Perempuan Dalam Pandangan Rasulullah Muhammad SAW (Bagian Pertama) Oleh: Dr. Ali Syari’ati, Intelektual Iran (ISLAM-12)

ISLAM-12

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Perempuan   Dalam   Pandangan

Rasulullah   Muhammad   SAW

(Bagian   Pertama)

Oleh:  Dr.  Ali  Syari’ati

Intelektual   Iran

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-gender-issue.blogspot.com

dan disiapkan dalam rangka menyongsong peresmian  Forum SPTN

pada tanggal  17 Agustus 2007.

Topik   ini — perempuan   menurut   Rasulullah  SAW — telah  banyak   ditulis  oleh  sejarawan  dan  ilmuwan.  Kendati  demikian,  masih  saja  banyak  sisi  lain   yang  belum  terungkap.  Hal  tersebut  disebabkan  oleh  faktor  kebencian  yang  seringkali  melahirkan  pernyataan  berlebih-lebihan  dari  distorsi  fakta  sejarah  atau  oleh  perilaku  yang  cenderung  kompromistis, di  mana  seringkali  terjadi  rekayasa  interpretasi  dan  justifikasi  atas  isu-isu  yang  berkaitan  dengannya, sehingga  tampak  sesuai  dengan  kondisi  dan  citarasa  suatu  masyarakat  pada  periode  tertentu.

Dari  dua  pendekatan itu (distorsi fakta sejarah dan kecenderungan kompromistis) tidak  satu  pun  memuaskan  peneliti-peneliti  dari  “kelompok  ketiga”.  Kelompok  ini  hanya  mendasarkan  penyelidikannya  pada  realitas  sesungguhnya  dalam  rangka  menemukan  kebenaran.

Isu  perempuan, baik  dipandang  dari  aspek  sosial  maupun  emosinya, senantiasa  dianggap  aktual.  Dan  karena  ilmu  pengetahuan  gagal  memberikan  solusi  atas  masalah  ini, maka  ia  dianggap  sebagai  bagian  dari  kerangka  bahasan  ideologi.  Isu  ini  juga  telah  menjadi  bahasan  di  bidang  filsafat  dan  agama, di  mana  ada  kecenderungan  untuk  menginterpretasikan  serta  menjustifikasikannya   secara  dinamis  sesuai  dengan  perubahan  zaman.  Dengan  demikian, setiap  mazhab  pemikiran, era  atau  pun  masyarakat  senantiasa  membahas  isu  tersebut  dengan  cara  masing-masing.  Dan  seringkali  para  penulis  yang  menyelidiki  isu  “Perempuan   Dalam   Kehidupan  Rasulullah   SAW”  tidak  berhasil  melepaskan  diri  dari  pengaruh  faktor-faktor  tertentu, yaitu  filsafat  (cara  berfikir  dan  mazhab  pemikiran  yang  dianut), agama, tradisi, kecenderungan  yang  berlaku  umum  (citarasa, sentimen-sentimen  ataupun  interaksi  pendekatan  persuasif), dan  tuntutan  serta  kebutuhan   spiritual  (masyarakat   ataupun  individu).  Inilah  sebabnya  mengapa  pendekatan  sosial  maupun  emosional  tentang  perempuan  dan  interpretasi  perannya  dalam  kehidupan  sangat  dipengaruhi  oleh  perkembangan  zaman.  Jelas, penelitian  ilmiah  atas  masalah  ini — dalam  berbagai  era  dan  model  masyarakat — sangatlah  sukar  bila  si   peneliti  gagal  membebaskan  diri   dari   dominasi  adat-istiadat, berbagai  pemikiran  serta  kecenderungan  yang  sedang  terjadi  dalam  lingkungan  di   masa  hidupnya, dan  juga  penyakit  prasangka  yang  bernuansa  menghakimi.  Sebagaimana  dikatakan  oleh  guru  besar  saya, Prof Jacques  Berque, “Bila suatu pengamatan dan pengungkapan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada era dan lingkungan lain dilakukan secara sama dengan masa serta lingkungan hidup si peneliti, maka peneliti tersebut akan gagal menemukan realitas tertentu; dan apa pun yang diungkapkannya akan cenderung tidak ilmiah (absurd).”

***

ISU perempuan — dari berbagai sudut pandang yang bisa didiskusikan — sangat bergantung pada variabel waktu serta lingkungan tertentu, di mana di sana banyak terkandung prinsip-prinsip dan norma-norma yang dianggap sangat manusiawi dalam suatu kurun, tetapi — bisa saja — pada waktu dan lingkungan lain  justru dipandang tidak manusiawi.  Isu  “poligami” merupakan salah satu contoh dari isu-isu tersebut.  Saat ini, dalam masyarakat kita banyak yang menganggap bahwa poligami adalah suatu penghinaan yang sangat melukai perasaan perempuan.  Tetapi di masa lalu, ia (poligami) dipandang sebagai media penyelamat bagi para janda dan anak yatim yang menjadi tanggungan mereka.  Di sini mereka dapat menikmati kehangatan rasa kekeluargaan, kasih sayang, keamanan, dan kesejahteraan.  Dengan demikian, ancaman kemelaratan dan kerusakan moral akan dapat dihindari berkat perlindungan yang diberikan oleh seorang laki-laki (sang Ayah), yang di masa tersebut merupakan pelindung satu-satunya bagi perempuan dan anaknya.  Lebih dari itu, di masa lalu banyak sekali ditemui keluarga-keluarga yang kehilangan pelindung (sang Ayah) akibat gugur (syahid) dalam pertempuran membela agama Allah.  Melalui pernikahan poligami, masalah sosial tersebut bisa teratasi.

***

ISU pakaian  “cadar” (pakaian yang digunakan kaum  muslimah, di mana pakaian tersebut menutupi ujung rambut di kepala hingga ujung jari kaki) juga merupakan isu lain.  Saat ini, ia (cadar) dipandang sebagai tradisi yang mengekang perempuan.  Dan pemikiran kontemporer menganggapnya sebagai  kejahatan yang memuakkan.   Tetapi, di  masa  lalu, “cadar”  justru  dianggap  sebagai  simbol  bagi  kelompok-kelompok  terpandang, ukuran  prestise   sosial, dan  bahkan  merupakan  tanda  kehormatan  atau  martabat  kaum  perempuan.   Hingga sekarang, beberapa kelompok masyarakat pedesaan dan keluarga di perkotaan yang tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional, masih menggunakan  “cadar”.

***

DALAM  beberapa tahun terakhir ini, para peneliti telah banyak mempelajari isu di seputar hak-hak perempuan yang ditinjau dari sudut pandang ajaran Islam; dan saya tidak akan mengulangi hal-hal yang sudah dibahas tersebut.  Sayangnya, di antara para pembaharu dan pemikir besar di bidang sejarah itu banyak yang gagal menempatkan perempuan pada kedudukan semestinya, atau bahkan memandang mereka secara hina.  Seperti kita ketahui, Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok terbaik yang patut dijadikan teladan.  Beliau sangat serius memerhatikan nasib perempuan dan memberikan tanggung jawab kemanusiaan dan hak-hak sosial kepada mereka.  Beliau juga mengajarkan pentingnya memberikan jaminan kepemilikan hak-hak individu dan kebebasan aktifitas ekonomi kaum perempuan, sementara sejalan dengan itu mewajibkan laki-laki (sang suami) untuk memenuhi segala kebutuhan material perempuan (sang isteri) pada suatu tingkat tertentu (yang sesuai dengan  syariah Islam dan kemampuan sang  suami — Penerjemah), di mana perempuan dapat meminta imbalan atas perawatan dan pengasuhan anaknya sendiri, dan juga mensyaratkan laki-laki untuk  membayar  “mahar” kepada istrinya — kendati kini ada pendapat yang menolak kewajiban ini.  Hal-hal tersebut  mengindikasikan bahwa Islam sangat menghargai personalitas dan hak-hak perempuan.

Parameter-parameter yang disebutkan di atas juga dapat diartikan bahwa Islam memberikan jaminan atas status ekonomi perempuan, khususnya dalam menghadapi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak menguntungkan di masa datang.  Selain itu, adanya kesetaraan perempuan dan laki-laki dalam status hukum serta keagamaan merupakan faktor pelengkap yang dapat mengokohkan kekuatan sosial dan kebebasan sesungguhnya bagi kaum perempuan di hadapan laki-laki.  Ini penting karena seringkali timbul kecenderungan penggiringan perempuan di bawah dominasi yang lalim.

Apa yang bisa saya bahas di sini tentang isu perempuan — yang memang cukup sensitif dan pelik — adalah didasarkan pada sudut pandang Islam; dan itu dapat disimpulkan dari analisis mendalam (komprehensif) mengenai hak-hak sosial dan moral perempuan, juga martabat manusia.  Diskriminasi jenis kelamin (gender  discrimination) berlawanan secara diametral dengan gagasan tentang kesetaraan jender.  Dengan kata lain, Islam tidak membenarkan diskriminasi dan bahkan ia (Islam) sangat menganjurkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. [**]

__________________________

Tulisan ini diterjemahkan  dari  buku

Women   in  the   Eyes  and  Heart   of  Muhammad

oleh  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional / Forum SPTN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: