Perempuan Dalam Persepsi Ayatullah Khomeini (ISLAM-10)

ISLAM-10

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Perempuan Dalam Persepsi

Ayatullah Khomeini

Pengantar Redaksi

Kita menyaksikan rakyat dibodohi dengan dicekoki omongan bahwa pembangunan yang dibiayai dari utang itu wajar, dan utang itu sekarang sudah menyengsarakan rakyat,” demikian Kwik Kian Gie dalam pernyataannya pada acara deklarasi pendirian Pernasindo (Perhimpunan Nasionalis Indonesia). Lebih lanjut, menurut Kwik, untuk melawan pembodohan tersebut akan dimulai kampanye penyadaran. Kampanye ini akan mengajak media yang ada. Jika tidak mendapat sambutan, maka akan membuat media sendiri, misalnya dengan menyebarkan pidato penyadaran dalam kaset rekaman seperti yang dilakukan Imam Khomeini di Iran (Kompas, 10 / 6 / 2006).

***

Dunia Islam berada dalam keadaan yang buruk disebabkan perpecahan di antara berbagai kelompok, dan satu-satunya harapan dalam kegelapan ini ialah Imam Khomeini,” demikian Haidir Faruq Maududi (1 / 8 / 1982), seorang ulama Pakistan, putera Maulana Abul A’la Maududi (pendiri Jamaat Islami, Pakistan). Selanjutnya, ia mengatakan bahwa Imam Khomeini telah mampu menolak hegemoni dua super power (Amerika Serikat dan Uni Soviet), dan telah membuat bangsa Iran menjadi

suatu bangsa yang bebas merdeka.

(Dikutib dari majalah Yaum al-Quds, Rabiul Awal 1403 H).

***

Seandainya iman itu terletak di bintang tsurayya (Kejora),

orang-orang dari kalangan penduduk Parsi (Iran) akan dapat menggapainya.”

(Hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardawiyah dari Qais bin Sa’ad bin Ubadah; juga

lihat riwayat Bukhari dalam kitab Alu’lu Wal Marjan, jilid I).

***

DIJADIKANNYA Imam Khomeini (pencetus Revolusi Islam di Iran) sebagai inspirator perjuangan oleh banyak tokoh pejuang pembebasan dan penegakkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan hakiki menggelitik kita untuk terus menyelami corak dan substansi perjuangan Sang Imam, termasuk murid-murid beliau.

***

DARI perspektif Al-Qur’an menarik untuk menyimak ayat sebagai berikut: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.”(Al-Qur’an, Surah Al-Hujurat, ayat 13).

***

BUKANKAH substansi hakiki dari suku-suku itu adalah adat-istiadat dan kebudayaannya? Bukankah suatu bangsa terbentuk dari interaksi (komunikasi) dan kerjasama konstruktif (produktif) antara berbagai suku-adat yang ada? Bukankah “kerjasama konstruktif dan produktif” (juga lihat QS 5 : 2) merupakan makna hakiki dari “saling kenal-mengenal” seperti dinyatakan dalam ayat Al-Qur’an tersebut?

Sungguh, agama telah memberi ruang yang lapang bagi berbagai adat-istiadat dan kebudayaan untuk mengartikulasikan dirinya demi kemaslahatan bersama. Selain itu, kita juga sepakat bahwa amar ma’ruf wa nahiy munkar merupakan kewajiban religius yang harus diamalkan bagi setiap Muslim. Namun, bila dicermati, al-ma’ruf dapat diartikan sebagai nilai-nilai kebaikan yang akarnya tumbuh dari tradisi masyarakat; sedangkan al-khair adalah nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari wahyu Ilahi. Realitas ini menunjukkan betapa Islam menghargai pluralitas (beda dengan pluralisme) dan eksistensi multikultural (beda dengan multikulturalisme).

Paparan di atas merupakan sari pati yang dapat kami cerna dari pemikiran-pemikiran para murid Imam Khomeini seperti Ayatullah Mutahhari, Ayatullah Ali Khamenei, dan Ayatullah Hashemi Rafsanjani. Sungguh, mereka telah memperkenalkan indahnya menjalin interaksi kemanusiaan yang setara atas dasa\r saling pengertian (beda dengan toleransi) dalam rangka membangun peradaban universal (lebih luhur dari globalisasi) yang berkeadilan dan bermartabat.

Perlu ditambahkan bahwa istilah “ummat” (ummah) yang digunakan dalam “Seruan Imam Khomeini Untuk Persatuan Ummat” ditujukan kepada orang-orang non-Muslim di daerah-daerah atau negeri-negeri Islam, dan juga kelompok minoritas atau pun individu yang hidup di negeri-negeri non-Muslim.

_____________________

Di antara banyak hal yang diperjuangkan oleh Ayatullah Khomeini adalah masalah kaum perempuan. Ia dengan serius memikirkan hak-hak dan kewajiban mereka dalam masyarakat, baik sebelum maupun sesudah Revolusi Islam di Iran (1979). Beliaulah yang secara intent memprakarsai dan mengaktifkan kembali partisipasi perempuan dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana kita ketahui, selama kekuasaan despotik Syah Iran — yang didukung oleh Amerika Serikat — dipropagandakan dogmatisme sesat tentang kehidupan kaum perempuan, yang menjadikan mereka sangat statis dan berada dalam posisi inferior; atau sebaliknya, sering dijumpai sekelompok perempuan yang memiliki peran sosial, tetapi tidak mematuhi ajaran Islam. Dulu kaum perempuan Iran tidak dapat memahami kepribadiannya yang sejati, dan bahkan tak bisa menjalankan perannya secara tepat dalam masyarakat. Lalu, melalui “revolusi”, Ayatullah Khomeini menyuntikkan kekuatan baru dalam kehidupan kaum perempuan yang tertindas itu.

Mari kita tengok kembali sejarah dalam rangka memahami status perempuan sebelum datangnya Islam. Al-Qur’an menyatakan, “Dan apabila seseorang dari mereka diberi khabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menaggung kehinaan ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?” …… (QS 16 : 58-59).

Islam membebaskan kaum perempuan dari penderitaan. Ajaran Islam menempatkan mereka setara dan hidup berdampingan dengan kaum laki-laki. Sepanjang sejarah, kita dapati dua kelompok yang sering merendahkan kaum perempuan. Kelompok pertama adalah yang memanipulasi mereka dengan menggunakan cara-cara khusus (canggih). Termasuk dalam kelompok ini adalah para cendekiawan culas (dan “pemilik modal”). Ketika mereka memperjuangkan “kebebasan perempuan”, sesungguhnya yang mereka maksudkan adalah agar kaum perempuan hidup dalam “budaya telanjang”, yang tentu saja memiliki nilai ekonomi. Sesungguhnya, mereka tidak memiliki belas kasih, dan hanya menjadikan perempuan sebagai komoditas dagang.

Kelompok kedua adalah kelompok yang terdiri dari orang-orang bodoh, yang seringkali melakukan pemerasan terhadap perempuan dengan berlindung pada slogan-slogan palsu, seperti “demi mempertahankan tradisi dan kesucian atau martabat perempuan”.

Jelas, kedua kelompok tersebut merupakan agen yang menghancurkan hak-hak perempuan. Dalam banyak pernyataannya, Ayatullah Khomeini sering mengungkapkan tentang pentingnya “kebebasan perempuan”. Menurutnya, Islam tidak pernah menentang kemerdekaan perempuan, dan bahwa mereka harus dipandang setara dengan laki-laki dalam menentukan tugas-tugas dan masa depannya. Perempuan bebas aktif dalam memilih peran sosial-politik mereka. Mereka berhak mengambil bagian dalam jabatan-jabatan ekonomi, kebudayaan atau pun politik. Tidak seorang pun yang dapat merintangi hal ini.

Islam memandang bahwa laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang setara. Keduanya memiliki “sifat-sifat kemanusiaan”, dan dalam “kemanusiaan” itu mereka tidak ada perbedaan. Tidak satu pun pihak yang berhak mengklaim bahwa merekalah yang paling unggul. Penilaian atas kedudukan dan martabat keduanya hanyalah didasarkan pada “ketakwaan”. Dan ini merupakan standar Islam.

Lalu, apa arti “kebebasan perempuan”? Kebebasan mereka sama dengan pencapaian martabat manusia. Dalam hal ini Islam tidak membedakan laki-laki dan perempuan. Al-Qur’an menyatakan, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS 49 : 13).

***

PADA hari pertama kedatangan Ayatullah Khomeini di Teheran (dari tempat pengasingannya di Paris), banyak yang berjejalan menemuinya untuk menyatakan kesetiaan (bai’at). Di antara peserta banyak sekali kelompok-kelompok perempuan. Dan mereka tampak berapi-api sekali, sehingga ada yang meminta (kepada Ayatullah Khomeini) agar kaum perempuan tersebut tidak diikutsertakan. Tetapi, Ayatullah Khomeini mengatakan, “Kaum perempuan banyak berperan dalam perjuangan Islam. Apakah kalian akan melenyapkan kekuatan aktif yang menopang perjuangan kaum laki-laki?”

Sejak berdirinya Republik Islam Iran, kaum perempuan telah menyumbangkan sejumlah prestasi gemilang. Menurut Ayatullah Khomeini, laki-laki dan perempuan harus maju dan berkembang bersama-sama. Dalam salah satu ceramahnya — pada hari peringatan kelahiran Fathimah az-Zahra (puteri Rasulullah Muhammad SAW) — Ayatullah Khomeini membahas hal ini. Ia mengatakan, “Ada berbagai dimensi kehidupan yang bisa dimasuki secara aktif oleh kaum laki-laki dan juga perempuan karena manusia adalah makhluk dinamis.” Dalam berbagai pidatonya ia juga selalu menekankan tentang pentingnya “revolusi manusia”; dan juga memikirkan sisi politik setiap masalah. Tetapi bersamaan dengan itu, Ayatullah Khomeini memberikan pula perhatian pada sisi spiritual (gnostik) dan kemanusiaan atas masalah-masalah tersebut. Ia mengatakan: “Bila kita ingin mencapai kebahagiaan diakhirat, kita harus mulai dari sini (dunia).” Seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Muhammad SAW, “Dunia ini adalah ladang untuk akhirat.”

Dari sini dengan mudah kita dapat memahami pernyataan Saydina Ali dalam kitab “Nahjul Balagha”, “Dunia adalah masjid para sahabat (kekasih) Allah.” Dunia — yang merupakan ciptaan tingkat terendah — oleh Saydina (Imam) Ali disebut sebagai “masjid para sahabat Allah”; dan ia juga adalah tempat turunnya wahyu. Dunia juga sebagai tempat usaha (ibadah) para sahabat atau kekasih Allah. Sehingga kita harus memperbaiki dan memakmurkannya. Kita harus lakukan semua itu untuk “akhirat”.

Al-Qur’an mengatakan bahwa Allah akan memberikan manusia kehidupan mulia dan pahala atas amal-amal yang dikerjakannya. Dan kehidupan yang diberikan kepada orang beriman di akhirat akan berbeda dengan orang yang tidak beriman.

***

AYATULLAH Khomeini menganggap laki-laki dan perempuan setara dalam segi kemanusiaan. Demikian pula dalam dimensi hukum. Ia mengatakan, “Secara hukum tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Jika ada sejumlah perbedaan fisiologi (fisik) di antara mereka, hal itu tidak akan mempengaruhi status hukum dan kemanusiaan mereka.” Jadi, pada dasarnya, keduanya tidak berbeda.

Dalam suatu kesempatan, Ayatullah Khomeini pernah ditanya tentang partisipasi perempuan dalam masyarakat. Ia menjawab, “Dalam masyarakat Islam, kaum perempuan memiliki kebebasan dan boleh berperan serta dalam segala jenis pekerjaan.” Tetapi yang perlu ditekankan, bahwa ada kira-kira tiga atau empat macam pekerjaan yang tidak pantas dilakukan (dikerjakan) oleh kaum perempuan. Dalam kaitan ini, Ayatullah Khomeini memberikan nasehat penting bahwa, “Kaum perempuan boleh berperan serta dalam segala jabatan sosial dan politik, namun harus tetap menjaga nilai-nilai etika dan moral (akhlak).”

Apa yang ditekankan dalam aktifitas-aktifitas perempuan? Aspek moral. Bila seorang perempuan pekerja mengabaikan nilai-nilai Islam, maka amalnya akan ditolak. Islam lebih mendahulukan upaya pencegahan. Oleh karena itu, pernyataan Ayatullah Khomeini bahwa perempuan boleh berperan serta dalam semua jabatan sosial tidak berarti perempuan diperbolehkan melanggar etika Islam. Dan norma-norma Islam dalam kaitannya dengan peran perempuan tersebut harus dirinci dan disebarluaskan di kalangan masyarakat.

Seorang ulama mengatakan, Islam tidak pernah melarang perempuan untuk bekerja. Namun, dalam kaitan ini, salah satu hal penting yang patut diperhatikan adalah hijab (busana muslimah)”. Karena topik bahasan kita adalah “Perempuan Dalam Persepsi Ayatullah Khomeini”, maka masalah hijab ini perlu dikemukakan sedikit. Ketika Ayatullah Khomeini ditanya tentang hijab, ia mengatakan, “Kaum perempuan Iran (seluruh Muslimah) wajib mengenakan hijab.” Dan hijab tidak sama dengan cadar.

Ayatullah Khomeini juga sangat memerhatikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan perempuan dan anak-anak. Ia mengatakan, “Kesempurnaan manusia hanya mungkin tercapai dengan kemampuan perempuan.’’ Dalam kesempatan lain, ia mengatakan, “Bila dada bersih para Ibu tidak ada, semua harapan manusia akan sia-sia.” Ia juga menambahkan, “Menjadi seorang Ibu, mendidik dan mengasuh anak dapat disandingkan dengan pekerjaan para Nabi.” Bila para Nabi datang untuk mendidik manusia, para Ibu mendidik anak-anak. Dengan demikian, kendati seorang Ibu meninggalkan rumahnya untuk bekerja, ia tidak boleh mengabaikan kewajibannya merawat dan mendidik anak-anaknya.

Pemerintah Islam harus menyiapkan undang-undang dan berbagai fasilitas pendukungnya untuk membantu program pemberdayaan perempuan. Dan salah-satu hal terpenting dalam kaitan ini adalah “pendidikan anak”. Mengapa? Karena pengabaian terhadap pendidikan anak merupakan kezaliman terbesar. Diriwayatkan dari para Imam Suci (AS) bahwa belajar di masa kecil ibarat mengukir di atas batu, hasilnya abadi. Pendidikan pada usia muda membentuk jiwa anak. Bila orang tua melakukan kesalahan di masa usia seperti ini, akan mengakibatkan bahaya fatal. [**]

______________________________

Tulisan ini diolah dari Majalah Yaum Al-Quds No 38 Dzulhijjah 1413 H

oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: