Asal-Usil (Perempuan Dalam Persepsi Ayatullah Khomeini) (ISLAM-11)

ISLAM-11

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Asal-Usil


(Perempuan  Dalam  Persepsi

Ayatullah  Khomeini)

Catatan Redaksi:

“Asal-Usil” ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-gender-issue.blogspot.com

dan disiapkan dalam rangka menyongsong peresmian  Forum SPTN

pada tanggal  17 Agustus 2007.

Sesungguhnya, relasi  antara  laki-laki  dan  perempuan  haruslah  tidak  mengabaikan  etika  keadilan, yakni  sebuah  etika  yang  bertolak  dari  premis  kesetaraan  (bukan  persamaan), bahwa  setiap  orang  harus  diperlakukan  setara  sesuai  dengan  hak  dan  kewajibannya.  Di  situ  berlaku  prinsip  keadilan  komutatif  yang  membawa  pesan  tentang  perlunya  untuk  tidak  merugikan  dan  tidak  melanggar  hak-hak  orang  lain.

Dari   perspektif   ini, perempuan  (istri)  tidak  lagi  dipandang  seperti  cara  pandangnya  rezim  Orde  Baru, di  mana  ia  (perempuan)  dengan  seenaknya  dibentuk, dikontrol, dan  didisiplinkan. Oleh  karena  itu, konsep  laki-laki ambaudhendha  (serba  kuasa)  harus  dirubah  menjadi ambaureksa  (serba  memelihara).  Pengertian  “serba  memelihara”  tidak  identik  dengan  superioritas   atau  “pemegang  kuasa”, tetapi  lebih  tepat  sebagai  “pemegang  amanat”.

“Orang-orang  yang  beriman, lelaki  dan  perempuan, sebahagian

mereka  menjadi  penolong  bagi  sebahagian  yang  lain. Mereka  menyuruh  (mengerjakan)  yang  ma’ruf, mencegah dari  yang  munkar, mendirikan   shalat, menunaikan zakat, dan  mereka  ta’at  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya.”

(QS  9 : 71)

“ … Mereka  adalah  pakaian  bagimu  dan  kamu  pun

adalah  pakaian  bagi  mereka.”

(QS  2 : 187)

Dalam  menafsirkan  QS  9 : 71  tersebut, al-Qur’thubi   mengatakan   bahwa  hati  mereka  menyatu  dalam  kehangatan, kasih  sayang,  dan  saling  merasakan. Tentu saja, semen perekat yang menyatukan hati-hati tersebut adalah “tawhid”.  Kita yakin, dengan memahami serta mempraktikkan prinsip-prinsip “tawhid” secara benar (bukan sok benar), segala persoalan akan bisa terselesaikan dengan damai, membahagiakan serta berkeadilan.

Suatu keluarga yang mengamalkan ajaran “tawhid” pastilah mendapatkan kedamaian, kebahagiaan, kesejahteraan, dan keadilan.  Sebaliknya, siapa pun yang mengabaikan prinsip-prinsip tawhid  kelak akan menuai kenistaan.  Atas dasar ini mudah dipahami mengapa banyak di antara pejuang-pejuang hak-hak perempuan — misalnya di Barat — dililit persoalan keluarga (“broken love”  atau “broken  family”).

***

SELAMA  ini, budaya Timur (harap dibedakan dengan  “budaya Islam”) membebankan kerja dan tanggung jawab domestik kepada Ibu (perempuan).  Seiring dengan perkembangan zaman atau modernisasi (?), muncul gugatan mengapa tugas-tugas domestik itu tidak pula dibebankan kepada laki-laki (Ayah).  Dengan kata lain, mengapa tugas mengurus rumah tangga dan mendidik anak tidak dianggap sebagai tanggung jawab bersama, baik laki-laki (Bapak) maupun perempuan (Ibu).

Dalam perkembangan selanjutnya, kiprah kaum Ibu mulai bergeser ke wilayah publik.  Sebagai konsekuensinya, kiprah mereka terbagi dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok Ibu yang tetap bekerja hanya dalam wilayah domestik. Kedua, kelompok Ibu yang bekerja rangkap (double  burden), yakni pada wilayah kerja domestik dan juga wilayah kerja publik. Ketiga, kelompok Ibu yang bekerja hanya dalam wilayah publik.

***

ISLAM   yang  dipahami  oleh  Imam  Khomeini  adalah  Islam  yang  memberikan  kebebasan  bagi  perempuan  (Ibu)  untuk — secara  aktif — menentukan  kiprahnya  dalam  berbagai  ranah  kehidupan.  Ini  pula  yang  telah  diteladankan  oleh  Sayyidah  Khadijah  dan  Sayyidah  Fathimah  melalui  kiprah  sosial-kemasyarakatan mereka,  jauh  sebelum  tokoh-tokoh   postfeminisme  (yang  menyatu  dalam  suatu  kerangka  bersama  postmodenisme  dan  poststrukturalisme), seperti  Gayatri  Spivak, Julia  Kristeva, Helene   Cixous, Marina   Abramovic, dan   lain-lain, mempromosikan  gagasan-gagasan  pemberdayaan  perempuan.

Tentu saja, kebebasan tersebut harus bergerak kepada pencapaian martabat manusia yang luhur, dan bukan yang malah akan membuat manusia (perempuan) menjadi tidak bermartabat.  Sayangnya, berbagai pihak memiliki ukuran yang berbeda dalam mendefinisikan  “manusia yang bermartabat” (maaf: bukan  “martabak”).

Dalam  hubungan  ini  patut  dijawab  beberapa  pertanyaan  berikut:

Pertama, ketika  para  Ibu  memutuskan  untuk  bekerja  rangkap, yakni  pada  wilayah  kerja  domestik  dan  wilayah  kerja  publik  sekaligus (double  burden), bagaimana  ia  mengatur  waktu  agar  dapat  secara  optimal  memberi  sentuhan  (gizi  mental)  dan  Air  Susu  Ibu / ASI  (gizi  makanan)  yang  terbukti  mampu  mempercepat  perkembangan  jiwa  bayi  dan  juga  membangun  daya  tahan  tubuhnya?  (Harap  dibedakan  antara  “optimal”  dan  “separuh-separuh” karena  yang  disebutkan  terakhir  mengandung   unsur  pelanggaran  hak  asasi  bayi  atau anak).

Berdasarkan penelitian, “sentuhan hangat” tersebut bisa merehabilitasi pengalaman traumatik si bayi, memperkaya wawasannya, membuatnya merasa aman dan nyaman (pada keadaan inilah berbagai potensi bayi bisa berkembang secara optimal), serta meningkatkan rasa percaya dirinya (self  confidence).  Bukankah dengan merampas kesempatan-kesempatan yang merupakan hak asasinya itu berarti sang Ibu sudah terjebak pada oportunism dan berpartisipasi dalam menghambat program penyiapan sumber daya manusia yang tangguh?

Bisa saja seorang Ibu berdalih bahwa sentuhan dan kepeduliannya bisa diwujudkan melalui komunikasi lewat telepon, misalnya.  Namun, perlu diingat bahwa — secara klinis — kontak langsung kulit Ibu dengan kulit bayi (skin to skin contact), apalagi  dengan disertai  kegiatan menyesui (memberi ASI, yang terbukti mengandung antibodi), bisa membuat bayi merasa nyaman dan aman, serta meningkatkan perkembangan psikomotoriknya  sebagai reaksi rangsangan sensoris dari Ibu ke bayi.

Memang betul  ASI  bisa diberikan bersamaan dengan PASI (pengganti air susu Ibu), di mana ASI diberikan pada saat Ibu berada di rumah, sedangkan pemberian PASI (oleh pembantu) hanya ketika Ibu bekerja di luar rumah.  Tetapi, bukankah dengan pola seperti itu akan membuat bayi mengalami  “bingung puting”?  Tidakkah kita tahu bahwa PASI lebih sedikit diserap oleh usus bayi dibandingkan dengan ASI?  Bukankah kandungan natrium pada PASI akan memberatkan kerja ginjal bayi, padahal kondisinya belum sempurna?  Mengapa pula PASI (susu formula) harus diprioritaskan  sementara  diketahui ia  tak memiliki zat anti-infeksi dan anti-alergen seperti yang dimiliki ASI?

Bisa saja kelemahan PASI diatasi dengan memberikan susu perasan dari payudara Ibu.  Tetapi, bisakah dijamin bahwa tindakan ini tidak akan merusak jaringan payudara, yang kemudian menyulitkan keluarnya ASI?  Bukankah kandungan antibodi pada ASI perasan ada yang sudah mati?

Dengan double  burden, tidakkah  perempuan ideal kemudian menjadi superwoman,  yang menurut beberapa penelitian mudah terkena stres?  Kemudian, mengapa pula masih kurang dipahami bahwa stres akan mengganggu menstruasi?  Bukankah gangguan menstruasi pada tingkat rendah yaitu pada organ ovarium dan rahim [gangguan menstruasi dapat pula terjadi pada tingkat atas yaitu pada kelenjar “hypotese”  dan “hypothalamus” yang ada di otak, di mana kelenjar ini memproduksi hormon yang mengontrol siklus perkembangan sel telur (ovum) pada indung telur] bisa memicu timbulnya  tumor?  Bila stres sudah menerjang Ibu, bagaimana pula ia bisa mengontrol serta membimbing anak-anaknya dari berbagai gangguan dan ancaman, mulai dari trauma yang dipicu oleh tayangan TV hingga kepada bahaya narkoba dan seks  pranikah?

Bisakah Ibu dengan double  burden  memiliki kesempatan untuk secara optimal dan menyenangkan merespons setiap cerita atau keluhan dari anak-anaknya?  Tidakkah kita tahu bahwa dengan memberikan  peluang  sebesar-sebesarnya bagi si kecil untuk bercerita apa saja — sesuai dengan versi dia — berarti memperkukuh perasaan dan pikirannya karena merasa dihargai?  Sebaliknya, masih adakah waktu bagi Ibu dengan double  burden  untuk  “memberi bimbingan”  anak-anaknya dengan  mendongeng?  Bukankah mendongeng bisa mengembangkan imajinasi tanpa batas — seperti diungkapkan oleh George Orwel — yang kemudian memicu kreativitas?  Lalu mengapa kita masih saja enggan menanamkan imajinasi (kepada anak) yang berorientasi pada tokoh-tokoh utama yang patut dijadikan teladan untuk mengidentifikasi diri mereka?  Apa pula alasan yang membuat kita malas memperkenalkan tokoh-tokoh dari keluarga (Ahlul Bait)  Rasulullah Muhammad SAW?  Tidakkah kita tahu bahwa Allah SWT, para malaikat, dan orang-orang beriman ber-shalawat  kepada keluarga suci itu? — lihat QS 33 : 56 ; 42 : 23; dan 33 : 33  juga hadits-hadits yang diriwayatkan oleh kalangan Sunni maupun Syiah.

Kemudian, bukankah telah terungkap dari sebuah penelitian bahwa irama, ritme, dan tekanan suara (pada saat mendongeng) — yang berbeda dengan jenis suara bicara yang serba datar — memberi ketenangan pada anak, dan juga membantu membebaskan dari rasa takut?  Jangan-jangan  “takutnya” anak-anak muda saat ini, dalam mengambil keputusan-keputusan strategis, merupakan akibat dari kesalahan orang tua mereka yang tidak pernah mendongeng (tatkala mereka masih kecil).

Memang,  anak-anak sekarang telah dikondisikan untuk patuh pada budaya digital yang miskin nuansa kejiwaan.  Dikhawatirkan, ini akan melahirkan “penyakit jiwa  sosial”.  Anak-anak digital itu telah  kehilangan  idola yang patut ditiru.  Padahal, “setiap anak punya kebiasaan untuk meniru,” begitu kata Mimi Doe dan Marsha Walch dalam “Ten Principle of Spritual Parenting”.

Kedua, jika  perempuan  (istri)  bekerja  hanya  dalam  wilayah  publik, bukankah  itu  telah  melanggar  hak-hak  laki-laki  (suami)?  Dalam  hubungan  ini, tidak  berhakkah    suami  menuntut, mengapa  tugas-tugas  atau  kewajiban-kewajiban  domestik  tidak  juga  dibebankan  kepada  perempuan  (istri)?

Kemudian, benarkah peran domestik telah memenjarakan perempuan, sementara peran publik disimbolkan sebagai peran yang memerdekakan mereka?  Bukankah — secara sosiologi — cara pandang  yang  mendikotomikan antara  “peran domestik” dan “peran publik”  berarti mereproduksi  realitas tentang stratifikasi sosial?  Apa bedanya reproduksi stratifikasi sosial seperti itu dengan pengkastaan gaya modern?  Manusiawikah  jika perempuan harus dibebani lagi dengan “social  cost”  dan “moral  cost” — yang antara lain mensyaratkan kualitas kerja dan akademis yang harus disertai dengan kecantikan — untuk mentransformasikan dirinya dari wilayah domestik ke wilayah publik?  Bukankah ideologi pembangunan (developmentalism) transformatif seperti itu tidak lebih dari sekadar mengalihkan tubuh perempuan, yang terbingkai dalam fungsi biologis reproduktif, ke arah fungsi ekonomi yang menjongos pada ekspansi kapital (kekuatan uang)?  Pantaskah bila kita mengatakan bahwa sosok ekonomi hasil transformasi seperti itu sebagai “ekonomi libido”, dan oleh karenanya semua supporter-nya  pasti  berotak  porno?

Ketiga, bila  Ibu  (perempuan)  hanya  bekerja  dalam  wilayah  domestik, bukankah  itu  telah  menyia-nyiakan  berbagai  potensi  yang  telah  dianugrahkan  oleh  Allah  SWT  kepadanya?

Dari  penelitiannya  (1997), Prof  David  Skuse  dari  Institut  Kesehatan  Anak  (Inggris)  menemukan  bahwa  secara  genetik, perempuan  memiliki  kemampuan  untuk  mengadaptasi  situasi  sosial  atau  kemasyarakatan  yang  lebih  baik  dari  pada  laki-laki.  Intuisi  feminen, ungkap  Skuse  dan  timnya, merupakan  sifat  bawaan  biologis  yang  khas  dimiliki  oleh  kaum  perempuan.

Lebih  lanjut dikatakan, anak perempuan memiliki kemampuan berkonsentrasi lebih tinggi daripada  anak laki-laki.  Selain itu, anak laki-laki lebih impulsif, cenderung cuek  atas pengaruh kehadirannya pada orang-orang  di  sekitarnya.

Sebagaimana kita pahami, dalam keadaan normal, anak perempuan memiliki dua kromosom X, masing-masing dari Ibu dan Ayah.  Sedangkan anak laki-laki memiliki satu kromosom X  dari Ibu dan satu kromosom Y dari Ayah.

Penelitian Skuse juga mengungkapkan bahwa karena adanya kromosom X paternal (dari Ayah), maka anak perempuan yang sehat memiliki keluwesan sosial yang lebih dibandingkan dengan anak laki-laki. Bersama timnya, Skuse juga yakin bahwa kelompok gen yang berfungsi untuk mengontrol perilaku sosial pada kromosom X maternal (dari Ibu) tidak berfungsi.

Hasil penelitian itu juga menyimpulkan bahwa anak perempuan lebih jarang menginterupsi atau langsung membalas ucapan lawan bicaranya.

***

BUKANKAH dari penelitian Skuse tersebut dapat diindikasikan tentang perlunya keterlibatan perempuan dalam sektor-sektor publik?  Masalahnya, jika semua sektor publik bisa dimasuki oleh perempuan — hanya atas dasar pertimbangan keluwesan atau kemampuan sosial (sociability)  perempuan yang lebih baik — bagaimana dengan risiko khas yang rawan menimpa  mereka?

British Medical Journal (1995) melaporkan bahwa pramugari berisiko dua kali lipat terkena kanker payudara dan rentan terhadap kanker kulit / tulang serta leukemia.  Ini disebabkan karena mereka terterpa radiasi kosmik yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang lebih banyak di daratan.

Lalu, bagaimana pula dengan radiasi-radiasi moral-sosial yang senantiasa siap menerjang kaum perempuan?  Bukankah sering kita dengar terjangan radiasi moral-sosial yang berupa, misalnya, pelecehan seksual (sexual  harassment)  atas perempuan yang bekerja pada jenis-jenis pekerjaan tertentu?

Jika persoalannya terletak pada bagaimana memberdayakan perempuan, bukankah pemberdayaan bisa didesain sedemikian rupa sehingga tidak  malah  “memperdayakan”  perempuan?  Maka, setiap perempuan harus mulai menghargai atau memuliakan dirinya sendiri dalam rangka pemberdayaan itu.  Dalam hal ini, bukan saja laki-laki yang harus dituntut untuk menghargai atau menghormati perempuan agar tidak terjadi pelecehan dalam berbagai wujudnya, tetapi perempuan sendiri harus membekali diri dengan “self  esteem” (yakni seluruh sikap, ucapan, dan perbuatan yang menunjukkan penghargaan terhadap diri sendiri yang memberikan kesuksesan tanpa harus selalu berkonfrontasi dengan sesuatu), di samping “self  confidence”  (yakni sikap percaya diri dalam berhubungan dengan dunia luar yang membuat seseorang merasa mampu untuk berkompetisi dalam bentuk apa pun).

Bukankah pemberdayaan yang efektif adalah dimulai dari diri sendiri atau lingkaran (lingkungan) terkecil?  Nah, bila lingkaran terkecil yang harus diberdayakan lebih awal, mengapa setiap perempuan tidak terlebih dahulu mengoptimalkan pengembangan potensi diri dan  keluarganya, baik secara fisik (biologis), psikis maupun spiritual?

***

DENGAN menggejalanya perkembangan home office — yakni berbagai aktifitas yang diselenggarakan di rumah dengan dukungan aneka perangkat teknologi komunikasi dan  informasi — dewasa ini, mengapa itu tidak dipandang sebagai pertanda bahwa sesungguhnya perempuan bisa saja berkiprah lebih banyak tanpa harus sering meninggalkan rumahnya (tanggung jawab domestiknya)?

Selain itu, mengapa tidak dikembangkan usaha-usaha kecil yang berbasis di rumah (“modern  home  offices” atau “modern  home  industries”) dengan ciri: (a) Menggunakan teknologi modern untuk proses kegiatan (produksi)-nya, atau hanya menggunakan keahlian lokal (seperti untuk usaha-usaha kerajinan tangan); (b) Menggunakan bahan baku lokal untuk proses produksinya; dan (c) Hasil-hasil produksinya bisa dipasok untuk pasar lokal maupun untuk pasar ekspor dengan memanfaatkan konsep “e-marketing” (e-business) berbasis teknologi digital.

Bila Taiwan berhasil dengan model pembangunan berbasis home industries dan  masyarakat Jepang yang mulai banyak mengembangkan home offices, mengapa kita tidak bisa?  Juga, mengapa masih kurang sekali  usaha-usaha mendidik perempuan untuk bisa berfikir secara konsepsional dan memiliki wawasan kepemimpinan (leadership) atau manajerial (termasuk kewirausahaan) sehingga mereka bisa membentuk serta menggerakkan jaringan (network) yang lebih luas dengan hanya cukup dikendalikan  dari rumah?  Pernahkah kita membayangkan bagaimana besar pengaruh aktifitas Ibu (perempuan) — yang bekerja di rumah dengan  model seperti itu — terhadap anaknya?  Tidakkah disadari bahwa di situ akan terjadi proses imitasi — meminjam istilah psikologi — anak kepada Ibunya?  Dengan memasukkan anak dalam proses imitasi, bukankah  berarti  ia telah dilibatkan untuk  belajar secara efektif dan efisien dengan  prinsip “learning  by  doing” (belajar dari hal-hal yang dilihat dan dipraktikkan secara langsung)?

***

URAIAN di atas, tentu saja, tidak berarti perempuan sama sekali tidak boleh beraktifitas di luar rumah.  Yang ingin kami wacanakan adalah bila dengan memanfaatkan perangkat-perangkat teknologi canggih (yang harganya tidak terlalu mahal), seorang perempuan bisa menggerakkan secara luas aktifitasnya dari rumah, mengapa harus buang energi untuk ke luar rumah?  Bukankah masyarakat modern cenderung mengedepankan efisiensi dan efektifitas?  Memang, untuk itu diperlukan wawasan luas yang digerakkan dengan kecerdasan.

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu

dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS 58 : 11)

“la  dina  liman  la  ‘aqlalah”

(Tak ada agama bagi orang yang tidak berpikir)

(Sabda Rasulullah Muhammad SAW)

***

PADA  akhir 2002, sebanyak sepuluh ribu anak-anak di Inggris memutuskan untuk bermigrasi belajar di rumah dengan sistem pembelajaran mandiri.  Diprediksikan, kecenderungan ini akan semakin membesar dari tahun ke tahun.

Dilaporkan, alasan para orang tua menarik anak-anaknya dari sekolah formal adalah karena tidak percaya lagi pada lembaga tersebut dalam mendidik anak-anak mereka.  “Sekolah formal menerapkan sistem kompetisi yang cenderung melihat pada siapa memakai apa (siapa membayar berapa — Forum SPTN), dan mengajarkan untuk menjadi seorang yang ‘test mania’ (keranjingan melakukan test untuk mengukur prestasi murid, padahal seringkali test tersebut hanya berupa  ‘pilihan ganda’ — Forum SPTN), dan itu bukan pendidikan yang terbaik bagi anak, “ begitu keluhan mereka.

Tapi, bukankah kelemahan-kelemahan sekolah formal itu masih sebatas metode penyelenggaraannya saja, dan bukan pada institusinya, sehingga yang perlu dibenahi cukup metodenya saja?  Dengan tidak memercayai institusinya, bukankah itu ibarat membakar tikus dalam lumbung padi atau melumpuhkan maling dengan menggunakan panser?

Setiap hari, Heather McCombie — salah seorang (Ibu) dari para orang tua yang menerapkan sistem pembelajaran mandiri di Inggris — menjadi guru bagi anak-anaknya.  Untuk mata pelajaran yang tidak dikuasainya, Ibu McCombie mendatangkan tenaga pendidik profesional ke rumahnya.

***

DALAM kasus tersebut, bukankah Ibu telah memberdayakan dirinya dan juga lingkungannya, antara lain para tenaga pendidik profesional yang didatangkan ke rumahnya?  Memang, langkah ini sangat berani, dan kami tidak menganjurkan Anda untuk mengikutinya, kendati keberhasilannya tidak perlu diragukan.  Seorang pakar pendidikan, Ivan  Illich, juga menganjurkan model pendidikan seperti itu, yang disebut “masyarakat tanpa sekolah” (deschooling  society).

Masalahnya, bagaimana menyelenggarakan praktikum pada sistem pembelajaran mandiri itu?  Mungkin untuk pelajaran biologi, misalnya, harus disediakan sendiri mikroskop dan pipet, sedangkan  untuk pelajaran fisika dan kimia bisa membuat sendiri benda-benda praktikum dengan memanfaatkan bahan-bahan yang ada disekitarnya.

Sementara itu, untuk praktikum kejuruan, bisa langsung magang singkat pada bengkel-bengkel atau unit-unit usaha (kecil dan menengah) yang sudah berkembang dan banyak terdapat di sekitar tempat tinggal.

Kemudian, hambatan pada kemampuan bermasyarakat (sociability) akan bisa diatasi dengan melibatkan anak-anak dalam berbagai event  yang positif, misalnya melalui organisasi remaja masjid.  Di sana, anak bisa berinteraksi dengan berbagai corak individu dan tingkatan umur.

Pada tahun 1997, pemerintah Singapura menelorkan ide “sekolah masa depan” (SMD); dan itu pernah disoroti tajam dalam salah satu pertemuan Forum Ekonomi Dunia (World  Economic  Forum) di Davos, Swiss.  Disebutkan, SMD itu tidak menerapkan sistem  kelas.  Siswa-siswanya terdiri dari berbagai tingkatan usia dan kemampuan belajar.  Di situ, guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan tidak akan memberikan pelajaran di depan kelas.  Sebagai fasilitator, guru berperan sebagai  “pelatih pengetahuan”  dan hanya membimbing para siswa agar terjadi interaksi di antara mereka.

Masyarakat mikro” demikian  terus belajar kendati masa sekolah telah berakhir.  Dengan tetap bergabung dalam satu kelompok,  para siswa menjadi lebih peka dan lebih mampu memperbaiki lingkungan.  Dikatakan, seseorang yang selalu giat belajar setiap saat akan merasa memiliki kekuatan (inner  force) atau motivasi untuk memperbaiki keadaan.

Kendati SMD tak berstruktur, tapi tetap ada disiplin kelompok dan muatan tertentu  seraya terus memicu kreativitas.  Di situ, setiap siswa diberi tanggung jawab invidu dan kebebasan.  Para fasilitator akan mengevaluasi siswa dengan meminta mereka membuat kerangka kerja.  Dari kerangka kerja inilah mereka akan beraktivitas, dan hasilnya dipresentasikan secara berkala dalam diskusi panel antara sesama teman dan fasilitator sebagai umpan balik (feedback).  Jadi mirip seperti kegiatan calon doktor.

Selain itu, para siswa harus mengajukan pertanyaan untuk menguji pengetahuan para fasilitator. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tepat dan benar dinilai sebagai pertanda adanya bobot pengetahuan  penanya.

Sehubungan dengan itu, kami teringat ucapan seorang ilmuwan, Claude Levi Strauss (lahir 1908):”Orang bijak tidak memberi jawaban yang tepat, melainkan mengajukan pertanyaan yang tepat.”  Atas dasar ini, penanya yang baik tidak saja mengindikasikan bobot pengetahuannya, tapi juga sebagai sinyal bahwa dia bijak.  Tentu saja, pribadi seperti itu pasti mampu mengorganisasikan atau memimpin dirinya sendiri yang merupakan modal dasar untuk memimpin orang lain.

Jadi, jika sekolah konvensional dirancang untuk memenuhi kebutuhan industri (agent  of  capitalism), maka “sekolah masa depan” dirancang untuk memanusiakan manusia.  Jadi, paradigmanya: “Bukan demi sekolah, tetapi demi hidup kita belajar” (non  scholae  sed  vitae  discimus).  Ya, hidup yang bermakna, sebagai perwujudan ibadah kepada Allah SWT.

Kesalahan mayoritas sekolah konvensional saat ini adalah karena dalam perjuangannya tersirat propaganda “bukan demi hidup, tetapi demi sekolah kita belajar” (non  vitae  sed  scholae  discimus).

Belum ada data pada kami (Forum SPTN) sejauh mana implementasi dari SMD yang digagas oleh pemerintah Singapura itu.  Namun, penerapan sekolah serupa  berhasil di Alameda, California (AS).

***

REALITAS di atas mengingatkan kita pada sistem tarbiyah  yang pernah dicanangkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.  Melalui  masjid, beliau memulai revolusi tarbiyah, yang pesertanya mulai dari anak-anak kecil, seperti Saydina Hasan (as) dan Saydina Husein (as), hingga yang dewasa, seperti Saydina Ali (as), Abu Dzar al-Ghifari (ra), Salman al-Farisi (ra), Bilal (ra), Miqdad (ra), dan lain-lain (maaf tak bisa disebutkan satu per satu).  Sejarah mencatat, betapa berjayanya Islam yang dikawal oleh tokoh-tokoh tersebut.  Bahkan, motivasi perjuangan yang telah ditanamkan oleh Imam Husein (as) — yang klimaksnya dimonumentasikan lewat peristiwa Karbala — bergaung melintasi ruang dan waktu.  Dan salah satu bukti keberhasilan pengkaderan yang melintasi ruang dan waktu itu adalah berjayanya Imam Khomeini (ra)  memporakporandakan hegemoni para konspirator-imperialis dunia melalui sebuah Revolusi Islam (di Iran) yang menggelegar nan membahana  itu.  Berawal dari madrasah tradisonal di Qum, sebuah daerah terpencil di Iran, Imam Khomeini mampu mentransformasikan semangat Karbala menjadi gerakan revolusioner  “tidak Barat, tidak Timur, tetapi Islam” (la  sarqiah, la  gharbiah; jumhuriah  Islamiah). Imam telah merubah Qum menjadi sebuah “Generator Ilahiah” yang terus  menerangi dan  mencerahkan qalbu-qalbu kaum tertindas (mustadh’afin) di seantero jagad. Beliau  telah membuat frustrasi  kaum   neoimperialis dan neokolonialis dunia (mustakbarin) beserta  para cecunguk-nya.

***

MEMANG, secara biologis, laki-laki dan perempuan memiliki perbedaan.  Tapi, perbedaan itu tidak harus dipandang sebagai pertentangan.  Malah, keduanya harus saling bersinergi dengan mengembangkan seluruh potensi dan kesadarannya (awareness  raising)  untuk menggapai  sesuatu yang konstruktif dan produktif.  Sayonara………!!! [**]

____________________________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano),

Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: