Asal-Usil (“Keberadaan” atau “Ketidakberadaan”) (ISLAM-4)

ISLAM-4

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Asal-Usil

(“Keberadaan”   atau

“Ketidakberadaan”)

A

rtikel “Keberadaan”  atau  “Ketidakberadaan”   di   atas  akan  melahirkan  sejumlah  pertanyaan, misalnya: “Apakah  “Wujud  Mutlak” (Dia)  itu  terikat  oleh  dimensi  ruang  dan  waktu?  Bila  Dia  tidak  terikat  oleh   apa   pun, mengapa  ketika  Dia  menciptakan  langit  dan  bumi, Dia  membutuhkan  “waktu”  (masa), yakni  enam  masa  (QS  7 : 54)?  Mengapa  Dia  tidak  memilih  untuk  menciptakan  alam  semesta  ini  dalam  empat  atau  tiga  atau  dua   atau  satu  masa  (periode)  saja?   Atau, mengapa  Dia  tidak  melepaskan  (membebaskan)  diri-Nya  dari  kungkungan  “dimensi  waktu” (atau “tahapan / periode penciptaan”)?  Memang  betul, tatkala  menghendaki  sesuatu, Dia  (Tuhan)  hanyalah  berkata  (kepadanya): “Jadilah!  Maka  terjadilah  ia.” (QS  36 : 82);  dan  itu  menunjukkan  bahwa  Dia  Maha  Berkehendak   dan   Maha  Pencipta.  Namun, bukankah  “menjadikan  (menciptakan)  sesuatu”  juga  memerluikan  waktu   permulaan (starting   point)?  Dengan  kata  lain, bukankah  Dia   masih   terikat   oleh  “dimensi   wakltu”?  Bukankah, dengan  begitu, berarti   Dia  tidak  berkuasa  atas  “waktu”, apalagi   atas   segala   sesuatu  (QS  2 : 20)?  Dengan  logika  yang  sama, bukankah  seharusnya  Dia   juga   “berawal”   dan  “berakhir”  (perhatikan  QS  57 : 3)?

Berdasarkan   pertanyaan-pertanyaan   strategis (konyol) di   atas, apakah   pantas   bila  kita  katakan       bahwa  “energi”  lebih  berkuasa  dibanding   “Wujud  Mutlak”  atau  yang  disebut  “Maha  Kuasa”  itu?  Mengapa?  Karena   menurut  Hukum Kekekalan Energi, “Energi   tidak   dapat   diciptakan   dan  tidak  dapat  dimusnahkan”.

Kemudian, berdasarkan  akal  sehat, manakah  “Yang  Kekal”, “Energi”  ataukah  “Wujud  Mutlak”?  Dengan  kata  lain, bukankah   “Yang  Maha  Kuasa”   itu   adalah   “Energi”?  Bukankah   seluruh  eksistensi  di   alam  semesta  ini  merupakan  perubahan   kontinyu  dari  satu  wujud  energi   ke   wujud   energi   lain  (misalnya   dari  “energi   potensial”   menjadi   “energi   kinetik”, lalu   menjadi   “energi   mekanik”, kemudian  berkonversi   ke   dalam  “energi   listrik”, dan  seterusnya) yang   tunduk   pada  mekanisme  “gerak”  atau  “perubahan”?  Bukankah  itu  berarti   bahwa   “gerak”  atau   “perubahan”     adalah   bersifat   “kekal”? (Apalagi   ia   bisa   dibuktikan  secara  ilmiah  berdasarkan   teori “Relativitas   Einstein”). Apakah   tidak  logis   bila  kita  katakan  bahwa  “gerak”    atau  “perubahan”  identik   dengan  Yang  Maha  Kekal, seperti   yang  disebutkan  dalam   Al-Qur’an: “……. Dia  Yang  Hidup  Kekal   lagi   terus  menerus  (bekerja   atau   berdinamika   secara   aktif)  mengurus    makhluk-Nya” ?  (Lihat  QS   2 : 255).

Kemudian, bisakah  sesuatu   bergerak   atau   bekerja  di   luar   dimensi   ruang?  Kalau  bisa, bukankah   kata   “di   luar”   mengindikasikan   dimensi  ruang   pula?  Lalu, berkuasakah   “Wujud  Mutlak”  itu   untuk  bebas  dari   “dimensi   ruang”, yang   dinyatakan   merupakan   hasil   ciptaan-Nya?

***

PERTANYAAN   selanjutnya, apakah  suatu  sifat   Allah  SWT   adalah  melekat  kepada-Nya?  Atau, apakah  setiap   “yang   disifatkan”   merupakan   persamaan   dari   “sifat   yang   menyertainya”?  Apakah   sifat-sifat   Allah   bukanlah   Dzat-Nya, tetapi   tambahan   atas   Dzat-Nya?  Kemudian, bila   setiap   “sifat”   identik  dengan   “yang  disifatkan”, bukankah   setiap   sifat   tersebut   akan   menjadi   tuhan-tuhan?  Mungkinkah suatu  “sifat”  Tuhan mendahului  “sifat” (Tuhan) lainnya?  Mungkinkah ia (suatu  “sifat”) tersentuh perubahan atau pergantian, dan karenanya berarti ia terikat oleh dimensi ruang dan waktu?  Apakah  “keberadaan”  Tuhan bersama segala sesuatu (QS  57 : 4) mengandung pengertian  “kesertaan-Nya” dengan segala seseuatu itu?  Bila jawabannya  “Ya”, bukankah itu berarti  Dia terikat “dimensi ruang”?  Atau, apakah Dia terpisah dari segala sesuatu karena  “keberlainan-Nya”  dengan segala seseuatu itu?  Apakah  “Keesaan-Nya”  (kesendirian bagi Allah) dapat dipahami sebagai  “satu”  dalam pengertian bilangan terkecil yang eksistensinya bisa berdiri sendiri;  ataukah  berupa  “susunan” yang mengisyaratkan kemungkinan untuk terurai;  ataukah juga terikat oleh kuantitas, sehingga untuk menjadi sempurna, ia harus bersifat  “banyak”  (atau  “berbilang”)?  Dan kalau dikatakan Tuhan itu “Dzahir  wal  Bathin”, bukankah itu berarti Dia sudah tidak merdeka karena mengikatkan diri-Nya pada wilayah-wilayah (dimensi ruang) tertentu?

Pertanyaan selanjutnya, bila Al-Qur’an menyatakan Kemana saja kamu menghadap di situlah wajah Allah” (QS  2 : 115), dan bila  “Wajah Allah”  dipahami sebagai segala ciptaan Allah, mengapa makna ayat ini tereduksi oleh ayat yang lain: “Segala yang ada pasti binasa, kecuali Wajah-Nya.” (QS  28 : 28)?

Dari lini lain muncul pula pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:  Bila Tuhan Yang Maha Kuasa  itu  “ada”, berarti Dia berkuasa pula untuk menepati janji-janji-Nya?  Tetapi, mengapa janji Allah untuk memberikan kecukupan ni’mat  kepada kaum Muslimin (QS  5 : 3) tidak terwujud optimal?

Bila  “Islam”  kita artikan sebagai  “keselamatan”, “kedamaian”, dan  “kesejahteraan”, bukankah yang mengalami dan menebarkan kondisi tersebut adalah kalangan non-Muslim?  Apakah ummat Islam harus menafikan jasa-jasa (amal-amal) yang telah ditebarkan oleh Thomas A Edison (penemu lampu pijar), Volta (baterai listrik), Eistein (Hukum Relativitas), Montesquieu (teori “Pembagian Kekuasaan: Trias Politica), dan sebagainya, padahal Allah SWT berjanji memberi imbalan atas perbuatan baik meskipun seberat zarrah (QS  99 : 7)?

Bukankah menurut Rasulullah Muhammad SAW: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya”?   Mengapa kita harus memusuhi kalangan non-Muslim, yang notabene telah memberi kontribusi (tolong-menolong) dalam mengerjakan kebaikan untuk kesejahteraan ummat manusia (termasuk kaum Muslimin)?  Mengapa kita tidak bercermin bahwa kontribusi mereka — terutama di bidang teknologi — justru sebagai bagian dari kerangka tolong-menolong dalam mengerjakan kebaikan  (QS  5 : 2)?  Apakah tidak bijak bila kita menerjemahkan kontribusi konstruktf kalangan non-Muslim itu sebagai implementasi  “penegakkan  kebenaran”, bahwa kebenaran itu berasal dari Allah  (QS  3 : 60), dan oleh karenanya ia bersifat universal tanpa dibatasi sekat-sekat tertentu (suku, ras, kelas sosial, status politik, agama, dan sebagainya)?

Atas dasar itu, mungkinkah kita membuat redefinisi tentang Islam bahwa yang dimaksud pembela atau penyebar ajaran Islam adalah siapa pun yang berpartisipasi mengupayakan  “keselamatan”  dan  “kesejahteraan”, berikut aspek-aspek yang berkaitan dengannya?

***

BUKANKAH  pertanyaan-pertanyaan seperti di atas perlu dijawab secara rinci untuk dipahami oleh setiap yang mengaku diri sebagai hamba Allah (abdillah)?

“Aku tidak akan menyembah Tuhan yang tidak kukenal”

(Imam Ali  karamallahu  wajhah)

[**]

______________________________

“Asal – Usil” dikerjakan oleh La Ode Zulfikar Toresano

— Koordinator  Umum Forum Studi Politik dan Teknologi nasional (Forum  SPTN).

“Asal-Usil” pernah dimuat dalam Jurnal Islam Liberal? No. 1 (Juni 2004).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: