sejalan dengan nilai-nilai “al-khair”, yakni nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Bila penggunaan cadar dianggap tidak sejalan dengan Al-Qur’an — bahkan mungkin juga Sunnah — bisakah dikemukakan argumentasinya secara logis?  Seandainya argumen yang dikemukakan itu lemah, atau dengan kata lain penggunaan cadar masih dianggap memberikan manfaat lebih besar ketimbang mudhorat-nya, maka bukankah terbuka peluang bagi cadar untuk dipandang sebagai aset kultural yang bernilai baik?  Secara jujur diakui bahwa terdapat perbedaan  antara  “nilai kebaikan” dan  “nilai kebenaran”.  Tetapi, pada kondisi-kondisi tertentu, tradisi-tradsi yang  “bernilai baik”  dapat ditarik — ibarat tersedot gaya magnet — ke dalam domain  “nilai kebenaran”.  Oleh karenanya, mengapa setiap orang beriman dianjurkan untuk menegakkan yang ma’ruf (QS 9 : 71), padahal ia (yang ma’ruf) bisa hanya merupakan sekumpulan nilai-nilai tradisi (yang baik).

Dalam hubungan ini, bisakah atau pantaskah  kita sejajarkan kedudukan hukum pengenaan cadar terhadap pengenaan jilbab (QS 33 : 59 dan 24 : 31) di satu pihak dengan hukum haramnya anjing terhadap haramnya babi dan bangkai (QS 5 : 3) di pihak lain?

Sebagaimana diketahui, hukum haramnya anjing ditetapkan dalam fiqh (Islamic  jurisprudence), bukan dalam Al-Qur’an.  Dan upaya-upaya ijtihad (penetapan fiqh) itu merupakan bagian dari tradisi keulamaan.  Lalu, apa perbedaan nilai antara sebuah fiqh  yang telah ditetapkan, dengan tradisi yang masuk dalam kategori al-ma’ruf  (misalnya: pengenaan cadar)?  Bukankah keduanya bisa menempati deretan yang sama atau setara?

Kendati begitu, sama halnya dengan fiqh , nilai-nilai kebaikan yang berasal dari suatu tradisi harus dianggap bersifat kondisional dan kontekstual. Penggunaan cadar bisa saja bernilai sangat positif jika diterapkan di negara-negara Timur Tengah, misalnya.  Tetapi, mungkin, bila dikenakan di Indonesia, mudhorat-nya akan lebih besar ketimbang manfaatnya.  Bisa dibayangkan, betapa perempuan pemakai cadar akan menjadi tontonan khalayak ramai, padahal itu  seharusnya dihindari.  Bukankah dalam sekularisme, kepuasan laki-laki disimbolkan melalui tatapan atau sentuhan?  Lebih parah lagi jika si pemakai cadar diteriaki: “ninja  masuk kota”.

***

BILA   dicari  kontekstualitasnya  untuk  menopang  universalitas  Islam, maka  wacana  tentang  cadar  itu  mungkin  bisa  dipahami  lewat  paparan   berikut   ini.

Dalam  operanya  yang  berjudul Falstaff, komposer  kenamaan  asal  Italia, Giusppe  Verdi  (meninggal: Januari  1901), menulis: “Bocca  baciata  non  perdeventura, anzirinnova  come  fa  la  luna” (Bibir  tidak  jadi  tua  karena  ciuman, malah  sebaliknya  jadi  baru, seperti  bulan).

Dalam  syair-syair cengeng, perempuan  sering  diistilahkan  sebagai  “rembulan”.  Tapi, Verdi  menukik  lebih  spesifik   lagi  pada  bagian  tubuh  perempuan  yang  paling  sensual: “bibir”.  Dan  Verdi  tidak  sendirian  dalam  memuja  “bibir”.  Media  massa  pun  ternyata  tidak  kalah  gencarnya  mempromosikan  sang  “bibir”.  Jangan  heran,  jika  setiap  kali  mengekspos  seorang  artis, misalnya, ungkapan-ungkapan  seperti  “bibir  tipis”, “bibir  sensual”, dan  seterusnya, selalu  saja  dijadikan  bumbu  pembangkit  syahwat.  Tidak  ketinggalan, ada  pula  sutradara  yang  membuat  film  berjudul  “Bibir  Merah”.  Bahkan  di  beberapa  portal  seksual (esek-esek) yang  dimuat  dalam  internet  pun  sering  dilampirkan  aneka  data  tentang  bibir, lengkap  dengan  warna gincu  yang  dipakai.

Konon, entah  fakta  ilmiah  atau  mitos, ragam  warna  berpengaruh  terhadap  asmara, kemesraan  maupun  hubungan  intim  antara  laki-laki  dan  perempuan.  Dikatakan, keindahan  dan  sifat  warna  juga  dapat  mendongkrak  libido  seksual, termasuk  bagi  suami-istri  yang  telah  hidup  puluhan  tahun.  Jangan   heran  omset  pemasaran gincu (lipstick) — dengan  berbagai  warna — semakin  meningkat. Bukan mustahil, anggaran  mingguan  untuk   per- gincu – an   seorang  remaja  (ABG)  di  kota  besar  hampir  sama  dengan net  profit   bulanan seorang Mbok  pedagang  jamu  gendong.  Silahkan  dikalkulasi, berapa  jumlah  pengeluaran  per  tahun  untuk budget   gincu  seluruh  ABG plus  tante-tante   girang — di  Indonesia — yang  ber- gincu  ria  (berlebihan) karena  tak  cukup  puas  bersolek   pada  masa  remajanya.

Forum SPTN belum memiliki data perihal daya perusak yang ditimbulkan oleh zat-zat yang terdapat dalam gincu.  Dalam hal ini baru ada data tentang produk-produk kosmetik, shampo, dan parfum yang merusak sistem reproduksi manusia.  Dari data-data tersebut terungkap bahwa zat phthalates (baca: thal-eights) yang terkandung dalam beberapa jenis produk tersebut akan diserap melalui kulit, terhirup saat bernapas, ataupun melalui makanan yang terkontaminasi.  Dan dalam kadar tertentu, zat tersebut bisa mengubah keseimbangan hormon, mengurangi kesuburan, hingga merusak kandungan (rahim), bahkan juga bisa merusak liver, ginjal, dan paru-paru.

Seandainya, kelak, terungkap  bahwa  zat   pada gincu  juga  mengandung  daya  perusak  yang  sama  seperti  pada  produk-produk   kosmetik  itu, maka  sejarah  per-gincu-an  akan  menjadi  lain.  Kaum  laki-laki   akan  berhati-hati  untuk  mengecup  bibir  perempuan yang rajin bersolek dengan gincu, yang  menurut  Verdi, laksanana  bulan.  Maka, nantinya, bibir  tidak  lagi  seperti  “bulan”, tapi  sudah  berubah  menjadi  “batu  nisan” atau paling  tidak, “batu asah”.

***

SUNGGUH  tragis, tanpa  disadari, perempuan  telah  mengeksploitasi  pesona  bibirnya  dibandingkan  dengan  ikhtiar  menggali  kecantikan  non-fisik  mereka (“inner   beauty”  atau “spiritual   beauty”).  Apa  yang  diimajinasikan  oleh  kaum  laki-laki — yang  sangat  ditentukan  oleh  propaganda  para  kapitalis  eksploitatif penyembah berhala “pasar bebas”atau “totaliterisme pasar”— tentang  pesona  perempuan, kemudian  dimitoskan  oleh  kalangan  perempuan  itu  sendiri  yang  menjadikan  mereka  memuja  ideologi  “konsumerisme”.  Maka, terjadilah  kepungan  kepentingan  ekonomi  dalam  tubuh — khususnya  “bibir” — perempuan.

***

DENGAN   skenario  seperti  itu, bukankah  penggunaan  “cadar  penutup  muka”  menemukan  legitimasinya?  Bibir-bibir  yang  tersembunyi  di  balik  cadar  tidak  akan  seenaknya  dipelototi  oleh  mata-mata  penuh  birahi  laksana  sepasang  mata  Verdi.

Dan  karena  penggunaan   cadar  telah  diberi  ruang  dalam  Islam,  berarti  ia  telah  memberi     kontribusi  bagi   fleksibilitas, kontekstualitas, kondisionalitas, dan  universalitas  ajaran  Islam  itu.  Dengan  begitu  terbukti  bahwa  Islam  senantiasa  aktual, tak  pernah  usang  seperti  cara pandang atau sepatu  bekasnya  Bung Verdi. [**]

___________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano),

Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN).

8 Balasan ke Asal-Usil (Perempuan Dalam Pandangan Rasulullah Muhammad SAW (ISLAM-13)

  1. Adib s mengatakan:

    Setiap masalah jika dikembalikan ke asalnya akan jadi terang, kemudian baru ambil kesimpulanya. Patut diketahui bahwa cadar berasal dari budaya kristen di Suriah. Dan baru diambil oleh bangsa arab setelah menguasai Suriah pada abad ke-7, dengan meniru golongan elite di Suriah dan mengambil alihnya. Jadi cadar berbeda dengan jilbab yang umum kita kenal, harus beda mana adat dan mana syariat

  2. sandhikusuma mengatakan:

    Anda bilang Cadar dari Kristen????
    Cukuplah hadits ini untuk menjawabnya:
    Di dalam riwayat yang dikenal dengan Hadits al-Ifk , ‘Aisyah رَضِيَ اللَّه عَنْهُنَّ bercerita ketika tiba-tiba Shawfan bin Al-Mu’athal  melihat dirinya:

    وَقَدْ كَانَ -صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ- يَرَانِي قَبْلَ أَنْ يُضْرَبَ الْحِجَابُ عَلَيَّ فَاسْتَيْقَظْتُ بِاسْتِرْجَاعِهِ حِينَ عَرَفَنِي فَخَمَّرْتُ وَجْهِي بِجِلْبَابِي

    “Dia (Shawfan bin Al-Mu’athal) dahulu pernah melihatku sebelum diwajibkan hijab atasku, lalu aku terbangun karena perkataannya: “Inna lillaahi…” ketika dia mengenaliku. Maka aku menutupi wajahku dengan jilbabku.” (HR. Muslim)

  3. sandhikusuma mengatakan:

    Selain itu perintah Allah pada wanita muslimah untuk berjilbab terdapat pula pada surat An-Nuur ayat 31:

    وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ
    “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya”
    Simaklah perkataan Aisyah radiyallahu anha mengenai ayat ini :
    “Semoga Allah merahmati kepada wanita-wanita Muhajirin yang pertama, yang tatkala Allah Ta’ala menurunkan firman-Nya: ”Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya” mereka lantas merobek kain tak berjahit yang mereka kenakan itu, lalu mereka berkerudung dengannya. (Dalam riwayat lain disebutkan:) Lalu mereka pun merobek sarung-sarung mereka dari pinggir, kemudian berkerudung dengannya”

  4. sandhikusuma mengatakan:

    Bukankah kerudung dan jilbab juga ada di ajaran Kristen? :
    I Korintus 11:3-10, membuat pernyataan-pernyataan yang menarik
    tentang jilbab sebagai berikut:

    “Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari
    tiap laki-laki adalah Kristus, kepala dari perempuan adalah laki-laki dan
    kepala Kristus adalah Allah. Tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat
    dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap
    perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung,
    menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur
    rambutnya. Sebab jika perempuan tidak mau menudungi kepalanya, maka
    haruslah ia juga mengguting rambutnya. Tetapi jika bagi perempuan adalah
    penghinaan, bahwa rambutnya digunting atau dicukur, maka haruslah
    ia menudungi kepalanya. Sebab laki-laki tidak perlu menudungi kepalanya:
    ia menyinarkan kemuliaan Allah. Tetapi perempuan menyinarkan kemuliaan
    laki-laki. Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan
    berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan,
    tetapi perempuan dicipt akan karena laki-laki. Sebab itu, perempuan harus
    memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena malaikat” (I Korintus 11:3-10).

    Intinya adalah :
    Kalau memang berasal dari Kristen, maka apakah berarti syariat ini menjadi tidak berlaku?

    Justru adanya penegasan dari Kristen ini menunjukkan bahwa perintah menutup aurat itu memang dari Allah, Tuhan seluruh manusia yang harus diikuti.

  5. sandhikusuma mengatakan:

    2. Kitab Tafsir ath-Thabari ditulis oleh Al-Imam Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari رحمه الله . Kitab tafsir ini adalah referensi yang sangat dikenal di dunia Islam. Pembahasan cadar di antaranya:
    a. Tafsir surat An-Nuur ayat 31 : وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
    (… dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.), yaitu :
    يَقُول تَعَالَى ذِكْره : وَلاَ يُظْهِرْنَ لِلنَّاسِ الَّذِينَ لَيْسُوا لَهُنَّ بِمَحْرَمٍ زِينَتهنَّ , وَهُمَا زِينَتَانِ : إِحْدَاهُمَا : مَا خَفِيَ , وَذَلِكَ كَالْخَلْخَالِ وَالسِّوَارَيْنِ وَالْقُرْطَيْنِ وَالْقَلَائِد . وَالاُخْرَى : مَا ظَهَرَ مِنْهَا , وَذَلِكَ مُخْتَلَف فِي الْمَعْنَى مِنْهُ بِهَذِهِ الايَة , فَكَانَ بَعْضهمْ يَقُول : زِينَة الثِّيَاب الظَّاهِرَة . … عَنِ ابْن مَسْعُود , قَالَ : الزِّينَة زِينَتَانِ : فَالظَّاهِرَة مِنْهَا الثِّيَاب , وَمَا خَفِيَ : الْخَلْخَالَانِ وَالْقُرْطَانِ وَالسِّوَارَانِ …عَنْ أَبِي إِسْحَاق , عَنْ أَبِي الأَحْوَص , عَنْ عَبْد اللَّه : { إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا } قَالَ : الثِّيَاب . قَالَ أَبُو إِسْحَاق : أَلاَّ تَرَى أَنَّهُ قَالَ : { خُذُوا زِينَتكُمْ عِنْد كُلّ مَسْجِد } ؟

    Allah  berfirman: “Janganlah menampakkan perhiasan mereka kepada manusia selain mahramnya.” Perhiasan itu ada dua: yang disembunyikan, yaitu seperti: gelang kaki, dua gelang tangan, dua anting-anting dan kalung. Dan yang kedua adalah yang biasa tampak –ada perbedaan pendapat tentang makna ayat dalam hal ini, dan sebagiannya mengatakan yaitu : pakaian luar.
    Dari Ibnu Mas’ud , ia berkata:”Perhiasan ada dua macam: yang biasa tampak yaitu pakaian luar. Dan perhiasan yang disembunyikan yaitu: gelang kaki, dua anting-anting dan dua gelang tangan.” Dari Abu Ishaq dari Abu al-Ahwash dari Abdullah  berkata,” { إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنـْهَا } yaitu : pakaian.”
    Berkata Abu Ishaq,”Apakah engkau tidak melihat firman Allah : { خُذُوا زِينَتكُمْ عِنْد كُلّ مَسْجِد } “Pakailah perhiasanmu (pakaianmu) yang indah setiap memasuki masjid ?” (QS. Al-A’raf : 31)

    b. Tafsir Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab, يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِنجَلاَبِـيــبِهِنَّ
    (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka …):

    يَقُول تَعَالَى ذِكْره لِنَبِيِّهِ مُحَمَّد صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَيّهَا النَّبِيّ قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ , لاَ يَتَشَبَّهْنَ بِاْلإِمَاءِ فِي لِبَاسهنَّ إِذَا هُنَّ خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتهنَّ لِحَاجَتِهِنَّ , فَكَشَفْنَ شُعُورَهُنَّ وَوُجُوهَهُنَّ , وَلَكِنْ لِيُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبهنَّ , لِئَلاَّ يَعْرِض لَهُنَّ فَاسِق , إِذَا عَلِمَ أَنَّهُنَّ حَرَائِر بِأَذًى مِنْ قَوْل , ثُمَّ اخْتَلَفَ أَهْل التَّأْوِيل فِي صِفَة الإدْنَاء الَّذِي أَمَرَهُنَّ اللَّه بِهِ , فَقَالَ بَعْضهمْ : هُوَ أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوهَهُنَّ وَرُءُوسَهُنَّ , فَلاَ يُبْدِينَ مِنْهُنَّ إِلاَّ عَيْنًا وَاحِدَة .

    Allah  berfirman kepada Nabinya Muhammad  : “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu dan wanita mukminah, janganlah menyerupai budak-budak di dalam berpakaian yang jika keluar rumah untuk suatu keperluan, mereka menampakkan rambut dan wajah-wajah mereka. Akan tetapi hendaklah mengulurkan jilbab-jilbab mereka, sehingga orang-orang fasiq dapat mengenali mereka sebagai wanita merdeka dan terhindar dari gangguan dalam satu pendapat. Ahli ta’wil berbeda pendapat di dalam cara mengulurkan jilbab yang diperintahkan Allah. Maka sebagiannya mengatakan : yaitu menutupi wajah-wajah dan kepala-kepala mereka dan tidaklah menampakkannya kecuali hanya satu mata saja.”

    عَنْ عَلِيّ , عَنِ ابْن عَبَّاس , قَوْله : { يَا أَيّهَا النَّبِيّ قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ } أَمَرَ اللَّه نِسَاء الْمُؤْمِنِينَ إِذَا خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتهنَّ فِي حَاجَة أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوهَهُنَّ مِنْ فَوْق رُءُوسهنَّ بِالْجَلاَبِيبِ , وَيُبْدِينَ عَيْنًا وَاحِدَة .
    Dari Ali dari Ibnu ‘Abbas  berkata, “Allah telah memerintahkan wanita-wanita muslimah jika keluar dari rumah mereka dalam suatu keperluan untuk menutup wajah-wajah mereka (mulai) dari atas kepalanya dengan jilbabnya dan menampakkan hanya satu mata saja.”

    عَنِ ابْن سِيرِينَ , قَالَ : سَأَلْت عُبَيْدَة , عَنْ قَوْله : { قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ } قَالَ : فَقَالَ بِثَوْبِهِ , فَغَطَّى رَأْسَهُ وَوَجْهَهُ , وَأَبْرَزَ ثَوْبَهُ عَنْ إِحْدَى عَيْنَيْهِ . وَقَالَ آخَرُونَ : بَلْ أُمِرْنَ أَنْ يَشْدُدْنَ جَلاَبِيبهنَّ عَلَى جِبَاههنَّ

    Dari Ibnu Sirrin berkata,“Aku bertanya kepada Ubaidah tentang firman Allah  : { قُلْ ِلأَزْوَاجِك وَبَنَاتك وَنِسَاء الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ}, maka iapun (mencontohkan) dengan pakaiannya, kemudian menutup kepala dan wajahnya serta hanya menampakkan salah satu matanya.”
    Dan berkata yang selainnya,”Bahkan diperintahkan kepada mereka agar mengikatkan (mengencangkan) jilbab- jilbabnya itu di dahi-dahi mereka.”

  6. sandhikusuma mengatakan:

    1. Kitab Tafsir al-Qur’an dan Terjemahnya , oleh Tim Tashhih Departemen Agama RI dalam tafsir surat Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab, يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka . ..), yaitu:
    “Jilbab adalah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada. “

  7. sandhikusuma mengatakan:

    4. Kitab Tafsir Ibnu Katsir ditulis oleh Al-Imam Imaduddin Abu al-Fida bin Umar bin Katsir ad-Dimasyiqi al-Qurasyi as-Syafi’i رحمه الله . Kitab tafsir ini adalah referensi yang sangat terkenal di dunia dan di pondok pesantren Indonesia. Pembahasan cadar di antaranya dalam:

    a. Tafsir surat An-Nuur ayat 31 : وَلاَ يُبْدِيْنَ زِيْنَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
    (… dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.), yaitu :

    أَيْ لاَ يُظْهِرْنَ شَيْئًا مِنْ الزِّينَة لِلأَجَانِبِ إِلاَّ مَا لاَ يُمْكِن إِخْفَاؤُهُ. قَالَ اِبْن مَسْعُود : كَالرِّدَاءِ وَالثِّيَاب يَعْنِي عَلَى مَا كَانَ يَتَعَاطَاهُ نِسَاء الْعَرَب مِنْ الْمِقْنَعَة الَّتِي تُجَلِّل ثِيَابهَا وَمَا يَبْدُو مِنْ أَسَافِل الثِّيَاب ,فَلاَ حَرَج عَلَيْهَا فِيهِ ِلأَنَّ هَذَا لاَ يُمْكِنهَا إِخْفَاؤُهُ وَنَظِيره فِي زِيّ النِّسَاء مَا يَظْهَر مِنْ إِزَارهَا وَمَا لاَ يُمْكِن إِخْفَاؤُهُ . . . عَنْ اِبْن عَبَّاس : ” وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتهنَّ إِلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا ” قَالَ : وَجْههَا وَكَفَّيْهَا وَالْخَاتَم … وَيُحْتَمَل أَنَّ اِبْن عَبَّاس وَمَنْ تَابَعَهُ أَرَادُوا تَفْسِير مَا ظَهَرَ مِنْهَا بِالْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَهَذَا هُوَ الْمَشْهُور عِنْد الْجُمْهُور وَيُسْتَأْنَس لَهُ بِالْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ أَبُو دَاوُد فِي سُنَنه… عَنْ عَائِشَة رَضِىَ اللَّه عَنْهَا أَنَّ أَسْمَاء بِنْت أَبِي بَكْر دَخَلَتْ عَلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَيْهَا ثِيَاب رِقَاق فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَقَالَ : ” يَا أَسْمَاء إِنَّ الْمَرْأَة إِذَا بَلَغَتْ الْمَحِيض لَمْ يَصْلُح أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا” وَأَشَارَ إِلَى وَجْهه وَكَفَّيْهِ لَكِنْ قَالَ أَبُو دَاوُد وَأَبُو حَاتِم الرَّازِيّ هُوَ مُرْسَل .خَالِد بْن دُرَيْك لَمْ يَسْمَع مِنْ عَائِشَة رَضِىَ اللَّه عَنْهَا وَاَللَّه أَعْلَم .

    “ tidak menampakkan sesuatu apapun dari perhiasannya kepada laki-laki asing (bukan mahram) kecuali apa-apa yang tidak mungkin lagi disembunyikan. Berkata Ibnu Mas’ud , ”yaitu seperti rida’ (jubah) dan pakaian, yakni seperti yang dipakai di kalangan wanita Arab berupa mukena’ – yang menyelubungi pakaiannya dan menutupi apa yang terlihat di bagian bawahnya – , maka tidak mengapa hal tersebut (mukena’) terlihat karena memang tidaklah mungkin disembunyikan lagi sebagaimana kain sarung . . .”
    …Dari Ibnu Abbas  berkata,”kecuali wajah, kedua telapak tangan dan cincin.” …Dan kemungkinan bahwa Ibnu Abbas dan mereka yang mengikutinya menghendaki penafsiran “apa yang biasa tampak” sebagai wajah dan kedua telapak tangan – pendapat ini masyhur di banyak kalangan – dan didengar pula dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya…dari Aisyah رَضِيَ اللَّه عَنْهَا bahwa Asma’ binti Abu Bakar masuk menemui Nabi  dengan pakaian yang tipis. Maka Nabi  berpaling darinya dan bersabda,” Wahai Asma’ , sesungguhnya seorang wanita bila telah haidh maka tidak boleh terlihat darinya kecuali ini.” Dan beliau mengisyaratkan wajah dan telapak tangannya.”
    “Namun justru Abu Dawud -periwayat hadits ini – dan Abu Hatim ar-Razi berkata bahwa hadits ini mursal. Hal ini karena Kholid bin Duraik tidak pernah mendengar dari Aisyah رَضِيَ اللَّه عَنْهَا. Wallahu ‘alam.”

    b. Tafsir Al-Ahzaab : 59 tentang makna jilbab,
     يُدْنِــينَ عَلَيْهِنَّ مِنجَلاَبِـيــبِهِنَّ (…Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka…) , yaitu :

    وَالْجِلْبَاب هُوَ الرِّدَاء فَوْق الْخِمَار قَالَهُ اِبْن مَسْعُود وَعَبِيدَة وَقَتَادَة وَالْحَسَن الْبَصْرِيّ وَسَعِيد بْن جُبَيْر وَإِبْرَاهِيم النَّخَعِيّ وَعَطَاء الْخُرَاسَانِيّ وَغَيْر وَاحِد وَهُوَ بِمَنْزِلَةِ اْلإِزَار الْيَوْم… قَالَ عَلِيّ بْن أَبِي طَلْحَة عَنْ اِبْن عَبَّاس أَمَرَ اللَّه نِسَاء الْمُومِنِينَ إِذَا خَرَجْنَ مِنْ بُيُوتهنَّ فِي حَاجَة أَنْ يُغَطِّينَ وُجُوههنَّ مِنْ فَوْق رُءُوسهنَّ بِالْجَلاَبِيبِ وَيُبْدِينَ عَيْنًا وَاحِدَة .وَقَالَ مُحَمَّد بْن سِيرِينَ سَأَلْت عُبَيْدَة السَّلْمَانِيّ عَنْ قَوْل اللَّه عَزَّ وَجَلَّ ” يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ” فَغَطَّى وَجْهه وَرَأْسه وَأَبْرَزَ عَيْنه الْيُسْرَى. وَقَالَ عِكْرِمَة تُغَطِّي ثُغْرَة نَحْرهَا بِجِلْبَابِهَا تُدْنِيه عَلَيْهَا….عَنْ أُمّ سَلَمَة قَالَتْ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَة ” يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ” خَرَجَ نِسَاء الْأَنْصَار كَأَنَّ عَلَى رُءُوسهنَّ الْغِرْبَان مِنْ السَّكِينَة وَعَلَيْهِنَّ أَكْسِيَة سُود يَلْبَسْنَهَا.

    Jilbab ialah rida’ yang dikenakan di atas khimar (kerudung), demikian Ibnu Mas’ud, Ubaidah, Qatadah, Hasan al-Bashri, Sai’d ibn Jubair, Ibrahim an-Nakha’i dan Atha’ al-Khurasani. Dan selainnya mengatakan jilbab itu kedudukannya sama seperti kain sarung di masa kini.
    Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu ‘Abbas  : “Allah memerintahkan wanita-wanita muslimah jika keluar dari rumah mereka dalam suatu keperluan untuk menutup wajah-wajah mereka (mulai) dari atas kepalanya dengan jilbabnya dan menampakkan hanya satu mata saja.”.
    Berkata Muhammad Ibnu Sirrin: “Aku bertanya kepada Ubaidah as-Salmani tentang firman Allah  : يُدْنِيــنَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنّ , maka iapun (mencontohkan dengan ) menutup wajah dan kepalanya serta menampakkan mata kirinya.”
    Dan berkata Ikrimah,” menutupkan celah lehernya dengan jilbab yang terulur di atasnya.” … dari Ummu Salamah berkata,”Ketika turun ayat ini يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبهنَّ , keluarlah wanita-wanita Anshar seolah-olah kepala mereka ada burung gagak karena hitamnya pakaian yang dikenakan.”

  8. sandhikusuma mengatakan:

    MUKTAMAR VIII NAHDLATUL ULAMA
    Keputusan Masalah Diniyyah Nomor : 135 / 12 Muharram 1352 H / 7 Mei 1933 Tentang
    HUKUM KELUARNYA WANITA DENGAN TERBUKA WAJAH DAN KEDUA TANGANNYA

    Pertanyaan :
    Bagaimana hukumnya keluarnya wanita akan bekerja dengan terbuka muka dan kedua tangannya? Apakah HARAM atau Makruh? Kalau dihukumkan HARAM, apakah ada pendapat yang menghalalkan? Karena demikian itu telah menjadi Dharurat, ataukah tidak? (Surabaya)

    Jawaban :
    Hukumnya wanita keluar yang demikian itu HARAM, menurut pendapat yang Mu’tamad ( yang kuat dan dipegangi – penj ).
    Menurut pendapat yang lain, boleh wanita keluar untuk jual-beli dengan terbuka muka dan kedua tapak tangannya, dan menurut Mazhab Hanafi, demikian itu boleh, bahkan dengan terbuka kakinya, APABILA TIDAK ADA FITNAH.

    SUMBER :
    Ahkamul Fuqaha, Solusi Problematika Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926-2004 M), halaman123-124, Pengantar: Rais ‘Am PBNU, DR.KH.MA Sahal Mahfudh; Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN) NU Jatim dan Khalista, cet.III, Pebruari 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: