Bencana Akibat Gelombang Laut dan Ideologi Neoliberal

ARTIKEL-26

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Bencana Akibat Gelombang Laut dan

Ideologi Neoliberal

Naiknya gelombang laut pada Kamis (17 / 5 / 2007) hingga Jum’at telah menerjang 11 provinsi di sebagian Nusantara, dan telah meluluhkantakkan ratusan rumah, kafe, serta perahu nelayan.

Parluhutan Manurung, Kepala Bidang Gaya Berat dan Pasang Surut Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal), berpendapat bahwa bencana tersebut merupakan dampak superposisi dari beberapa fenomena alam, yaitu pengaruh gaya tarik Matahari dan Bulan terhadap Bumi, adanya gangguan cuaca, dan arus laut (Kompas, 19 / 5 / 2007). Ketika terjadi puncak gaya tarik, maka massa air di permukaan Bumi akan tertarik yang disebabkan konstelasi Bumi, Bulan, dan Matahari dalam satu garis lurus (ini berulang 18,6 tahun sekali) dengan maksimum amplitudo (puncak) gelombang yang selalu terjadi di pantai.

Pada hari dan dalam Harian yang sama, Manajer Badan Penilaian dan Penerapan Teknologi Sistem Geologi dan Laboratorium Mitigasi Bencana Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Fadli Syamsuddin mengatakan, penyebab paling mungkin kejadian tersebut adalah adanya Gelombang Kelvin, yakni gelombang yang menjalar di ekuator akibat fase transisi angin di ekuator dari timur ke barat (yang terjadi pada Mei-Juni dan November-Desember setiap tahun) yang memunculkan anomali angin. Karakteristik gelombang tersebut di utara ekuator menjalar di kiri daratan, dan pada selatan ekuator menjalar di sebelah kanan daratan.

Mengapa maksimum amplitudo (puncak) gelombang selalu terjadi di pantai? Itu tidak usah dikaitkan dengan sesajian yang sering dilakukan di pantai. Yang jelas, Parluhutan dan Fadli terkesan terperangkap dalam pola pikir mempersalahkan alam sebagai penyebab. Suatu keterjebakan pada agenda sekularistik yang memisahkan sains (fenomena alam) dari agama (aspek teologis). Padahal premis “keseimbangan” (keadilan) dalam penciptaan ini juga telah banyak diajarkan dalam berbagai mazhab filsafat. Bahkan kitab suci Al-Qu’ran pun telah menyatakan, “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikian ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (‘garis edar’ atau ‘lintasan orbit’), sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua. Tidakkah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan, dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.” (QS 36 : 38-40).

Jika ditransformasikan dalam bahasa ilmu fisika (Hukum Grafitasi Newton), ayat-ayat Al-Qur’an tersebut akan menjadi lebih sederhana:

m1. m2

F = G ———

R2

di mana, F = Gaya tarik-menarik (dan tolak-menolak) antara

planet yang satu (bumi) dengan planet lainnya.

m1 dan m2 = Massa planet yang satu dan massa plenet lain-

nya (bumi).

G = Konstanta grafitasi bumi

R = Orbit planet lain pada jarak tertentu dari pusat

bumi.

***

PERTANYAAN yang patut kita ajukan buat para saintis sekular (?) adalah: Mengapa terjadi perubahan (pelemahan) “konstanta gravitasi bumi” yang kemudian menciptakan superposisi planet-planet (perubahan “R”) dan konstelasi bumi, bulan, dan matahari dalam satu garis lurus? Bukankah Al-Qur’an telah mengingatkan, “Kerusakan di bumi adalah akibat ulah manusia”? Dan bahwa, “……Ia (Tuhan) menciptakan segala sesuatu kemudian mengaturnya dengan peraturan yang pasti.” (QS 25 : 2). Kemudian, Allah juga berfirman, “Katakanlah: Perhatikanlah olehmu apa yang ada di langit (planet-planet lainnya) dan apa yang ada di (planet) bumi. Tanda-tanda dan peringatan-peringatan itu tidak akan berguna bagi golongan manusia yang tidak percaya.” (QS 10 : 101).

***

DALAM konteks keduniawian, bukankah kebijakan-kebijakan politik (ideologi) pembangunan dunia selama ini telah menciptakan perusakan lingkungan hidup dengan aneka derivatnya seperti pemanasan global (global warming), efek rumah kaca (green house effect), dan superposisi bumi yang menciptakan gelombang laut itu? Atau — dengan malu-malu kucing — kita bisa saja telah menempatkan “sains” sebagai “agama baru” (mungkin tidak sama dan sebangun dengan gerakan “New Ages” atau ”Spiritualisme”), dan menggantikan peran “ilmu”. Bisa jadi, tanpa sadar, sains yang mereka muliakan sudah tidak lagi berada dalam zona netral (comfort zone) dan oleh karenanya telah terkooptasi ideologi tertentu, katakanlah ideologi pasar bebas atau totaliterisme pasar (neoliberalisme) yang mengangkangi bola bumi ini [terkecuali Iran, Lebanon Selatan, Venezuela (?), Kuba (?), Bolivia (?), dan Paraguay (?)], bahkan mulai melirik planet-planet lain karena munculnya keyakinan mereka bahwa kelak bumi tak lagi mampu menopang kebutuhan (tuntutan) manusia yang serakah dan terus beranak-pinak tanpa perencanaan dan startegi pemberdayaan.

Karena itu, kita menolak pendapat Daniel Bell bahwa zaman wacana ideologi telah berakhir (the end of ideology). Juga seharusnya kita lepeh-kan saja gagasan Theodore Adorno tentang deideologisasi filsafat.

Mungkin saja betul alur berpikir Hannah Arendt bahwa ideologi melampaui batas sains (pseudo science) dan filsafat (pseudo philosophy). Tetapi ia tidak sepenuhnya benar ketika mengatakan setiap ideologi memiliki unsur totaliter dan akan berkembang penuh bila ada gerakan totaliter yang mendukungnya.

Jika kita sepakat bahwa setiap ideologi tidak netral karena bergantung pada siapa yang merumuskan (ideologi) dan memperjuangkannya, bagaimana jika Sang Ideolog memiliki keadaban dan sense of humanity yang tinggi? Lagipula, bagaimana validitas pernyataan bahwa ideologi melampaui batas filsafat sementara ideologi didasarkan pada suatu filsafat tertentu (meski ada pula yang didasarkan pada ajaran agama)?

Akal waras kita pun akan menolak tesis bahwa ideologi menempatkan identitas sebagai sesuatu yang tidak tetap atas dasar argumen, setiap individu — yang terikat dalam suatu ideologi — selalu berinteraksi sehingga senantiasa berubah. Bahkan, menurut mereka, pada hakekatnya dalam interaksi tersebut yang terjadi adalah melenyapnya identitas, termasuk juga identitas ideologi. Bagi kita, yang sedikit belajar logika ilmu kimia, bagaimana mungkin identitas gas hidrogen (H2) dan oksigen (O2), misalnya, bisa sirna total tatkala membentuk senyawa air (H2O)? Bukankah dengan proses atau mekanisme reaksi balik (reversible reaction) senyawa air akan dapat kembali membentuk hidrogen dan oksigen?

Oleh karena itu, “ketidaktetapan” (ideologi) yang mereka maksudkan lebih tepat bila dilabelkan pada domain “strategi” dan “taktik” yang notabene merupakan instrumen-instrumen ideologi, dan penerapannya bersifat periodik dan kondisional.

Semoga saja para saintis dengan rendah hati bersedia terus belajar agar tidak selalu terperangkap dalam aquarium penyedap mata para kapitalis (neoliberalisme).

***

BERPIKIR ideologis adalah berpikir secara struktural (tidak parsial atau ad hoc)-kultural dan konsepsional. Itu berarti harus ada visi dan misi berikut program jangka pendek dan panjang. Sayangnya, itu belum tercermin dalam tugas-tugas abdi negara di negeri ini. Tidak heran, dalam kejadian gelombang tinggi pada 18 Mei (2007) lalu, para nelayan di Kedonganan, Jimbaran, Bali menyatakan mereka sebelumnya tidak mendapatkan peringatan cuaca dari pihak berwenang (Kompas, 19 / 5 / 2007). Lalu untuk apa peralatan pemantau alam yang dibeli dari pajak rakyat (nelayan) itu?

Cara-cara penanganan masalah (bencana) di negeri ini semakin menegaskan bahwa sebagian besar petinggi kita sudah terperangkap dalam parsialitas yang merupakan produk pengkerdilan pemikiran oleh ideologi neoliberal. Sosok lain dari parsialitas itu — di antaranya — adalah ketidakmampuan berpikir alternatif atau imajinatif. Dan itu berarti lebih doyan bertindak reaktif atau “over reactive”. Jangan heran bila ada kelompok yang begitu kelabakan ketika ada permintaan dari DPR dan sebagian rakyat agar Presiden SBY memberikan keterangan terkait dengan dukungan Pemerintah RI terhadap Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Nomor 1747 tentang pengetatan sanksi (nuklir) kepada Iran. Atau juga sikap reaktif kelompok yang disebut sebagai pakar ketika baru-baru ini ada mobil yang terjun bebas dari lantai 6 gedung parkir pertokoan ITC Permata Hijau (Kebayoran Lama, Jakarta Selatan) karena diduga gedung parkir tersebut tidak dilengkapi dinding pengaman berstruktur beton.

***

JIKA China mampu mengambil manfaat dari globalisasi, seraya mengatur iramanya, Indonesia malah sibuk bereaksi dengan terus mabuk menari — bak topeng monyet — di tengah tabuhan genderang para penguasa dunia (para Mr Neolib) yang menggunakan kedok globalisasi. [**]

_______________

Artikel ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional /Forum SPT (merangkap peneliti teknologi mesin industri pada forum yang sama).

Artikel ini pernah dimuat dalam http://forumsptn-politico-questionnaire.blogspot.com pada tanggal 17 Agustus 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: