Lumpur Panas Lapindo dan Teori Fungsionalisme Struktural (DPD Watch — No. 16)

ARTIKEL-16

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Lumpur  Panas  Lapindo  dan

Teori  Fungsionalisme  Struktural

(DPD Watch — No. 16)

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional / Kepala Bappenas Paskah Suzetta mengemukakan, pemerintah tak memiliki dana dalam APBN 2007 untuk menalangi pembiayaan korban Lumpur Lapindo Brantas.  “Alokasi anggaran, apa pun namanya, harus dibicarakan dengan DPR. Di APBN 2007 tak ada dana talangan untuk Lapindo,” ujarnya (Kompas, 21 / 3 / 2007).

Dari pernyataan tersebut segera imajinasi kita bergerak liar memplot aneka skenario mengerikan.  Sekarang saja para korban Lumpur tersebut sudah sangat menderita.  Belum lagi semburan lumpur panas itu semakin  banyak bercampur kerikil sebesar biji jagung yang menguatkan dugaan terjadinya mud  volcano di Kecamatan Porong, Sidoarjo.

Dengan semakin meluasnya eskalase dan intensitas  mud  volcano, tidakkah segera terbayang lumpuhnya jaringan urat nadi kehidupan (ekonomi) di Jawa Timur dan juga di Indonesia Bagian Timur (IBT) mengingat  Surabaya — sebagai Ibu Kota Jatim — merupakan produsen dan bandar distributor barang-barang ke kawasan IBT?

Kita tidak ngerti teori-teori muluk dengan aneka pendekatan sains dan teknologi untuk mengatasi tragedi lumpur itu, mulai dengan teknologi yang menancapkan  pipa  casing hingga memasukkan bola-bola beton ke perut bumi. Kita cuma tahu bahwa tragedi tersebut telah membuat masyarakat Porong tidak bisa nyenyak tidur dan  “bola-bola” mata mereka terus terbelalak menatap ke layar lebar imajinatif yang menampilkan sekian ribu orang yang menahan sakitnya “perut” dan pilunya hati karena tak ada dana APBN untuk dijadikan talangan.  Pada layar itu juga terproyeksi adanya dua kelompok orang.  Kelompok (berjumlah) kecil  berada pada tataran bermain-main dengan bola-bola beton untuk dihujamkan ke perut bumi, sedangkan kelompok besar, bola matanya terbelalak bingung seraya memegang perut mereka yang keroncong dan  mules akibat pernah disuguhi makanan basi di tempat pengungsian.

Di Porong tak ada pembahasan atau rapat-rapat seperti di parlemen yang  sok ilmiah dan akademis lengkap dengan tim ahli, fasilitas proyektor (yang dilengkapi dengan  laptop), dan makan siang yang pasti membuat  iler para tukang ojek dadakan di sekitar  Porong.

Kelompok besar tidak pernah mampu berpikir rumit bahwa tragedi  lumpur tersebut merupakan gejala alam yang tidak ada kaitannya dengan aspek teologi (Tuhan).  Dan itu tentu saja berbeda dengan rekayasa pemikiran kelompok kecil yang doyan betul menggunakan dalil-dalil teknologi, saintifik, filosofis, epistemologis, ontologi, ganco-logi atau ngawuro-logi.

***

BERDASARKAN hierarki epistemologi  (nah  lo) sekularistik, sains dan agama masing-masing memiliki wilayah otonom, dan otonomi itu hanya bisa eksis bila premis-premis yang menyertainya terpenuhi. (Kayak syarat-syarat perdukunan  aje!).

Bagi masyarakat Porong, sederhana saja: “Tiada bencana yang terjadi di alam semesta ini terkecuali akibat ulah manusia.”  Dan di situ bukan  “manusia” atau  “masyarakat”  Porong  yang berulah, melainkan  “manusia”  yang mengeluarkan dan mengesahkan kebijakan yang serakah menyedot isi perut bumi di luar daya dukungnya.  Tapi  kan di situ mengandung mineral atau gas-gas yang bernilai ekonomi dan bisa menyejahterakan rakyat.

Murid SLTA jurusan IPA pun tahu bahwa tanah pasti mengandung unsur-unsur atau senyawa-senyawa kimia (termasuk yang berwujud gas) atau mineral.  Tapi apakah itu lantas dijadikan alasan untuk terus menguras bumi tempat kita berpijak dan mengambil kehidupan?  Begitu  dungu-nya para  makhluk  yang  sok ilmiah itu jika tidak mampu mencari sumber-sumber ekonomi alternatif yang lebih lestari  (sustainable) dan tidak merusak lingkungan hidup?  Anak-anak  SLTA pasti tahu Hukum Mekanika III:  Aksi = Reaksi  atau  Aksi = – Reaksi.  Dengan kata lain, jika bumi terus dieksploitasi atau diperlakukan tidak adil (bahasa Ilahiah: di-dzalim-i), maka ia akan bereaksi melampiaskan kemarahan sesuai dengan bahasa yang dianutnya.  Dalam bahasa  Qur’ani, apa pun ciptaan Allah SWT memiliki bahasa tersendiri dan mereka terus bertasbih kepada  Sang  Khalik (QS 61 : 1).  Dan bisa jadi apa yang terjadi di Porong merupakan salah satu dari keterpelantingan butiran tasbih semesta yang keluar dari untaiannya.  Dan bahwa keterpelantingan  itu berdampak struktural (bahkan menimpa orang-orang yang tidak berdosa), silahkan saja dipahami melalui teori fungsionalisme strukturalnya Talcot  Parson.

Jadi bagi kita yang awam filsafat ini hanya bisa mengatakan, dalam tataran operasional, sains dan agama bisa saja dipisahkan.  Namun, bukankah keduanya (semuanya) bermuara pada sumber yang sama  yakni  Sumber Segala Sesuatu atau  Sang Pencipta Rabbul  ‘Alamin? [**]

_______________

Artikel  DPD Watch No. 16 dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator  Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional /Forum SPTN (merangkap peneliti teknologi mesin industri pada forum yang sama).

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus Digital No. 16 / Tahun Ke-1,  21 Maret 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: