Seminar Ketatanegaraan di kampus Unpad Setiap Generasi Memiliki Ciri Zamannya Sendiri (KLIPING-KONSTITUSI-UU 1)

KLIPING-KONSTITUSI-UU 1

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Seminar Ketatanegaraan di kampus Unpad

Setiap Generasi Memiliki Ciri

Zamannya Sendiri

Bandung, Kompas, 8-7-1989

Setiap generasi di bumi Indonesia ini memiliki ciri zamannya sendiri-sendiri.  Ciri tersebut mungkin saja berbeda dengan generasi pendahulunya.  Dalam hal ini, maka sebenarnya tidak ada alasan bagi generasi pendahulu untuk memaksakan visi yang sama dengan generasi penerus.  Menyinggung hal tersebut, hendaknya tetap terbuka kemungkinan perubahan terhadap Undang-Undang Dasar yang berisikan aspirasi masyarakat yang hiduppada suatu zaman.  Meski juga ditegaskan, perubahan UUD yang dimungkinkan tersebut adalah perubahan pada batang tubuhnya.  Sama sekali tanpa mengusik bagian preambule UUD 1945.  Sebab justru di bagian pembukaan tersebut terkandung nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia.

Demikian salah satu kesimpulan yang dicetuskan dari forum dua hari seminar ketatanegaraan yang berlangsung di kampus Universitas Padjadjaran (Unpad), jatinangor, Sumedang.  Seminar diselenggarakan atas kerjasama Unpad dengan harian Suara Pembaruan, diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai fakultashukum di Indonesia.  Pertemuan ilmiah ini ditutup hari Kamis setelah menerima hasil-hasil seminar dari Ketua Panitia Prof  Dr Sri Soemantri Martosoewignyo SH.

Seminar diikuti oleh 61 fakultas hukum dari berbagai perguruan tinggi, 23 di antaranya perguruan tinggi negeri dan dibuka hari Rabu oleh Mensesneg Drs Moerdiono ini, diisi dengan pembahasan berbagai topik utama yang diketengahkan para pakar hukum dan politik.  Selain Mensesneg yang berceramah di hari pertama, pembicara lainnya adalah Prof Dr Sri Soemantri, Prof Dr Padmo Wahjono, Prof Dr Oemar Seno Adji, dengan para pembahas antara lain Prof Dr Soehardjo, Prof Dr Solly Lubis, Albert Hasibuan SH, dan Dr Alfian.

Hasil-hasil seminar ini disimpulkan dari pembahasan tentang berbagai materi yang dibicarakan dalam sidang empat komisi yang berlangsung sepanjang hari Kamis.  Materi yang dibahas masing-masing adalah susunan ketatanegaraan menurut UUD 1945 yang dibahas komisi I, komisi II membahas demokrasi Pancasila, komisi III tentang pelaksanaan fungsi DPR menurut UUD 1945, dan komisi IV membicarakan kekuasaan kehakiman  di Indonesia.

Dilampirkan aslinya

Mengenai kemungkinan untuk melakukan perubahan terhadap UUD, ditegaskan bahwa itu semua berlandaskan pada sifat UUD kita yang singkat, supel, fleksibel, dan terbuka terhadap perubahan, disesuaikan terhadap situasi zaman tertentu dan aspirasi yang hidup pada zaman tersebut.  Ihwal perubahan ini juga sudah ditentukan secara tegas lewat pasal dalam UUD dasar itu sendiri, yakni pasal 37, yang kemudian dijabarkan kembali dalam bentuk undang-undang tentang referendum perubahan.  Dalampembukaan seminar hari Rabu, Mensesneg Moerdiono juga menegaskan mengenai kemungkinan perubahan ini.  ”Tergentung dari kehendak warga negara, apakah perlu diubah setiap jangka waktu tertentu, 50 tahun misalnya,” ujar Moerdiono.

Namun, hasil kesimpulan seminar juga mengingatkan, perubahan UUD yang dimungkinkan itu adalah perubahan dalam batang tubuhnya, tanpa sama sekali mengusik bagian preambule atau pembukaan. Sebab, justru di pembukaan itulah terkandung esensi nilai-nilai yang dianut bangsa Indonesia.  Bagianpembukaan memuat hal yang sangat hakiki, yakni penegasanalasan kemerdekaan yang sudah diraih, serta cita-cita negara dan bangsa yang ingin dicapai lewat kemerdekaan itu.

Selain itu ditegaskan pula bahwa perubahan haruslah dituangkan dalam suatu rangkaian amandemen yang dilampirkan pada UUD yang diubah, tanpa sama sekali merubah rumusan aslinya.  Ini dimaksudkan agar generasi penerus bisa memahami arti dan alasan-alasan yang mendasari perubahan itu, serta dengan muda bisa pula membandingkan perubahan dengan aslinya.

Perubahan yang dimungkinkan itu sendiri mencakup dua hal. Yakni penyesuaian UUD dengan aspirasi yang tengah hidup di masyarakat kita pada satu kurun waktu tertentu, ataupun perubahan dalam hal isinya.  Kedua perubahan ini memang dimungkinkan. Pelaksanaannya bisa dengan memanfaatkan segala perangkat hukumyang sudah dipunyai tentang mekanisme perubahan itu,  Misalkan dibuat terlebih dahulu rancangan perubahannya, dan ditawarkan kepada warga negara.

DPR  belum optimal

Butir lain dari kesimpulan seminar itu juga melihat bahwa hingga sekarang ini DPR (Dewan perwakilan Rakyat) belum dapat menjalankan fungsinya secara optimal, sebagaimana yang diinginkan UUD 1945. Optimalitas yang masih rendah ini terutama tampak dari kemampuannya untuk menjalankan hak inisiatif, sebagai salah satu hak yang dimiliki oleh lembaga legislatif di tanah ini.  Masukan mengenai peranan DPR ini antara lain lewat sumbangan pendapat pakar ilmu politik Dr Alfian lewat topik  Masalah Pelaksanaan Fungsi DPR yang Diinginkan Oleh UUD 1945, yang kemudian dibahas oleh Toto Pandoyo SH, dan Bintan Saragih SH.

Menurut kesimpulan itu, situasi semacam ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor lingkungan maupun keadaan yang ada di dalam tubuh badan legislatif itu sendiri.  Beberapa yang dianggap sebagai faktor-faktor tadi menyangkut masalah dana dan sarana yang terbatas, serta kemampuan anggotanya.  Misalnya masih terbatasnya jumlah tenaga ahli, perlengkapan data, atau kepustakaan yang bisa dipakai.

Fungsi DPR sebagai penyalur aspirasi, juga sering menemui hambatan.  Yakni kurang efektifnya jalur informasi dan komunikasi anatara badan legislatif tersebut dengan rakyat.  Selain itu, kesenjangan yang ada diduga sebagai akibat dari kurang berfungsinya mekanisme komunikasi yang seyogiayanya  dijalin ataran wakil-wakil rakyat tang duduk di DPR dengan DPC (Dewan Pimpinan Cabang) dsri orpol yang ada di daerah.

Untuk memecahkan masalah itu, dipandang perlu melakukan berbagai upaya dalam rangka meningkatkan kualitas anggota DPR, di antaranya lewat pendidikan politik rakyat, dibarengi dengan berbagai pengembangan wawasan di kalangan para anggota DPR itu sendiri.  Selain itu, dibutuhkan pula iklim politik  yang lebih kondusif  untuk meningkatkan peran yang bisa dimainkan DPR

Semakin membaik

Berikutnya, forum pertukaran pikiran ilmiah ini juga menyepakati bahwa secara keseluruhan sudah mulai terlihat iklim kehidupan demokrasi yang semakin membaik, meskipun diakui masih memerlukan banyak pembenahan dan terus-menerus harus dilakukan evaluasi.  Berbagaiindikasi yang semakin nyata belakangan ini, terutama suasana keterbukaan poltik, hendaknya juga bisa terus dipelihara dan dikembangkan, dibangun tahap demi tahap dan harus selalu beracuan pada spektrum yang termaktub dalam nilai-nilai Pancasila.

Diskusi mengenai demokrasi Pancasila ini dilakukan oleh sidang komisi II dengan berbagai masukan yang diperoleh lewat pokok pikiran Prof Padmo Wahjono yang membicarakan Demokrasi Pancasila Menurut UUD 1945 dan kemudian  dibahas oleh Prof Dr Solly Lubis.

Dispekati bahwa nilai-nilai musyawarah untuk mufakat hendaknya bisa terus dijunjung tinggi.  Namun tidak menutup kemungkinan untuk melakukan pemungutan suara dengan memperhatikan  keutuhan bangsa.  Butir lain untuk menunjang iklim demokrasi yang semacam itu adalah kesediaan semua pihak di bumi Indonesia ini untuk terus menampilkan sikap dalam setiapaspek kehidupan, yang sesuai dengan jiwa dan semangat Pancasila dan UUD 1945.

Pada akhirnya, seminar juga berketetapan, bahwa pertemuan semacam yang sudah berlangsung selama dua hari di kampus Unpad Jatinangor itu, bisa dilembagakan menjadi pertemuan rutin, setidaknya sekali dalam lima tahun.  Sebab, forum ini dianggap cukup efektif untuk meningkatkan dan memperbarui wawasan pemikiran tentang bangsa dan negara. (ary)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: