Mengintip Kelamin DPD RI (DPD Watch — No. 1)

ARTIKEL-1

www.jurnalparlemenonline.wordpress.com

Mengintip Kelamin DPD RI

(DPD Watch — No. 1)

Wakil Ketua DPR Zaenal Ma’arif dengan terus terang mengatakan, ia merasa tidak mengerti “kelamin” DPD itu. “Kalau (DPD RI — Redaksi) hanya begini-begini saja, sayang sekelas Pak Ginandjar (Ketua DPD) dan Pak La Ode (Wakil Ketua DPD). Kalau tak ada langkah-langkah untuk membenahi dari DPR dan pimpinan partai-partai politik, kita akan dosa besar,” tambahnya (Kompas, 20 / 12 / 2006).

***

DALAM biologi, ketidakjelasan kelamin itu hanya didapati pada binatang hermaphrodite, yang menurut The Advanced Learner’s Dictionary of Current English didefinisikan sebagai animal or other creature which has both male and sexual organs (binatang atau makhluk lain yang memiliki alat kelamin jantan dan betina).

DPD tak perlu risau dengan pernyataan tersebut, sebab akan lebih mencengangkan bila ada makhluk menganggap diri berjenis kelamin jelas tapi kurang mampu menjalankan fungsi kelamin dengan semestinya. Dalam refleksinya, pakar komunikasi UI Effendi Gazali menyatakan, DPR banyak bersandiwara karena di tingkat makro berteriak prorakyat, sedangkan di tataran mikro, implementasinya justru sebaliknya. DPR juga tidak jelas posisi (kelamin — Redaksi) politiknya, seperti bagian dari eksekutif (Kompas, 23 / 12 / 2006). Bahkan, berdasarkan kesimpulan diskusi Evaluasi Kinerja Parlemen 2006, kinerja DPR sepanjang tahun 2006 masih mengecewakan, dan itu terkait erat dengan kualitas anggotanya (Kompas, 22 / 12 / 2006).

DPD juga masih bisa lega karena urat malunya belum putus dan masih normal terhubung dengan susunan syaraf pusat. Masih bersyukur DPD tidak rewel menuntut kenaikan uang reses saat rakyat kelaparan dan tidak minta ramai-ramai melakukan studi banding ke luar negeri, seperti yang dilakukan oleh saudara tuanya (DPR). Karenanya, DPD perlu memprioritaskan pemberdayaan diri dari dalam, mengoptimalkan pelaksanaan kewajiban-kewajiban konstitusionalnya (yang memang masih sangat terkebiri) seraya menunjukkan prestasi konkret; dan ini lebih bermartabat dibanding mengemis kepada DPR (MPR) untuk menuntut perluasan kewenangannya. Bagaimana mungkin DPD mengharapkan uluran tangan DPR, sementara hingga memasuki tahun ketiga masa jabatannya, wakil rakyat yang duduk di DPR itu dinilai oleh banyak kalangan makin jauh meninggalkan kepentingan rakyat, selain memburuknya kinerja dan moralitas mereka? (Kompas, 18 / 12 / 2006).

Sementara itu, mengharapkan pemberdayaan DPD dari inisiatif pimpinan partai-partai politik — sebagaimana harapan Zaenal Ma’arif di depan — juga tak kalah risihnya. “Partai politik masih menjadi instrumen paling efektif untuk menjadi perisai bagi para koruptor; adanya beking politik membuat penanganan perkara korupsi bagi satu tersangka berbeda dengan tersangka lainnya,” demikian pendapat Direktur Indonesia Court Monitoring Denny Indrayana (Kompas, 18 / 12 / 2006).

Hal lain yang tak kalah pentingnya, setiap anggota DPD perlu terus mempertebal rasa percaya diri (self confidence), sebab bisa jadi jarangnya DPR mengundang DPD untuk melakukan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tertentu merupakan bagian dari politik pendegradasian peran DPD, sekaligus untuk menciutkan rasa percaya diri para anggotanya. Kalau sudah demikian, bukankah lebih baik DPD memperkuat soliditas dengan konstituennya di daerah, sebab kita yakin para konstituen (rakyat) tersebut memiliki cara tersendiri untuk mendesakkan aspirasi politik kebangsaan yang lebih fair dan bermartabat. Persoalannya kemudian, apa konsep dan grand-strategy DPD untuk memperkuat soliditas tersebut. [**]

_______________

Artikel DPD Watch No. 1 dikerjakan oleh Aba Zul (La Ode Zulfikar Toresano), Koordinator Umum Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional /Forum SPTN (merangkap peneliti teknologi mesin industri pada forum yang sama).

Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal DPD Plus Digital No. 4 / Tahun Ke-1, 27 Desember 2006.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: