Asal-Usil (Islam dan Ekonomi — Bagian Pertama) – (ISLAM-44)

24 Januari 2010

ISLAM-44

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Asal-Usil

(Islam   dan   Ekonomi — Bagian Pertama)

 

Catatan Redaksi:

“Asal-Usil” ini pernah dimuat dalam http://forumsptn-indo-technoeconomic.blogspot.com pada tanggal  17 Agustus 2007.

 

 

Jika  teori  evolusinya  Charles  Darwin  kita  cangkokkan   pada  perkembangan  sosial-ekonomi  dunia, untuk  tidak  menyebut  “ideologi  dunia”  [karena  tokoh  mazhab   Frankfurt, Theodore  Adorno  (1903 – 1969), menolak   ideologisasi  filsafat], bukankah   tulisan   di   atas    sudah   tidak   relevan   lagi?   Bukankah   apa   yang   digambarkan   oleh   penulis   (Sayid   Mujtaba)  tentang   kapitalisme, kini   telah   direnovasi   secara   lebih   beradab   menjadi   kapitalisme   lanjut   (late-capitalism)  yang   bekerja   secara   kultural   dan   humanistik  untuk   memenangkan   persetujuan   kelas   pekerja?   Apakah   kita  harus  menutup   mata  dengan  penerapan   the   compassionate   capitalism  (“kapitalisme  yang  penuh  belas  kasih”  atau   “kapitalisme  yang  berperikemanusiaan”), di  mana  para  buruh  dijamin  kesejahteraannya  dan  mendapatkan  asuransi  kerja, atau  bahkan  rakyat  banyak  diberi  peluang  sebesar-besarnya  untuk  membeli  saham-saham  di   berbagai   perusahaan  yang   dijual  pada  bursa  saham?  Juga, apakah pantas kita pungkiri manfaat besar yang diberikan sejumlah perusahaan kapitalis melalui program “Tanggung Jawab Sosial Perusahaan” (Corporate Social Responsibility / CSR)?   Bukankah  prinsip   “ekonomi  pasar” — yang  dianut   oleh  kapitalisme  (neoliberalisme) — inherent   dengan  kehidupan  manusia   itu   sendiri  atas  dasar  pertimbangan  bahwa  (antara  lain)  dalam  pasar  tradisional   atau   pasar   primitif   pun   ada   “kompetisi”   seperti   yang   berlaku   pada   ekonomi   pasar bebas (harap dibedakan dengan  “ekonomi pasar  sosial”)  saat   ini?  Bahwa   ada  ketimpangan   ekonomi   antara  negara-negara   maju   (Amerika   Serikat, Uni  Eropa, dan   Jepang) dan  negara-negara   Dunia  Ketiga, seperti   kita  saksikan   dari  perdebatan  dua   kubu   tersebut   dalam   pertemuan   WTO  (World   Trade   Organization)  di   Cancun  (Meksiko)  pada   pertengahan   September  2003  lalu, bukankah  hal  itu  lebih  bersifat   teknis  sehingga  masih  bisa  dicarikan  titik   temunya? 

     Oleh karena itu, tidakkah   kualitas  keilmiahan   kita  akan  menjadi  merosot   jika   ngotot   mempersamakan   teori   kapitalisme   klasik  (yang  digagas   oleh   Adam   Smith   lewat   bukunya:  The   Wealth   of   Nations — 1776) dengan   prinsip   ekonomi   neoliberalisme   yang   (konon) semakin   humanistik?

***

      KEMUDIAN, tentang  komunisme, kita  sepakat  bahwa  ideologi   itu  sudah   mati.  Bahkan, jauh  sebelum  bubarnya Uni  Sovyet, Imam  Khomeini   telah  menyatakan  kepada  utusan  Presiden  Gorbachev   yang   datang   menemui   beliau, bahwa   komunisme   akan   segera   masuk   museum   sejarah.

     Memang tulisan ini (Islam dan Ekonomi)  dibuat sebelum runtuhnya Uni Sovyet.  Tetapi, yang  mengherankan, dalam mengkritik sosialisme, mengapa hanya gagasan Lenin yang disoroti?  Bukankah Leninisme telah dikritik secara tajam oleh Antonio Gramsci, Andre Gunder Frank, Paul Baran, dan Rosa Luxemburg?  Sebagaimana diketahui, meskipun mereka adalah pemikir-pemikir (pejuang-pejuang) beraliran sosialis, namun sosialisme mereka adalah sosialisme yang humanistik dan tidak bengis.

      Lalu, seandainya penulis (Sayid Mujtaba) mau membuat lagi tulisan tentang sosialisme, bagaimana pula kejujurannya dalam menyikapi gagasan Anthoni Giddens tentang  “Sosialisme Demokrat” (yang diungkapkan dalam bukunya: The Third Way — 1999) yang sangat brilian itu?  Memang betul praktik ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan, keadilan, dan nilai-nilai kemanusiaan (humanisme) — dalam pengertian lahir dan batin — telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW melalui masyarakat madani (civil  society)  yang dibentuk oleh beliau.  Tetapi, mengapa masyarakat seperti itu sulit diwujudkan oleh ummat saat ini?  Dalam aspek kesejahteraan saja, negara-negara Muslim jauh tertinggal dari yang non-Muslim, misalnya negara-negara Skandinavia.  Negara-negara ini (Skandinavia) menjadikan  “koperasi”  sebagai pilar utama yang menopang pembangunan ekonominya.

      Sementara itu, negara-negara  Muslim  dengan  bangganya memperkokoh pilar ekonomi konglomerasi — yang dikuasai oleh segelintir orang — untuk mendukung konstruksi ekonomi nasional.  Padahal praktik berkoperasi lebih mendekati pengamalan ayat Al-Qur’an: “Dan tolong-menolonglah (bergotong-royonglah) kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan janganlah kamu bergotong–royong dalam kejahatan dan permusuhan.” (QS 5 : 2).  Bukankah akumulasi modal pada segelintir orang (konglomerat berkerah biru beserta para konconya yang bercokol di berbagai institusi negara) akan menciptakan permusuhan dan kesenjangan sosial?

      Bisa saja ummat Islam menuding mereka (yang non-Muslim) tidak bertakwa, tetapi mereka bisa membela diri bahwa mereka telah banyak berbuat kebajikan, antara lain melalui karya-karya teknologi dan ilmu pengetahuan yang juga dimanfaatkan oleh ummat Islam.  Lalu, pantaskah karya-karya itu dikatakan sebagai bentuk  “kesalehan sosial”?   Sebaliknya, ummat Islam yang mengklaim diri mempraktikkan  “kesalehan  ritual”, mana wujud  “kesalehan sosial” mereka?

***

      DIHADAPKAN pertanyaan-pertanyaan seperti di atas, ummat Islam bisa saja berapologi dengan menggunakan argumen  (hujjah): “Dan orang-orang yang kafir, amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun” (QS 24 : 39).  Tetapi, bagaimana kita memaknai ayat ini: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun niscaya dia akan melihat (balasan) nya” (QS 6 : 57)?  Bukankah yang berhak menimbang kebaikan dan keburukan hanyalah Allah SWT (QS 6 : 57)?

      Bisa saja mereka balik menuding ummat Islam dengan mengutib ayat berikut: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan” (QS 61 : 3), seraya membela diri:  bukankah kami telah berpartisipasi dalam menunaikan perintah Tuhan untuk memakmurkan bumi ini (QS 11 : 61)?  Lagi pula, kalian ummat Islam, bagaimana mau menegakkan keadilan (QS 16 : 90) — misalnya  “keadilan ekonomi” — jika dalam masyarakat kalian tidak terjadi pertumbuhan ekonomi yang spektakuler?  Apa yang mau dibagi (didistribusikan) — dalam rangka penciptaan struktur ekonomi yang berkeadilan — jika untuk mencicil bunga utang luar negeri saja tidak terpenuhi?  Lebih menyakitkan lagi jika mereka lancang mengutib Hadits Nabi Muhammad SAW:  “Kemiskinan mengakibatkan kekufuran.”  Maka, atas dasar itu, dalam praktiknya mereka justru bergerak semakin dekat ke arah  maqam  ketakwaan, tanpa harus terperangkap dalam kerangkeng pengkultusan simbol-simbol formal keagamaan.

***

     RENTETAN  peluru-peluru pembelaan yang bernada hujatan itu akan semakin mengoyak kalbu jika dimuntahkan lagi satu peluru eksekusi: “Bagaimana kalian (ummat Islam) bisa meraih kebahagiaan di akhirat kelak jika di dunia tidak menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi?”

“Dan barangsiapa di sini (dunia) buta (tidak berilmu),

maka di akhirat nanti buta pula dan lebih sesat lagi jalannya.”

(QS 17 : 72)

***

       AKHIRNYA, dengan pongah mereka bisa saja mengatakan: Sudahlah, daripada saling menyalahkan, lebih bijak jika kita bersama-sama melakukan kegiatan-kegiatan konstruktif yang bersifat  win-win solution  untuk kemaslahatan bersama sesuai dengan pesan Al-Qur’an (QS 5 : 2).      Silahkan ummat Islam mengklaim pemegang otoritas keimanan, tetapi secara jujur merekapun berhak mengklaim kepemilikan saham ilmu pengetahuan, di mana keduanya mulia di mata Allah.

“ …… Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman

di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”

(QS 58 : 11)

***

      IDEALNYA, kedua sumber daya (keimanan dan penguasaan ilmu pengetahuan) menyatu dalam diri ummat Islam atau — kalau diizinkan — juga non-Islam.  Tetapi, sudahlah, karena realitasnya terdistribusi seperti itu, maka yang diperlukan adalah bagaimana mengsinergikan atau menarik resultan gaya untuk dimanfaatkan sebagai pembentuk  “energi atau usaha bersama”. (Dalam fisika mekanika diketahui bahwa  “energi atau usaha adalah hasil multiplikasi gaya dengan jarak yang ditempuh”).  Bukankah segala sesuatu di alam semesta ini (termasuk keimanan dan ilmu pengetahuan) adalah milik Allah SWT (QS 29 : 20)?  Dan karena pengamalan atas keimanan dan ilmu pengetahuan itu adalah wujud dari kebenaran, maka keduanya pasti bersumber dari Allah SWT.

“Kebenaran itu dari Tuhan, maka janganlah kamu

termasuk orang-orang yang ragu.”

(QS 3 : 60)

      “Kebenaran merupakan ketersingkapan (aletheia  atau  tajalli) Sang ‘Ada’ (baca: Tuhan),” begitu kata Martin Heidegger (filsuf Jerman)

.

***

      KONSEKUENSI lebih lanjut dari wacana yang agak vulgar seperti digelar di atas, bagaimana jika ideologi neoliberalisme atau globalisasi [tanpa harus terjebak pada Amerikanisasi atau kooptasi logika industri yang menjelma menjadi budaya massa dengan bekerja melalui penyeragaman selera dan pelenyapan individualitas atau eksistensi kelompok-kelompok masyarakat (kebudayaan)] dicarikan pembenarannya dalam ayat berikut:

“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.”

(QS 24 : 35)

      Bagaimana   jika  “globalisasi”  ditafsirkan  sebagai  salah  satu  bentuk  proyeksi  cahaya  yang  menerpa  layar  lebar   langit  dan  bumi, dan  tugas  manusia  adalah  berakting  sesuai  dengan  tuntutan   Pembuat   grand   scenario  (Pemberi  cahaya)?  Dengan  begitu, manusia  bebas  berimprovisasi   (berakting), tetapi  tidak  mengabaikan  nilai-nilai  keadilan, etika,  dan  humanisme  universal  demi  keteraturan   hidup  mereka.

      Lalu, bagaimana  pula  kita  menanggapi  jika  muncul  usulan  berikut: Neoliberalisme  dan  Sosialisme  (sosialisme  demokrat  atau  sosialisme   relijius)  merupakan  keniscayaan  karena  mereka  bergerak  atau  mengalir  melintasi  alur  sungai  alamiah  yang  bermuara  pada  “globalisasi”(suatu  istilah  yang  dipopulerkan  oleh  Anthony  Giddens).  Bukankah  tugas  kita  tinggal  melarutkan  nilai-nilai  keadilan, etika, dan  humanisme  universal  ke  dalam  (muara)  “globalisasi”  itu?  Bukankah  terbitnya  UU  Antimonopoli dan rencana pembuatan Undang-Undang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan patut dipandang  sebagai bagian dari  implementasi  kecenderungan itu?

      Bagaimana  pula  kita  menanggapi  jika  ada  pemaknaan  versi  lain  (lihat  “kalimat  di   dalam   tanda   kurung”)  atas  ayat-ayat  berikut:

 

“Bagi  setiap  golongan  diantara  kamu  telah  Kami  tetapkan

suatu  cara  dan  jalan  hidup  (agama, ideologi, filsafat  dan  kebudayaan)

tertentu.  Sekiranya  Allah  menghendaki, niscaya  kamu  dijadikan-Nya

satu  ummat, tetapi  Allah  hendak  menguji  kamu  terhadap  pemberian-Nya

kepadamu, maka  berlomba-lombalah  berbuat  kebajikan.”

(QS  5 : 48)

“Sesungguhnya usahamu (ideologi, aliran filsafat, dan kebudayaan)

sangat beraneka-ragam.”

(QS 92 : 4)

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang

perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku

(juga berbagai aliran ideologi,  filsafat, dan kebudayaan) supaya kamu saling

kenal-mengenal  (berinteraksi secara positif, produktif, dan konstruktif dalam bingkai  “globalisasi”).

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling

bertakwa (silahkan simak QS 3 : 13-14) — yakni orang-orang menafkahkan hartanya (bukan dengan memberi pinjaman atas dasar riba dan kebanggaan yang disertai gunjingan), baik di waktu

lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya (tidak menebarkan

teror dan militerisme) dan memaafkan sesamanya (yang tidak destruktif dan melakukan kejahatan struktural seperti Fir’aun).  Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan

(secara proaktif melakukan hal-hal yang konstruktif, bukan pasrah kepada keadaan) —

di antara kamu.”

(QS 49 : 13)

“Berjalanlah  di muka bumi (tebarkanlah  rahmah  secara mengglobal),

maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari

 permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi.”
(QS 29 : 20)

[**]

_______________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN).


Islam dan Ekonomi – Bagian Pertama – Oleh Sayid Mujtaba Rukni Musawa Lari (Intelektual Iran) – (ISLAM-43)

24 Januari 2010

ISLAM-43

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

Islam  dan  Ekonomi

Bagian  Pertama

 

Oleh:  Sayid  Mujtaba  Rukni  Musawa  Lari

(Intelektual  Iran)

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008) 

 

 

Manusia   senantiasa  bergumul  dengan  aneka  tugas  pengelolaan  sumber  daya  alam  dan  berusaha  menemukan  mata  pencaharian  dari  sana.  Pada  abad-abad  primitif, seperti  dikatakan  oleh  Aristoteles, kehidupan  mengorganisasikan  dirinya  secara  sosial   “untuk  memungkinkannya  bertahan  dan  lestari  dengan  baik”.  Pada  empat  abad  lalu  “ilmu  ekonomi”  dikembangkan  dari  peraturan-peraturan  yang  mengatur  hubungan  manusia  serta  pertukaran  barang  yang  berkembang  melalui  organisasi  sosial  ini.  Ketika  berhadapan  dengan  kemajuan  pesat  teknologi  dan  tingkat  kemakmuran, “ilmu  ekonomi”  tersebut  terpecah  menjadi  dua  kubu  yang  saling  berlawanan.

      Kubu  pertama  “kapitalisme”  atau  “usaha-usaha  bebas”  (free   enterprise) meyakini  bahwa  alam  akan  menempuh  jalur  berdasarkan  prinsip-prinsip  ekonomi, sehingga  pemenuhan  kebutuhan  pribadi  akan  memengaruhi  tercukupkannya  keperluan  pihak  lain, yang  kemudian  dapat  meningkatkan  keuntungan  atau  manfaat  bagi  semua.  Ini  merupakan  doktrin  yang  dianut  oleh  Blok  Barat.

      Kubu  lain, yakni  “komunisme”  (sosialisme), menganut   prinsip  bahwa  alat-alat  produksi  harus  dikontrol  oleh  negara  proletariat sehingga   pendapatan  atau  perolehan   atas  hasil  kerja  harus  dibagi  secara  sama  rata.

      Persaingan  untuk  meraih  pengaruh  di  antara  dua   ideologi   ini  melanda dunia modern (kendati, kini, komunisme telah terbenam dalam liang lahad — Penerjemah) yang mengancam laksana pedang Damocles.

      Kita patut bertanya kepada para pendukung marxisme, apakah   “masyarakat tanpa kelas”  yang  mereka perjuangkan itu dapat terbentuk  dengan ukuran tunggal  di mana alat-alat produksi bisa meningkatkan pendapatan dan melenyapkan kelas orang berpunya sementara dalam realitasnya keragaman kelas-kelas dalam masyarakat senantiasa ada sebagai akibat dari faktor-faktor non-ekonomi? 

      Bila dikatakan bahwa di Republik Sosialis Sovyet (kini telah bubar, Pen) tidak ada kelas borjuis, dengan mudah ditemukan kelas-kelas lainnya yang terbentuk berdasarkan jenis pekerjaan dan lingkungannya; misalnya kelas pekerja pabrik, petani, pramuniaga, dan sebagainya.  Dari situ muncul masalah, apakah seorang dokter — misalnya — harus menerima gaji yang sama besarnya dengan seorang buruh?   Atau, samakah gaji seorang pelaut dengan seorang insinyur?

      Masih banyak lagi perbedaan yang dapat disaksikan dalam realitas konkret, misalnya saja realitas Lenin itu sendiri.  Tentu saja, manusia harus dibedakan dari usia, jenis kelamin, perasaan, kecenderungan, kekuatan fisik, penampilan, kekuatan akal, gagasan, dan pandangannnya.  (Secara sosiologi, semua ini akan memengaruhi stratifikasi sosial — Pen).

      Seorang ahli ekonomi Sovyet menulis (“Economics”, Vol. 2, hal. 216): “Adalah mustahil menerapkan hak yang sama secara absolut (absolute  equality  right).  Bila kita menggaji profesor, peneliti, dan politisi benar-benar sama nilainya dengan pekerja kasar, hasilnya adalah penghapusan berbagai insentif atas segala jenis pekerjaan yang mengandalkan kerja otak.”

 

***

       DI  lain  pihak, kapitalisme  mengklaim  bahwa  hanya  dengan  usaha-usaha  swasta  dan  kepemilikan  pribadi, standar  hidup  layak  bagi  semua  kelas  dapat  ditingkatkan; dan  bahwa  perbedaan  antara  kaya  dan  miskin  akan  dapat  diperkecil.  Berlawanan   dengan  klaim  ini, perlu  dikemukakan  laporan  dari  suatu  penelitian  yang  disusun  oleh  Walter  Reuther, Presiden  Serikat  Pekerja  Mobil  Amerika  Serikat, dalam  kapasitasnya  sebagai  Ketua  “American  Society  to  Combat  Hunger”  (Masyarakat  Amerika  Pemberantas  Kelaparan).  Komite  ini  membenarkan  bahwa  sepuluh  juta  orang  Amerika  menderita  akibat  kurang  makan;  dan  selanjutnya  meminta  Presiden  Amerika  Serikat  (AS)  untuk  mengumumkan  bahwa  negara  dalam  keadaan  bahaya  di  256  kota, yang  terdapat  pada  20  negara  bagian;  dengan   penekanan   bahaya  tersebut  bersifat  darurat  (genting).  Komite  ini  menyebutkan  bahwa  penyebab  kurang  makan  merupakan  rentetan  dari  pengaruh  Perang   Dunia  II  yang  juga  berkaitan  dengan  sejumlah  masalah  ekonomi  dalam  negeri  AS.

      Menyusul  diterbitkannya hasil penelitian itu, Menteri  Pertanian  mengambil  langkah-langkah  ekstrim  untuk  membeli  bahan  pangan  dari  luar  negeri  dan  melakukan  pengumpulan  bahan  makanan  apa  saja  yang  bisa  didapatkan  untuk  mengatasi  ketimpangan  ini.

      Dari  kasus  tersebut, kita  patut  bertanya, seberapa  jauh  suatu  rezim  — apa  pun  klaim   ideologinya — berhasil  menciptakan  pemerataan  kelas-kelas, memperkecil   perbedaan  yang  ada  serta  membangun  masyarakat  yang  adil  dan  sejahtera?

 

***

     BAIK rezim sosialis maupun kapitalis mendasarkan sistemnya pada teori-teori yang mengabaikan nilai-nilai moral dan spiritual.  Tujuan dari setiap sistem tersebut adalah untuk meningkatkan kekayaan atau kemakmuran, tidak lebih dari ini.

 

***

     SEMENTARA itu, filsafat Islam menempatkan semua manusia sesuai dengan fitrahnya.  Ia menata perilaku dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat seraya menetapkan ketentuan-ketentuan kebajikan moral, kesempurnaan spiritual, dan standar hidup yang lebih tinggi.  Ini bukan berarti menyepelekan hal-hal yang bersifat material, tetapi acuan-acuan mental, spiritual, moral, mendahulukan kepentingan orang lain, atau kecintaan terhadap sesama memungkinkan terjaminnya kepentingan semua orang, dan mereka ini kemudian saling memberikan dukungan terhadap kepentingan masing-masing (to  live  each  for  all  and  all  for  each).

      Hukum Barat sangat mendukung hak-hak kepemilikan individu dan memberi preferensi bagi para kapitalis atas kaum pekerja.  Sedangkan hukum Sovyet (Sosialisme — Pen) memangkas semua hak-hak kepemilikan individu dan memberi preferensi bagi seluruh kelompok pekerja.  Kedua sistem tersebut hanya  semata didasarkan pada akal dan pendapat manusia. 

      Berlawanan  dengan  itu, Islam  didasarkan  pada  Wahyu  Ilahi.  Hukumnya  (Islam)  bukanlah  produk  dari  kebijaksanaan  manusia.  Ia  tidak  menempatkan  kelas-kelas  sosial  dalam  posisi  konflik; tetapi  justru  mendorong  setiap  kelompok  untuk  saling  menghargai  keunggulan  masing-masing.  Islam  sangat  menekankan  agar  tidak  satu  pun  kelompok  yang  menguasai    kelompok  lainnya, dan  juga  tidak  membiarkan  ketidakadilan   merajalela.  Seorang   penguasa  hanyalah   sebagai  manusia   biasa  dengan  aneka  kewajiban  khusus  yang  diembannya, dan  dia  harus  tunduk  di   bawah  Hukum  Ilahi, semata-mata  menjalankan  kekuasaan  agar  ketentuan-ketentuan  Allah  SWT  dipraktikkan  dalam  masyarakat.

     Karena  pemerintahan  yang  amanah  menempatkan  Hukum  Allah  di  atas kepentingan apa pun, maka  niscaya  bisa  tercapai  kedamaian   dan   ketenangan.

      Islam  sangat  menentang  doktrin  kapitalisme  bahwa  hak  milik  pribadi  harus  ditempatkan  di  luar  batas-batas   kontrol  negara.  Islam   juga  mengecam  pembiaran  “usaha-usaha  bebas”  (free   enterprise) yang  melancarkan  agresi serta tirani pihak yang kuat atas yang lemah melalui penonjolan hak-hak individu yang merugikan hak-hak masyarakat; dan sebaliknya  memandang  penyucian  harta  sebagai  suatu  perbuatan  mulia  dan  asasi. [**]

_____________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku “Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977) oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN ).


Geografi – Oleh Sayid Mujtaba Rukni Musawi Lari (Intelektual Iran) – (ISLAM-42)

24 Januari 2010

ISLAM-42

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

GEOGRAFI

Oleh Sayid Mujtaba Rukni Musawi Lari

Intelektual  Iran

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)

 

Kisah-kisah mengenai para pelayar Arab yang berkunjung ke China, Jepang, dan kepulauan rempah-rempah Indonesia memberikan bukti nyata keunggulan kapal-kapal dagang bangsa Arab dan juga tingginya pengetahuan meteorologi dan geografi mereka.  Yang mengagumkan lagi bahwa pelayaran mereka bisa langsung dari Marokko ke Mindanao (Filipina Selatan).

      Tapi, selain menjelajahi laut-laut di Asia Tenggara, para pelayar itu juga masuk jauh ke pantai timur Afrika, dan bahkan hingga ke sungai-sungai yang terhubung dari Laut Hitam hingga bagian-bagian pelosok Rusia.

     Jurnal pelayaran Sulaiman, seorang kapten laut dari Seraf — yakni suatu pelabuhan di Teluk Persia — telah dikaji oleh Dr David Stonach dari British  Institute  of  Persian  Studies.  Jurnal ini dipublikasikan pada akhir abad ke-9 Masehi yang memuat informasi tentang sejumlah pelayaran Sulaiman ke India dan China.  Jurnal tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

 

***

      PAKAR geografi Ibn Hauqal (975 M) menulis: “Saya telah menulis garis lintang dan garis  bujur  tempat-tempat   di bumi ini, yang meliputi semua negeri-negeri serta batas-batasnya; dan juga daerah-daerah kekuasaan Islam dengan peta rinci pada setiap bagiannya di mana di situ saya telah beri tanda sejumlah tempat misalnya kota-kota, sungai-sungai, danau-danau, jenis-jenis pertanian, jalan-jalan, jarak-jarak suatu tempat dengan tempat lainnya, komoditas-komoditas dagang dan banyak lagi lainnya yang dapat bermanfaat bagi para penguasa dan aparatnya, juga untuk orang banyak.”

 

***

      ABU Reihan al-Biruni, Ibn Batuta, dan Abu’l Haussan merupakan nama-nama lain yang dikenal dalam sejarah ilmu geografi. Mereka ini telah melakukan perjalanan ke berbagai penjuru dunia seraya mengadakan observasi cermat dan membuat catatan-catatan rinci dan teliti yang oleh banyak pihak dianggap sebagai prestasi mengagumkan di bidang ilmu pengetahuan. [**]

_____________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku “Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977) oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN ). 


Industri – Oleh Sayyid Mujtaba Rukni Musawi Lari (Intelektual Iran) – (ISLAM-41)

24 Januari 2010

ISLAM-41

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

INDUSTRI

Oleh  Sayyid Mujtaba Rukni Musawi Lari

(Intelektual  Iran)

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)

 

Khalifah Abbasiah Harun al-Rasyid mengutus Charlemane ke  Aix dari Baghdad dengan menyerahkan sebuah jam yang dibuat oleh beberapa orang  horologist. Jam itu akan menghentak lonceng setiap jam; dan ini sangat menakjubkan serta menyemarakkan istana dalam penobatan Raja Romawi.

     Pembunuhan dan pengusiran kaum Muslimin Andalusia (Spanyol) — secara besar-besaran — oleh kaum Kristiani turut disertai penutupan banyak pabrik-pabrik besar yang telah memberikan kontribusi terhadap pembangunan ekonomi di masa pemerintahan Islam.  Sebagai konsekuensinya terjadilah stagnasi perkembangan di bidang sains, seni, pertanian, dan berbagai produk peradaban lainnya. Kota-kota mengalami kerusakan akibat langkanya tukang dan ahli-ahli bangunan yang profesional.  Kota Madrid mengalami penurunan penduduk secara drastis dari 400.000 menjadi 200.000.  Kota Seville yang memiliki 1.600 pabrik (kepunyaan kaum Muslimin) langsung mengalami penurunan hingga hanya 300 pabrik; dan 130.000 pekerja menderita  PHK (hilang pekerjaan).  Sementara itu, sensus Raja Philip  IV menunjukkan adanya penurunan populasi sekitar 75 persen.

     Kaum Muslimin juga telah memprakarsai substitusi pemakaian kertas tenunan kapas yang tadinya menggunakan kertas dari kulit.  Dan penemuan ini kemudian menjadi modal dasar pengembangan teknik percetakan bagi bangsa Eropa setelah memanfaatkan teknik percetakan kuno bangsa China.  Adopsi ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut semakin pesat pada masa Renaisans.

     Kemudian, karena para biarawan gereja banyak yang menderita akibat menulis pada kertas kulit dalam mencatatkan tugas-tugas keagamaan mereka, maka mereka beralih menggunakan kertas tenunan kapas yang diproduksi oleh kaum Muslimin.  Pemerkenalan  penggunaan  kertas oleh kaum Muslimin itu telah menghentikan praktik yang membawa  penderitaan dan telah mengamankan begitu banyak teks-teks atau karya tulis.

     Suatu manuskrip kertas tahun 1009 M — yang masih tersimpan di Perpustakaan Escorial — diklaim sebagai buku dengan tulisan tangan tertua yang ditulis di atas kertas (kertas tenunan kapas). Harus diakui, tentu saja, kertas tenunan sutra merupakan penemuan bangsa China, karena sutera berasal dari China; dan seorang jenius bernama Musulman melihat kemungkinan menggantikan sutera dengan kapas, dan ini kemudian mengakibatkan suplai bahan kapas yang berlimpah di Eropa. Oleh para biarawan gereja, kondisi itu dimanfaatkan untuk mereproduksi buku-buku.

 

***

     KEMUDIAN, Philip Hitti menulis dalam bukunya yang sangat terkenal: “History  of  the  Arabs” bahwa seni atau teknik membuat jalan-raya telah berkembang baik di wilayah-wilayah kekuasaan Muslim. Misalnya, di Kordova (Spanyol) banyak jalan-jalan mulus yang diterangi dari rumah-rumah pada setiap sisinya, sehingga orang-orang dapat berjalan dengan aman dan nyaman.  Sementara itu, di London dan Paris, siapa pun yang bepergian di malam yang hujan, kakinya akan terperosok ke dalam tanah becek. Dan ini terjadi tujuh abad setelah kejayaan Kordova. Ketika penduduk Oxford masih jauh tertinggal, mahasiswa-mahasiswa di Kordova sudah demikian maju. [**]

_____________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku “Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977) oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN ).


Ilmu Kimia – Oleh Sayyid Mujtaba Rukni Musawi Lari – (ISLAM-40)

24 Januari 2010

ISLAM-40

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

ILMU  KIMIA

Oleh Sayyid Mujtaba Rukni Musawi Lari

(Intelektual Iran)

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)

 

 

Di masa silam, Jabir ibn Haiyan, murid Imam Ja’far ash-Sadiq (juga pernah menjadi guru dari Imam Hanafi dan Imam Malik — Penerjemah), telah diakui dunia sebagai “Bapak Ilmu Kimia”. Pengaruhnya dalam perkembangan ilmu kimia Barat sangat besar dan berakar. Ratusan karyanya masih lestari; dan tentang dia, Sayyid Hibbat-ud-Din Syahristani Kadhemain — seorang Menteri Pendidikan Irak di era kekuasaan sebelum Saddam Husein — menulis: “Saya telah melihat 50 karya kuno Jabir ibn Haiyan yang semuanya didedikasikan untuk gurunya, Imam Ja’far.  Lebih 500 karyanya telah dicetak dan sebagian bisa didapatkan di antara literatur-literatur bernilai tinggi yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Paris dan Berlin. Di kalangan kaum  terpelajar  Eropa, Jabir  diberi  julukan  penghormatan: ‘Profesor Bijak’, dan telah diatributkan kepadanya untuk penemuan 19 unsur kimia dengan berat jenis serta sifat-sifat lainnya. Jabir mengatakan bahwa semua itu dapat dilacak pada partikel dasar sederhana  yang tersusun dari muatan  listrik dan atom  (unit materi terkecil yang tak dapat dibagi). Ini sangat mendekati teori atom modern”.

      Pencampuran atau pemaduan materi-materi berwarna, ekstraksi mineral  dan  logam,  pembuatan baja, dan  penyamakan kulit merupakan sebagian dari teknik-teknik industri yang pertama kali dipelopori oleh para ilmuwan Muslim. Misalnya saja, mereka memproduksi asam nitrat, asam  sulfur, gliserin   nitrat, asam   hidrokhlorik, kalium (potassium), aqua ammonia, sal  ammoniac, nitrat perak, khlorida sulfur, kalium nitrat, alkohol, alkali (nama “alkohol” dan “alkali” masih tetap dipertahankan dari nama Arab-nya), orpiment [trisulfida arsenik berwarna kuning. Nama arsenik diambil dari bahasa Persia “zar” = gold (emas), dengan kata sifat  “zarnî” = golden, yang kemudian di-Arab-kan dengan kata depan  “al” sehingga menjadi  “al-zernî” (dilafalkan  “azzerni”)].

       Kemudian, istilah ini  diadobsi  dalam bahasa  Yunani  menjadi   “arsenikon”  yang berarti  “jantan”, karena warna emas dianggap memiliki hubungan dengan matahari sebagai simbol kejantanan].  Satu lagi, “borax”  juga diambil dari kata Arab “bûraq”.

      Terakhir,   teknik  distilasi,  evaporasi,  sublimasi, dan penggunaan sodium, karbon, potassium  carbonate, khlorida, dan ammonium, semuanya sangat lazim digunakan pada masa kekuasaan para khalifah Abbasiah (pernah berkuasa di Spanyol — Pen).

_____________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku  “Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977) oleh Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN ).


Asal-Usil (Matematika) – (ISLAM-39)

24 Januari 2010

ISLAM-39

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

Asal – Usil

(Matematika)

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam

www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008)


Kita   akui  bahwa  Aryabhata — matematikawan  India — telah  memasukkan  bilangan  nol  dalam  sistem  perhitungan  (876  M).  Dan  kemudian  melalui  tiga  serangkai  berkebangsaan  India  pula, yakni  Brahmagupta, Mahavira,  dan  Bhaskara  lahirlah  operasi  Aritmetika  yang  mengikutsertakan  “nol”.  Tetapi, bangsa  Arab  lah  yang  mampu  mengembangkan  bilangan  nol  itu  dalam  dunia  teknologi  (engineering).

      Sebagaimana  diketahui  bahwa  bilangan  apa  pun  yang  dipangkatkan  dengan  nol  hasilnya  sama  dengan  satu.  Dan  bahwa  1 +  0 = 1  atau  n + 0 = n.  Dengan  begitu  angka  0  bernilai  pasti.  Namun  nol  bisa  memiliki  nilai  yang  tak  pasti  (tak  terhingga).  Jika  suatu  bilangan  dibagi  nol, hasilnya  “tak  terhingga”.  Atau  dengan  mengalikan  suatu  bilangan  dengan  nol, hasilnya  tidak  ada  (alias  nol).

     Gara-gara  bilangan  nol  itu  pula,  masyarakat  dunia  pernah  dibuat  bingung  dalam  menentukan  kapan  memasuki  Milenium  Ketiga, yang  terkenal  dengan  risiko  millenium   bug-nya, yang  mengancam   sistem  komputer  dan   elektronik   itu. Begitu  seriusnya   ancaman   tersebut   sehingga   selain  dilakukan   langkah   penanggulangan, juga  perencanaan     keadaan   darurat   (contingency   planning)  dan   penanggulangan       musibah   (disaster   recovery   planning).

      Atas  dasar  realitas  tersebut, pantaskah  bila  bilangan  nol  itu  dinamakan  bilangan   ghaib?  Kalau  jawabannya: “Pantas”, bukankah  berarti  bahwa  hukum  yang  berlaku  dalam  dunia  bathin   atau  ghaib  (jangan  masuk  dulu  ke  bahasan  ghaib   al-Ghaib)  bersifat  tidak  pasti?  Nah, kalau  pada  alam  ghaib   saja  sudah  bersifat  tidak  pasti, bagaimana  pula  dengan  alam  nyata  (shahadah)  atau  alam  lahir  (zhahir)?  Bukankah  dalam  alam  nyata  ini  berlaku  prinsip  relativitas  (kenisbian)  dan  ketidakpastian, sebagaimana  yang  bisa  dikuatkan  dengan  “Teori  Relativitas”-nya  Einstein  dan  “Teori  Ketidakpastian”-nya  Heisenberg?

 

***

      ADA   yang  berpendapat  bahwa  algoritma  merupakan  metode  atau  prosedur  yang  terdefinisikan  secara  baik  guna  memecahkan  suatu  masalah  (umumnya problem-problem matematika atau yang berkaitan dengan manipulasi  informasi). Sebagian pakar mengatakan bahwa prosedur-prosedur tersebut terus berproses tanpa henti.

     Jika prosedur-prosedur tersebut bergerak tanpa henti, bisakah kelak ia  menembus dunia  ghaib  (bathin) dan kemudian dirasionalisasikan atau  dieksperimentasikan?  Dengan algoritma, bisakah nantinya gradasi wujud  (tasykik  al-wujud) yang berlapis  ganda:  zhahir  (lahirdan  bathin  (batin) — seperti  yang dirumuskan oleh Mulla Shadra — dipadukan menjadi  Wahdat  al-Wujud  (Wujud yang Esa), seperti diteorikan oleh Ibnu ‘Arabi?

      Tetapi, bila algoritma  merupakan prosedur yang terdefinisikan, bukankah  “defenisi” — menurut Aristoteles — terpaut pada perhatian tentang sifat esensial dan universal dalam persoalan apa pun? (Aristoteles, Posterior  Analitics, hal. 160).  Kemudian, bukankah Plato menempatkan  “definisi” sekaligus sebagai metodologi filsafat yang dianutnya?

      Sebagian pakar berpendapat bahwa algoritma tidak saja berwujud sebagai program-program komputer, tapi ia juga bisa berwujud tindakan yang dilakukan oleh kehidupan yang tengah mencari kesempurnaan dan terus berupaya mengatasi dirinya sendiri.  Tetapi, bukankah untuk itu semua harus ada pembedaan antara esensi umum (general  essence) — yakni indikator sifat sesuatu yang ingin diketahui — dan esensi partikular (particular  essence  atau  specific  difference)?  Kemudian, secara epistemologi, logiskah bila esensi partikular dapat diketahui dengan merujuk pada sesuatu (benda) yang  lain?  Dalam kaitan ini menarik dikemukakan pertanyaan Suhrawardi (filsuf Iran — lahir 1171 M): “Bagaimana sesuatu yang tidak diketahui bisa menjadi indokator  (point  of  reference) untuk mendapatkan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak diketahui?

 

***

      JELAS, Abu Ja’far Muhammad bin Musa  al-Khawarizmi (lahir di Khiva, Provinsi Al-Khawarizmi, Irak) adalah seorang pelopor matematika modern yang telah berjasa dalam menciptakan hitungan-hitungan al-jabar, algoritma, dan geometri.  Ia pula yang mengembangkan aplikasi angka nol dalam artimatika modern.

     Juga patut dikemukakan bahwa Khawarizmi pernah memimpin suatu lembaga  riset — Darul  Hikmah  — dalam masa kekuasaan Khalifah Makmun ar-Rasyid (Dinasti Abbasiah); dan dia pun seorang pecinta mazhab  Ahlul Bait Rasulullah SAW, sehingga sangat  menghargai pluralitas (realitas plural).  Seperti yang dikatakan Fichte (1762-18140,  filosof  Jerman: Was fur eine philosophie man wahle hangt davon ab, wasfur ein Mensch man ist [jenis filsafat (keyakinan atau mazhab—Pen) yang dipilih seseorang akan menentukan jenis manusiany].

     Oleh karenanya, tidak ada seorang pun yang bebas mazhab; sebab ketika dia mengatakan “tidak bermazhab”, maka pada saat itu dia telah menobatkan dirinya sebagai penganut “mazhab yang mengharamkan mazhab”.

 

***

     ARTIKEL ini ditampilkan bukan sebagai  keterjebakan pada “pendekatan monumental” (Friedrich Nietzsche: 1844-1900) atau “pendekatan nostalgia” (Bryan S. Turner:1987) dalam membaca ritme sejarah. Disadari bahwa cara berfikir nostalgis senantiasa memiliki ciri khas: cenderung  kurang peka pada realitas di sini dan kini, bahkan juga sering kali memiliki kekaburan visi ke depan. Bagaimanapun ummat Islam tidak boleh puas dengan slogan (Jerman): “Seht, das Grosse ist schon da” (lihatlah kebesaran penuh menjulang di masa lampau).

      Kendati kita percaya ungkapan bijak (Perancis) L’histoire se repete [sejarah (pasti) berulang], tapi sepatutnya kita menempatkan sejarah seperti yang dipahami oleh Ali Syari’ati (intelektual Iran), yakni bukan sebagai kumpulan fakta yang “membisu”, tetapi harus direkonstruksi secara dinamis disesuaikan dengan tuntunan masyarakat yang tertindas (mustadh’afin—QS 28:5). Atau bisa juga disikapi seperti yang dinyatakan oleh Marthin Luther King (1959) bahwa “semua sejarah mengajarkan bagai samudera bergejolak menerpa karang menjadi bebatuan; dan ia (sejarah) merupakan gerakan tegas orang-orang yang tak henti-hentinya menuntut hak-hak mereka dan selalu memporakporandakan tatanan lama”. [**]

_______________________

“Asal-Usil” ini dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum  Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN).


Matematika – Oleh: Sayyid Mujtaba Rukni Musawi Lari (Intelektual Iran) – (ISLAM-38)

24 Januari 2010

ISLAM-38

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

(5 Desember 2009)

 

MATEMATIKA

Oleh: Sayyid Mujtaba Rukni Musawi Lari

Intelektual Iran

 

Catatan Redaksi:

Tulisan ini pernah dimuat dalam www.diskusikliping-iran.blogspot.com (2008) 

 

 

Baron Carra de Vaux, penulis bab “Astronomi dan Matematika” pada buku “The Legacy of Islam” (“Warisan Islam”), menunjukkan bahwa kata “algebra” (Indonesia: “aljabar” – Penerjemah) merupakan peng-Latin-an istilah Arab, “Al-jabr” (yang berarti “reduksi”, yakni bilangan-bilangan rumit yang dirubah atau dijabarkan menjadi bahasa sederhana dalam bentuk simbol-simbol). Sehingga, jelas bahwa dunia sangat berhutang budi kepada bangsa Arab.

     Bilangan-bilangan yang digunakan oleh bangsa Arab itu bukan sekadar nama, tetapi juga faktual atau berwujud. Sebagai misal, simbol nol yang dikenal oleh orang Hindu, mereka (orang-orang Arab) jadikan sebagai dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kata “zero”, seperti juga saudara kembarnya: ”cipher” merupakan transliterasi bahasa Arab: “sifr”.

     De Vaux menyatakan: “Dengan menggunakan bilangan nol secara bermakna (cipher), mereka (orang-orang Arab) mewujudkan aljabar sebagai ilmu pasti dan mengembangkannya secara mengesankan. Mereka telah meletakkan   dasar – dasar  geometri analitis, dan  tidak  dapat   dipungkiri   juga   trigonometri   bidang   dan    sferis (ruang). Patut pula dicatat bahwa  Al-Zarqali (di Barat  dikenal  sebagai Arzachel), yang hidup di Spanyol tahun 1029-1087 M, merupakan pencipta ilmu perbintangan. Kata ‘algorism’ (Indonesia: ‘Algoritma’ — Pen) adalah peng-Latin-an dari nama yang berkaitan dengan penemunya yang tinggal di Khiva, yakni suatu daerah di provinsi Al-Khawarizmi. [Penemu algoritme adalah Abu Ja’far Muhammad bin Musa Al-Kahwarizmi (780-850 M). Ia menulis kitab  Hisab  al-Jabr wal  Muqabala  (Aturan-aturan tentang Restorasi dan Reduksi) — Pen]. Bangsa Arab telah  mempraktikkan  kehidupan  intelektual  yang  tinggi  dan mempelajari sains ketika orang-orang Kristen di Barat sibuk berjuang untuk keluar dari perangkap kebodohan.

     Patut ditambahkan bahwa kalender Jalali yang disusun oleh Umar Khayyam (ahli matematika dan penyair Persia — Pen) merupakan kalender yang dilengkapi dengan formula penghitungan tepat perihal waktu peredaran bumi mengelilingi matahari. (Khayyam adalah salah seorang yang telah berjasa dalam mengembangkan ilmu-ilmu yang ditelorkan oleh Al-Khawarizmi — Pen).[**]

_________________________________

Tulisan ini diterjemahkan dari buku

 “Western Civilization Through Muslim Eyes” (1977) oleh

Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional  (Forum SPTN ).