Sinyal Dwifungsi Pengusaha-Penguasa

ARTIKEL-27

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com


Sinyal Dwifungsi

Pengusaha-Penguasa


“Reformasi di Indonesia telah membuka peluang bagi banyak pengusaha mengisi lowongan kepemimpinan dalam pemerintahan. Pemilihan umum membutuhkan figur, intelektual, dan biaya,” ungkap Wapres M Jusuf Kalla (Kompas, 22 / 11 / 2006). Kita numpang tanya, jika pengisian peluang kepemimpinan yang melalui pemilihan langsung itu memerlukan biaya mahal, bukankah setelah terpilih menjadi penguasa (pemimpin), besar kemungkinan pengusaha tersebut akan menerapkan logika hitung-dagang untuk menutupi segala pembiayaan (political fund) yang pernah dikeluarkannya?

Memang betul modal intelektual atau rasionalitas diperlukan untuk menutupi kelemahan modal figuritas yang lebih diintervensi oleh faktor emosional dan sugesti. Namun, jika alasan rasional adalah untuk kepentingan penetapan public policy, bukankah dalam diri Pengusaha-Penguasa itu akan terjadi conflict of interest antara membuka penuh katup aliran ekonomi pasar bebas (neoliberal) atau membatasi ruang geraknya, misalnya dengan juga membuka katup ekonomi pasar sosial (ekonomi kesejahteraan)? Dengan format demikian, bisakah diharapkan tumbuhnya budaya politik kekuasaan yang amanah dan etika bisnis yang fair, terutama untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan rakyat? Kemudian, dengan sistem perekrutan pemimpin yang masih harus melalui pintu partai politik (Parpol), apa jaminan bahwa perputaran roda Parpol tidak ditentukan oleh kekuatan modal dari calon pemimpin yang akan dan pernah diusung? Kita sepakat bahwa para pengusaha atau pebisnis (entrepreneur) memiliki pengalaman kepemimpinan yang bisa dibuktikan secara konkret dan terukur sebagaimana pemimpin militer. Masalahnya, bukankah para pemimpin informal, seperti tokoh-tokoh masyarakat dan kelompok-kelompok sosial-keagamaan, juga memiliki pengalaman kepemimpinan yang sama, sebab jika tidak, mustahil mereka bisa memobilisasi atau menggerakkan masyarakat? Jika argumennya bahwa kepemimpinan pebisnis lebih efisien, efektif, transparan, akuntabel, dan produktif, bukankah selama ini kualitas parameter-parameter tersebut hanya dibuat secara sepihak oleh para pemodal dan para intelektual berotak neolib?

Tentu saja di zaman gombalisasi ini kita masih berharap munculnya pengusaha-pengusaha yang memasuki arena politik karena motif “pengabdian” kepada rakyat. Dan kita tidak akan buru-buru memvonis bahwa itu ibarat si punguk merindukan rembulan. [**]

_______________

Artikel ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional /Forum SPTN (merangkap peneliti teknologi mesin industri pada forum yang sama).

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus DIGITAL No. 3 / Tahun Ke-1, 19 Desember 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: