NTT-Kalteng Cooperation, Mungkinkah? (DPD Watch — No. 11)

ARTIKEL-11

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

NTT-Kalteng Cooperation, Mungkinkah?

(DPD Watch — No. 11)

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meluncurkan varietas jagung unggulan nasional yang disebut Piet Kuning. Varietas ini merupakan hasil silang dari 323 jenis jagung lokal di NTT selama empat tahun berturut-turut. Jenis jagung tersebut tahan terhadap kekeringan dan bagian kelobot ujungnya tertutup sehingga sulit dimasuki ulat jagung. Satu tangkai batang bisa menghasilkan 2-3 buah yang besar (Kompas, 23 / 12 / 2006).

“Bergurulah dari pengalaman,” begitu ungkapan bijak yang sering kita dengar. Rupanya rangkaian penderitaan yang menghimpit penduduk provinsi yang kini berada pada salah satu urutan  terbawah dalam  Indeks Pembangunan  Manusia  (IPM) itu telah memberikan inspirasi tersendiri untuk melahirkan inovasi, meskipun munculnya inovasi tidak harus selalu mutlak dipicu dari kenestapaan; sebab kalau premis ini benar berarti sama saja kita melegalkan tirani struktural.

Berdasarkan fakta, kebijakan pembangunan selama 50 tahun terakhir berkontribusi besar terhadap proses pemiskinan struktural di NTT.  Selama Orde Baru, kebijakan pembangunan cenderung diseragamkan (untuk tidak menyebut dikendalikan mirip dengan sistem komando) yang membuat masyarakat mengalami degradasi keyakinan akan potensi dirinya (kehilangan kepercayaan diri)  yang  kemudian  bermuara  pada hilangnya kemampuan inovasi lokal.  Dan begitu katup penyumbat terbuka di era reformasi, NTT ternyata mampu memunculkan  inovasi-inovasi brilian, seperti penemuan jagung varietas Piet Kuning (vPK) itu.  Bahkan vPK merupakan varietas unggulan nasional kelima yang telah diluncurkan oleh NTT. Spektakuler, bukan?

Persoalannya sekarang bagaimana memberikan nilai tambah (added  value) pada komoditas tersebut agar bernilai ekonomi tinggi selain dapat menopang terwujudnya  “kedaulatan pangan” lokal (NTT).  Tentu saja, berbicara tentang nilai tambah erat kaitannya dengan muatan sains dan teknologi (science  and  technological  content), terutama teknologi pemroses pascapanen.  Ini juga kelak akan mendorong diversifikasi produk olahan jagung dan juga pembentukan citra produk yang dihasilkan (product  and  brand  image  building).

Karena bagaimanapun budidaya jagung masih terikat oleh siklus musim, maka untuk membudidayakannya secara besar-besaran harus ada perhitungan matang, berapa jumlah jagung yang harus menjadi kebutuhan pangan masyarakat setempat, berapa yang harus dijual ke luar daerah  atau diekspor, dan  berapa  yang dibutuhkan untuk mendukung proses produksi lanjut (pascapanen) yang akan dipasok ke pabrik-pabrik pengolahan (processing  industries).

Belajar dari pengalaman yang dialami sendiri oleh masyarakat NTT — seperti disinggung di atas — maka Pemda dan masyarakat NTT jangan lagi terjebak pada kesalahan yang sama, yakni masuk pada pilihan kebijakan penyeragaman (homogenize  policy), yang dalam hal ini adalah penyeragaman pembubidayaan komoditas jagung.

Pada kesempatan ini  Forum SPTN tidak akan merinci secara akademis — baik dari perspektif sains, teknologi, ekonomi bisnis, dan ekonomi politik — tentang kemungkinan negatif yang akan ditimbulkan dari pilihan  homogenize  policy itu.  Cukup kiranya  Forum SPTN kutibkan satu adagium untuk bahan refleksi: “Don’t  put  all  of  your  eggs  in  one  basket” (jangan   simpan  telur-telur  Anda  dalam satu keranjang).  Dengan begitu — untuk memperkecil kemungkinan timbulnya risiko — bisa saja pembudidayaan jagung NTT juga layak dipertimbangkan untuk dikerjasamakan dengan provinsi (pihak) lain; dan bahkan provinsi (atau investor) yang menjadi mitra NTT bisa didorong untuk membayar pemakaian hak paten varietas-varietas jagung unggulan NTT atau dicarikan format kerjasama lain yang paling tepat dan menguntungkan kedua belah pihak.

Tapi yang juga tidak kalah pentingnya adalah mengoptimalkan pemanfaatan dana-dana bantuan  — untuk pemberdayaan masyarakat — yang masuk ke NTT, yang menurut data selama tahun 2006 saja mencapai Rp 119,81 miliar (Kompas, 26 / 12 / 2006). Masyarakat juga patut mengetahui berapa persenkah dari dana-dana tersebut yang digunakan untuk menanam jagung, dan sejauhmana pemanfaatan varietas-varietas jagung unggul NTT itu dalam memberikan kontribusi mengatasi kemiskinan masyarakat.

***

KEBETULAN  sekali Provinsi Kalimantan Tengah menawarkan lahan seluas 150.000 hektar — kepada para investor — untuk ditanami jagung, ubi kayu, kelapa sawit, dan tebu. Dan menurut Gubernur Kalteng, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut dari instruksi presiden tentang penyediaan dan pemanfaatan bahan baku nabati sebagai energi alternatif (renewable  energy / RE) — Kompas, 23 / 12 / 2006.

Karena budidaya jagung yang ditawarkan oleh Pemda  Kalteng itu lebih ditujukan  untuk memasok kebutuhan produksi RE, maka  Forum SPTN menyarankan agar Pemda NTT sebaiknya cukup menyewakan pemakaian hak paten varietas jagung unggulan yang peringkat kualitasnya paling rendah dalam deretan lima varietas yang kini dimiliki NTT; atau mencari bentuk-bentuk kerjasama lain yang saling menguntungkan (mutual  benefit).

***

Nah, sekarang bagaimana pandangan anggota DPD-RI asal daerah pemilihan Provinsi NTT dan Provinsi Kalteng setelah melihat realitas potensial seperti itu.  Bisakah mereka mentransformasikan energi potensial yang terkandung di dua daerah itu menjadi energi kinetis pemberdayaan untuk kemudian disintesakan menjadi energi mekanis (pemberdayaan) yang akan bermuara pada terwujudnya energi dinamis masyarakat.  Dan tentu saja masyarakat di dua provinsi tersebut akan memberi acungan jempol bila anggota-anggota DPD yang telah mereka pilih dan amanati berani dan mampu melakukan terobosan spektakuler. Bukankah itu juga merupakan bagian dari strategi penguatan (capacity  building) DPD? [**]

_______________

Artikel  DPD Watch No. 11 dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator  Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional /Forum SPTN (merangkap peneliti teknologi mesin industri pada forum yang sama).

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus Digital No. 4 / Tahun  Ke-1,  27 Desember 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: