Terungkap dalam seminar FPDI Kemandirian Parpol Cuma ilusi (KLIPING-PARPOL 1)

KLIPING-PARPOL 1

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Terungkap dalam seminar FPDI

Kemandirian Parpol Cuma ilusi

JAKARTA, Harian Terbit, 15-12-1994

Pengamat politik dari Universitas Gajahmada Afan Gaffar mengatakan kemandirian partai politik di Indonesia masih merupakan ilusi.  Sebab keadaan itu memang dikehendaki untuk tidak mandiri sehingga dengan mudah dibentuk dan dipelihara sistem kepartaian yang hegemonik.

”Secara internal kondisi partai politik itu sendiri juga menjadikan tidak mandiri, yakni gampang dipecahbelah.  Dan semangat  ovonturisme mengalahkan semangat untuk membesarkan partai,” kata Afan dalam seminar yang diselenggarakan FPDI  DPR, di Jakarta, Kamis (15/12) pagi.

Kepartaian di Indonesia tidak terlepas adanya campur tangan pihak pemerintah yang sangat besar terutama berkaitan dengan rekrutmen kepemimpinan dari partai politik.  Menurut Afan, pemerintah akan selalu menghendaki agar para tokoh dan pemimpin partai pemerintah dalam rangka menciptakan sebuah politik yang stabi.

Pemerintah tidak menghendaki pimpinan partai yang memperlihatkan warna yang antagonistik dengan pemerintah, kecuali pola hubungan yang bersifat konfrontatif  akan menghambat program kebijaksanaan pemerintah.

Afan Gaffar yang juga Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIP UGM mengungkap sejumlah kasus rekrutmen politik di Indonesia dalam rangka kepengurusan partai yang memperlihatkan gejala adanya campur tangan pihak luar.

Kasus penolakan terhadap Mr Muhammad Roem sebagai Ketua Parmusi hasil Muktamar pertama di malang (1968), yang kemudian dilanjutkan kasus kudeta terhadap kepengurusan Djarnawi Hadikusumo dan Lukman Harun yang dilakukan oleh John Naro dan Imran Kadir yang melibatkan opsusnya Jenderal Ali Murtopo.

· Kasus yang terjadi di Kongres PNI di Semarang (1969), di mana opsus yang memainkan peranan  yang sangat besar dalam menyingkirkan Hardi SH yang kemudian memungkinkan Hadi Subeno menjadi Ketua PNI.

· Kasus screening yang sangat ketat bahkan penolakan terhadap calon yang dinominasi oleh partai nonpemerintah pada Pemilu 1971.

· Kasus sejumlah konflik internal dari partai-partai politik setelah fusi tahun 1973 yang selalu melibatkan pemerintah, apakah itu terjadi dalam tubuh PDI atau PPP, yang berkelanjutan sampai sekarang ini, yang kalau diperinci secara panjang lebar akan memerlukan ruang waktu yang tidak sedikit dan sudah dipahami masyarakat secara luas.

Sedangkan  mantan Mendagri Rudini pada acara yang sama menuturkan, yang membuat posisi orsospol lemah dan rawan terhadap pengaruh luar adalah faktor internal orsospol bersangkutan.

Meski juga faktor eksternal saat ini kurang mendukung untuk membuat posisi orsospol tersebut kuat, kata Rudini, bukan berarti orsospol menyerahkan kepentingannya kepada kepentingan luar.

Orsospol, kata dia, merupakan wahana perjuangan rakyat dan tidak boleh dobelokkan jadi wahana dan sarana ambisi pribadi. (fur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: