ISLAM DAN NASIONALISME (Bagian Pertama) Oleh: Dr Ali Muhammad Naqavi (ISLAM-8)

ISLAM-8

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

ISLAM DAN NASIONALISME

(Bagian Pertama)


Oleh : Dr Ali Muhammad Naqavi

Intelektual Iran


Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

http://forumsptn-wacana-bung-karno.blogspot.com

pada tanggal 18 Agustus 2007.

Survei Sejarah Nasionalisme

1. Munculnya Nasionalisme Sebagai Suatu Keyakinan

Meski beberapa karakteristik nasionalisme hanya ditemui pada sistem kesukuan negara kota Yunani beberapa ribu tahun yang lampau,1 tapi nasionalisme sebagai mazhab pemikiran politik, sosial, dan ideologi baru muncul di Barat menyusul “Revolusi Perancis”.

Jean Jacques Rousseau merupakan pembela yang paling gigih atas keyakinan ini. Dia menekankan perlunya kesatuan, solidaritas, dan semangat kelompok serta meminta agar setiap orang memiliki rasa cinta yang mendalam terhadap tanah air atau negeri di mana mereka dibesarkan. Rousseau berkeyakinan bahwa tanah air merupakan inti dan pusat kecintaan serta loyalitas seseorang atau kelompok. Dia mengembangkan keyakinan ini menjadi semacam kewajiban keagamaan yang suci, dan sangat mengecam gagasan aturan sosial yang didasarkan pada paham keagamaan.

Rajutan utama nasionalisme dimunculkan oleh Revolusi Perancis, di mana untuk pertama kalinya ia ada dalam bentuk praksis. Kemudian, stimulasi emosi terhadap bendera dan bangsa, pemujaan pahlawan nasional, komposisi lagu kebangsaan, kebanggaan atas bahasa dan ras Perancis, penciptaan festival dan upacara-upacara nasional yang menyerupai ritus keagamaan, kebanggaan terhadap sejarah Perancis serta keyakinan missi besar bangsa Perancis, timbul setelah revolusi tersebut.

Tetapi dengan berkuasanya Jacobins, dan adanya huru-hara yang menyertai revolusi itu, borok nasionalisme tampak menganga dengan jelas dalam usianya yang dini. Bagi Jacobins, nasionalisme merupakan alat untuk mempermainkan perasaan orang banyak, mobilisasi umum, agresi terhadap negeri-negeri tetangga, ekspansionisme, pembantaian besar-besaran, korupsi, penindasan, dan pemuasan diri. Dari sini terlihat bahwa sentimen nasionalistik selalu menimbulkan agresi dan imperialisme. Bagi Jacobins, interes kebangsaan bisa dimanipulasi menjadi dasar bagi pengambilan keputusan pribadi.

Berkat pengaruh progresif Revolusi Perancis di Barat, konsep nasionalisme secara cepat meraih popularitas2 dengan menonjolkan gagasan kebebasan dan demokrasi. Hadirnya Napoleon Bonaparte semakin mempercepat langkah nasionalisme di Barat. Napoleon merupakan seorang yang sangat tegar membela nasionalisme, dan dialah yang pertama kali menebarkan benih nasionalisme itu di negeri-negeri Islam. Keyakinannya yang kuat membukakan jalan bagi kebijakan-kebijakan ekspansionistik dan agresif, di samping perang dan pembantaian yang dilakukannya. Rupanya, semangat dominasi atas bangsa Perancis, dan kemudian bangsa-bangsa lainnya, merupakan pengaruh kontaminasi virus sentimen nasionalistik yang bekerja efektif dalam tubuh Napoleon.

Di Jerman dan Italia, semangat ini juga berkembang dengan cepat, dan atas nama nasionalisme, dilakukan berbagai kejahatan yang disusul dengan pertarungan berdarah demi mengejar kekuasaan.

Abad 19 disebut sebagai “abad keemasan” nasionalisme3. Pada abad inilah Thomas Jefferson dan Thomas Paine meletakkan fondasi bagi nasionalisme Amerika Serikat. Di Inggris, Jeremi Benthan memberikan perspektif baru atas nasionalisme. Melalui William Gladstone, nasionalisme Inggris mencapai puncaknya. Nasionalisme kemudian dikembangkan sebagai gerakan intelektual dan akademis di seluruh Eropa Tengah dan Barat.

Mazzini, yang besar di Italia, dipandang sebagai teoritisi terbesar nasionalisme di abad ke-19. Penganjur besar dan pemegang bendera nasionalisme lainnya pada abad tersebut adalah Guiseppo Garibaldi (Italia), Victor Hugo (Perancis), dan Otto Bismarck (Jerman).

Pada abad tersebut nasionalisme mengukir sejarah, di mana telah terjadi peristiwa-peritiwa besar. Belgia menjadi merdeka, sedangkan di Amerika Selatan dan Tengah, koloni-koloni Portugal dan Spanyol mengumumkan kemerdekaannya di bawah kepemimpinan Simon Bolivar dan Jose Martin. Tetapi, sentimen kuat nasionalisme telah dibangkitkan oleh para penguasa Barat di koloni-koloni Eropa, seperti di Kesultanan Ottoman, Yunani, Bulgaria, Hongaria, Finlandia, Cechoslowakia, dan Kroasia. Negeri-negeri ini dibius dengan klaim kemerdekaan.

Tentu saja, peristiwa ini tampak sepele bila dibandingkan dengan ekspansi imperialisme di Dunia Ketiga, dan juga aneka konflik politik dalam beberapa pemerintahan di Barat. Sejarah telah membeberkan bahwa nasionalisme jauh lebih destruktif ketimbang konstruktif. Berbagai kebijakan serta agresi kolonialistik Inggris dan Perancis, juga ekspansionisme Napoleon III serta Bismarck, membuktikan bahwa slogan-slogan culas nasionalisme dan liberalisme Barat tidak lebih dari sekadar pepesan kosong, namun ditutupi serta dimanipulasi untuk memperbudak negeri-negeri terjajah atau tertindas (mustadh’afin).

2. Munculnya Nasionalisme Sebagai Hasil Kevakuman Ideologi Barat

Nasionalisme merupakan keyakinan dan ada pula yang menyebutnya sebagai agama palsu yang diciptakan oleh Barat untuk mengisi kevakuman ideologi.

Manusia tidak dapat hidup tanpa keyakinan atau ideologi, di mana mereka menunjukkan perasaan cinta dan kasih sayang. Di Barat, pada Abad Pertengahan, keyakinan atau ideologi ini banyak dianut oleh ummat Nasrani. Dengan begitu mereka telah terjebak pada tindakan tidak realistis dan tidak rasional. Dan telah menempatkan agama dalam satu dimensi saja. Tentu saja agama seperti itu bukanlah agama universal.

Sejak Renaissance serta masa-masa selanjutnya, telah terjadi surutnya pengaruh gereja; dan agama Nasrani tidak lagi mewarnai keyakinan yang hidup di Eropa. Dengan kata lain, agama ini telah kehilangan dinamikanya, padahal seharusnya ia bisa mendorong semangat, keaktifan, dan solidaritas. Setelah Renaissance, agama (Nasrani) tidak lagi berperan dalam ranah politik, intelektual serta kehidupan emosional masyarakat; dan ideologi disingkirkan untuk divakumkan. Dengan ketiadaan gaya pendorong yang bisa membangkitkan mereka berarti orang-orang Barat hidup dalam kegelapan. Karena manusia tidak bisa hidup dalam suasana vakum seperti itu, dan bahwa mereka harus membutuhkan suatu ideologi untuk diikuti dan dicintai, maka terjadilah penyuntikan ide-ide nasionalisme Barat oleh Azar; dan itu segera diteguk oleh masyarakat Barat yang kebetulan sedang menderita haus keyakinan. Kevakuman ini kemudian diisi pula oleh marxisme; dan keduanya — nasionalisme dan marxisme — besar andilnya dalam melemahkan pengaruh gereja.

Sebaliknya di Timur (Dunia Islam) tidak pernah terjadi kevakuman seperti itu. Di sini, Islam benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat; ia sangat dinamis dan tampil sebagai ideologi universal. Dinamika tersebut terlihat mencapai kejayaannya satu abad setelah kedatangannya (Islam). Pada masa tersebut Islam mampu mempersatukan daerah-daerah yang membentang dari Afrika Utara hingga tempat-tempat terjauh di Asia, dari Spanyol ke Mongolia. Selain itu, ia (Islam) dapat mempersatukan secara bersama-sama dan sederajat orang-orang dari berbagai suku, ras, bahasa serta adat-istiadat dalam ikatan “ummat” yang tunggal. Bahkan hingga sekarang Islam terus memiliki kekuatan besar untuk menggerakkan semangat dan solidaritas dibandingkan dengan ideologi-ideologi lainnya. Islam dapat memberi inspirasi bagi pengikutnya untuk mengorbankan harta dan jiwa-raga; dan atas dasar ini negeri-negeri Islam tidak perlu mengimpor nasionalisme yang merupakan komoditas Barat (dan diproduksi sesuai dengan kondisi khas suatu bangsa atau daerah).

Para nasionalis dan intelektual didikan Barat yang ada di Dunia Islam banyak yang tak perduli dengan realitas di negeri mereka, bahkan mengabaikan kebudayaan mereka. Mereka ini berkhayal bahwa beberapa eksperimen yang berhasil di Barat [seperti demokrasi ala Barat (?) — Penerjemah] akan dapat berhasil bila diterapkan di Timur. Sayangnya, ini hanyalah ilusi belaka. Penjiplakan mentah-mentah oleh tuan-tuan intelektual itu disebabkan kurangnya ketajaman dalam mengamati bahwa Barat memiliki kondisi-kondisi khusus yang berbeda dengan negeri-negeri Islam. Barat pernah dihadapkan dengan kemerosotan peran gereja, sedangkan Islam justru berperan sangat dinamis. Ajaran Islam tidak terdiri dari seperangkat dogma dan ritus yang dipaksakan oleh pemuka-pemuka agama, tetapi merupakan ideologi komprehensif dan hidup dinamis yang memberi ruang bagi perkembangan intelektual dan implementasinya, baik itu menyangkut individu maupun masyarakat.

3. Nasionalisme dan Kolonisasi

Perlu disadari bahwa nasionalisme adalah akar dari imperialisme. Kolonialisme dan kapitalisme merupakan dua faktor lain yang mendorong penyebaran nasionalisme.

Pada abad ke-19, orang-orang Barat berlayar mencari daerah untuk kolonisasi dan menjarah negeri-negeri Dunia Ketiga. Mereka menjajah negeri-negeri di Asia dan Afrika ibarat srigala haus darah. Dengan begitu, mereka memerlukan ideologi kuat untuk melestarikan penjarahan dan kriminalitasnya; sementara pada saat yang sama menyiapkan motif tertentu untuk penjarahan dan kolonisasi selanjutnya. Maka, dalam upaya-upaya kolonisasi yang penuh nafsu itulah nasionalisme muncul sebagai sebuah ideologi dan keyakinan yang hidup di Barat.

Dalam hubungannya dengan kolonisasi, nasionalisme memberikan tiga peran utama.

1. Dia merupakan sumber awal kolonisasi. Perasaan patriotik yang membara (kurang rasional, lebih menonjolkan lambang atau simbol-simbol ketimbang faktor kualitas dan pemberdayaan — Pen), keyakinan akan keunggulan bangsa atau ras, kebanggaan pada suku dan kebesaran sejarah serta budaya, semuanya ditimbulkan dari nasionalisme, yang memberi pijakan bagi ekspansionisme politik dan penggeregotan ekonomi. Imperialisme adalah turunan tak sah dari inklinasi nasionalistik.

2. Nasionalisme merupakan alat untuk menjustifikasi kolonisasi dan berbagai tindakan biadab bangsa-bangsa Barat yang menjajah dengan berkedok demi “kepentingan nasional” dan “membangkitkan kebesaran bangsa” mereka.

3. Nasionalisme memiliki motif yang kuat dengan tetap mempertahankan semangat kolonisasi. Dengan mengobarkan sentimen nasionalistik dan semangat pengorbanan diri bagi Tanah Air, motif untuk kolonisasi semakin kokoh, yang memberi daya dorong bagi Inggris, Perancis, dan Jerman untuk mendominasi Asia dan Afrika.

***

FRANCIS Cooker, seorang pemikir Barat terkemuka, menulis: “Pada abad ke-19, sebagian besar kalangan nasionalis meyakini dan mengklaim bahwa bangsa-bangsa terkemuka memiliki sejarah dan kebudayaan yang maju serta keunggulan nasional, juga rasial. Oleh karenanya, mereka tidak puas menjustifikasi berbagai nilai lebih tersebut hanya dalam batasan bangsa mereka. Tanggung jawab nasional dan patriotik mereka tidak boleh hanya dibatasi pada upaya-upaya pertahanan dan jaminan kemerdekaan (kebebasan) serta integritas teritorial bangsa mereka. Mereka memiliki misi universal untuk melakukan ekspansi pengaruh politik dan kebudayaan bangsa ke berbagai tempat di dunia dengan alasan untuk misi kemanusiaan, di samping membantu membudayakan negeri-negeri atau bangsa-bangsa yang dianggap masih terbelakang, dan ini bila perlu dilakukan dengan kekuatan dan kekerasan.

***

PAPARAN di atas — yang merupakan konklusi logis pemikiran nasionalistik — dianggap sebagai akar kolonisasi dan alat untuk menjustifikasi keganasan penjarahan melalui imperialisme.

Sebuah survei tentang kata-kata dan tulisan-tulisan para pendiri paham nasionalistik di abad ke-19 menunjukkan betapa congkaknya mereka telah menyebarkan pemikiran bahwa “tugas nasional (kami) memaksa kami untuk tidak hanya mempertahankan batas wilayah, tapi juga menggunakan kekuatan militer dan politik — kendati berada ribuan kilometer dari tapal batas wilayah kami — untuk kejayaan bangsa.”

Dr Bridgehet, seorang pemikir nasionalis di abad ke-19, menulis: “Merasa puas dengan integritas teritorial kita tidaklah cukup karena pengabaian keunggulan internasional, politik, dan militer berarti kita lalai dari tugas utama melindungi keunggulan historis bangsa kita. Jika kita berhenti menggencarkan ekspansionisme, kebanggaan nasional akan sirna. Hanya dengan petualangan dan peperangan, kebanggaan bangsa kita dapat dipertahankan.”4

Nasionalisme juga bisa dikembangkan dari pendapat Darwin — yakni tentang premis: “Yang terkuat dapat bertahan hidup” (survival of the fittest) — yang diproyeksikan dalam kehidupan sosial dan politik. Di Jerman, Ernest Haeckel dengan gigih mempropagandakan gagasan ini. Ia menyatakan: “Hanya bangsa kuat dan berkuasa yang memiliki hak untuk hidup dan pantas untuk meminggirkan bangsa-bangsa lemah dan terbelakang.” Bukankah ini layak disebut “kanibalisme peradaban modern”?

Karl Pearson, juga seorang nasionalis terkemuka, menganggap “survival of the fittest” sebagai “hukum alam yang mengatur hubungan antar bangsa-bangsa”. [**]

Catatan:

1. Beberapa peneliti berpendapat bahwa reformasi sebagai awal nasionalisme terjadi pada tahun 1648, yakni ketika meletus insiden Westphalia. Tetapi, mayoritas peneliti menganggap Revolusi Perancis merupakan titik awal munculnya nasionalisme.

2. Salow Baron: “Modern Nationalism”, hal. 43, New York, 1927.

3. Hans Kohm: “The Idea of Nationalism: A Study in It’s Origin and Background”, hal. 116, New York, 1944.

4. Francis W Cooker: “Recent Political Thought”, hal. 443-48, New York, 1934.

_____________________________
Tulisan ini diterjemahkan dari buku

Islam and Nationalism” (1984) oleh

Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: